LINI MASA DALAM SECARIK KERTAS - lorongarkeologi.id
15630
post-template-default,single,single-post,postid-15630,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

LINI MASA DALAM SECARIK KERTAS

 

Desain Poster Kolase oleh Kano Ageng A. P.

Lini masa, sebuah kata yang masih jarang diketahui beberapa orang kecuali pengguna media sosial, kata timeline mungkin lebih familiar. Merupakan gambaran peristiwa penting  yang biasanya ditampilkan dalam urutan waktu. Disajikan dalam bentuk visual yang runtut pada sebuah halaman web. Jika diperhatikan lini masa seakan menjadi hal yang baru tetapi ternyata sudah ada sejak lama bahkan tertuang dalam secarik kertas yang biasa menempel pada sepucuk surat. Media cetak yang terancam punah karena tergeser teknologi digital. Dapat bertahan lewat komunitas filatelis. Prangko, benda filateli yang secara implisit menyajikan gambaran peristiwa penting dalam urutan waktu. Contoh konkretnya adalah pada masa awal kemunculan unsur-unsur budaya Tionghoa pada desain seri prangko di Indonesia.

 

 

Budaya Tionghoa Dalam Prangko

Tahun 2002 Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967 yang melarang perayaan Imlek di depan umum dan diresmikannya Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional oleh  Presiden Megawati Soekarnoputri yang berlaku sejak 2003 (Wirawan, 2014), menjadi tanda kebebasan berekspresi etnis Tionghoa di Indonesia. Setelah itu karena banyaknya permintaan dari berbagai pihak terkait prangko, sebagai pelopor prangko bertema budaya Tionghoa, Direktorat Jendral Penyelanggara Pos dan Informatika menerbitkan prangko seri 600 Tahun Pelayaran Laksamana Zheng He (Zeng Ho) pada tanggal 28 Juni 2005 (Mahpudi, 2014).

 

Carik Kenangan seri 600 Tahun Pelayaran Laksamana Zheng He
Sumber: Katalog Prangko Indonesia 2013 (Periode 1949-2012)

 

Setelahnya diterbitkan prangko seri 12 Lambang Shio pada tanggal 14 Februari 2007, seri yang memiliki Carik Kenangan yang unik berbentuk oktagon atau segi delapan. Carik kenangan atau Souvenir Sheet merupakan benda filateli yang memiliki unsur-unsur desain yang lebih rumit dibanding prangko biasa. Carik kenangan merupakan secarik kertas yang didalamnya terdapat prangko, sehingga perforasi biasanya memotong bagian dari ilustrasi pada bidangnya. Desain pada carik kenangan inilah yang biasanya mampu menyampaikan pesan atau informasi lebih baik.

 

Carik Kenangan seri 12 Lambang Shio (Sumber: Koleksi Nashrul Jihadan (PFI Yogyakarta))

 

Miniature Sheet Seri 12 Lambang Shio (sumber: Katalog Prangko Indonesia 2013 Periode 1949-2012)

 

Terbitnya prangko seri 12 Lambang Shio ini menjadi awal mula dibuatnya seri prangko yang memuat lambang-lambang shio untuk memperingati Tahun Baru Imlek. Tiap tahun diterbitkan satu lambang shio sesuai perhitungan kalender Imlek. Tahun 2008 diterbitkan prangko seri Tahun Tikus (2559) dengan carik kenangan yang memuat ilustrasi sepasang tikus yang didesain menyerupai bentuk Yin dan Yang dengan gaya visual seni potong kertas Tiongkok. Tahun 2009 diterbitkan prangko seri Tahun Kerbau (2560) dengan carik kenangan yang menampilkan ilustrasi delapan ekor kerbau, gaya visualnya menyerupai seni lukis khas Tiongkok. Tahun 2010 diterbitkan prangko seri Tahun Macan (2561) dengan carik kenangan yang desainnya menampilkan ilustrasi harimau dan gunungan wayang kulit dari Jawa. Tahun 2011 diterbitkan prangko seri Tahun Kelinci (2562) dengan carik kenangan yang memuat ilustrasi kelinci dan gerbang Pura Bali. Tahun 2012 diterbitkan prangko seri Tahun Naga (2563) dengan carik kenangan yang desainnya didominasi budaya Tionghoa. Tahun 2013 diterbitkan prangko seri Tahun Ular (2564) dengan carik kenangan yang menampilkan ilustrasi dua ekor ular mitologi Jawa. Tahun 2014 diterbitkan prangko seri Tahun Kuda (2565) dengan carik kenangan yang menampilkan ilustrasi sembilan ekor kuda. Tahun 2015 diterbitkan prangko seri Tahun Kambing (2566) dengan carik kenangan yang menampilkan ilustrasi domba garut. Tahun 2016 diterbitkan prangko seri Tahun Monyet (2567) dengan carik kenangan yang menampilkan ilustrasi Anoman. Tahun 2017 diterbitkan seri Tahun Ayam (2568) dengan carik kenangan yang menampilkan lukisan sepasang ayam jantan dan betina serta ketiga anaknya. Tahun 2018 diterbitkan prangko seri Tahun Anjing (2569) dengan carik kenangan berbentuk segi delapan memuat ilustrasi anjing kintamani dari Bali.

 

Carik Kenangan Seri Lambang-Lambang Shio dari Tahun 2008 s.d. 2018 (Sumber: Katalog Prangko Indonesia 2013 (Periode 1949-2012), Koleksi Nashrul Jihadan (PFI), Koleksi KanoAgeng Arnawa Putra, Buletin Filateli)

 

 

Akulturasi Budaya pada Carik Kenangan

Melihat desain pada carik kenangan seri lambang-lambang shio atau zodiak Tiongkok terdapat proses dimana bangsa Indonesia belajar kebudayaan. Kebudayaan adalah seluruh sistem yang mencakup gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kegiatan bermasyarakat dan dijadikan miliknya dengan belajar (Koentjaraningrat, 2003). Kebudayaan yang saling bersinggungan terjadi karena suatu masyarakat hidup berdampingan dengan masyarakat-masyarakat lainnya, dan lambat laun saling menyatu melalui unsur-unsur kebudayaan yang disebut Akulturasi (Soekanto, 2014). Akulturasi yang terbentuk melalui kompromi secara visual. Kompromi merupakan bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai penyelesaian terhadap perselisihan yang ada, dapat tercapai jika salah satu pihak mau merasakan dan memahami keadaan pihak lainnya begitu juga sebaliknya (Soekanto, 2014).

Pada awal terbitnya prangko dengan seri lambang-lambang shio, carik kenangan seri Tahun Tikus menunjukan desain dengan ilustrasi yang sepenuhnya bertema budaya Tionghoa. Baru kemudian dimulai dari seri Tahun Macan, ilustrasi pada desain carik kenangan menggunakan akulturasi. Akulturasi yang ada pada desain merupakan kombinasi antara konsep dan teori budaya Tionghoa dengan tampilan visual budaya Jawa, Sunda, dan Bali (Putra, 2017). Skripsi yang berjudul “Kajian Visual Carik Kenangan Prangko Indonesia Seri Imlek Tahun 2008-2016 ditulis oleh Kano dari Desain Komunikasi Visual, FSR, ISI Yogyakarta, memilih dua sampel objek kajian, carik kenangan seri Tahun Ular dan seri Tahun Monyet. Di sini Carik kenangan seri Tahun Ular yang cukup banyak ketidaksesuaian antara visualisasi dan konsep budayanya.

 

Carik Kenangan Seri Tahun Ular (Sumber: Buletin Filateli Komunitas Kolektor Prangko Indonesia volume 3)

 

Dijelaskan bahwa secara mitis atau mitos, desain carik kenangan seri Tahun Ular memuat ilustrasi Sang Hyang Antaboga pada saat menjalankan tugasnya. Secara ontologis yang berfokus pada definisi dan teori pada carik kenangan (Peursen, 2017), menunjukan dominasi warna coklat merah. Merah sendiri merupakan warna yang masuk dalam kelompok warna hangat dan berasosiasi pada api (Sanyoto, 2010). Namun dalam astrologi Tiongkok tahun 2013 atau 2564 merupakan tahun dengan elemen air, padahal menurut Kasidi, guru besar Seni Pedalangan, FSP, ISI Yogyakarta, Sang Hyang Antaboga atau Anantaboga ini adalah dewanya Bumi, wilayahnya adalah daratan bukan air. Secara fungsional desain carik kenangan Tahun Ular memiliki ketidaksesuaian antara visualisasi dengan budaya Jawa dan konsep budaya Tionghoa. Menurut Sanny, Ketua Asosiasi Pendidik dan Pengembang Bahasa Mandarin Indonesia DPD DIY, ketika menggunakan hewan mistik yang harus dilihat bukan hanya fisik tetapi juga sifatnya. Sosok Naga Jawa ini lebih tepat jika menggantikan visualisasi Tahun Naga karena secara sifat dan fisik mirip.

 

Carik Kenangan Seri Tahun Monyet (Sumber: filateli.co.id)

 

Berbeda dengan carik kenangan Tahun Ular, desain pada carik kenangan Tahun Monyet secara mitis atau mitos memuat ilustrasi tokoh Anoman yang memiliki latar belakang yang hampir sama dengan karakter raja kera Sun Wùkong/ Sun Go Kong dalam novel klasik Tiongkok “Perjalanan ke Firdaus di Barat” yang ditulis oleh Wu Ch’eng-en masa dinasti Tang di abad ke-7 (Bailey, 2009). Secara ontologis pada dominasi warna, desain carik kenangan memiliki warna merah yang berasosiasi pada elemen tahun 2016 atau 2567 yaitu api (Sanyoto, 2010). Secara fungsional memiliki kesesuaian antara visualisasi dengan budaya Jawa dan konsep budaya Tionghoa. Dari kedua carik kenangan seri simbol-simbol shio terlihat adanya proses belajar kebudayaan dalam hal ini pihak Pos sebagai perancang desain prangko, di tahun 2013 terdapat beberapa ketidaksesuaian pada seri Tahun Ular hingga di tahun 2016 seri Tahun Monyet menjadi lebih baik secara visual dan konsep budayanya. Kedua desain carik kenangan menunjukan kompromi secara visual lewat aspek dominasi. Terdapat keadaan di mana unsur desain dan konsep budaya pada carik kenangan yang saling mengurangi dominasinya sehingga yang lain menjadi dominan. Menjadi contoh bahwa kebinekaan harus dinyatakan dengan saling mengurangi tuntutan masing-masing dan rmau memahami keadaan pihak lain. Dapat dimulai dari hal yang kecil kemudian dihayati sehingga memberikan efek yang besar.

 

Arti Penting Secarik Prangko

Prangko memiliki fungsi dasar sebagai tanda pembayaran biaya pos. Namun dalam perkembangannya khususnya pada desainnya, prangko memiliki fungsi sebagai perekam sejarah. Menurut Nashrul Jihadan, Ketua Pelaksana Harian Perkumpulan Filatelis Indonesia D.I.Y, misalkan kita tidak bisa lagi melihat sejarah melalui media masa atau media masa itu hilang maka yang dapat dilihat atau rekaman sejarah itu ada dua, dari benda filateli dan uang. Nashrul juga mengatakan bahwa benda filateli khususnya prangko memiliki fungsi sebagai ambassador of country. Mewakili suatu negara sebagai identitas. Membawa nama baik suatu negara dihadapan negara-negara lain. Terlihat betapa penting adanya prangko sebagai benda filateli. Untuk memenuhi fungsinya sebagai perekam sejarah dan identitas negara tentu desain yang dibuat diharapkan mudah dimengerti secara internasional. Namun jika dirasa sulit untuk memenuhi itu, di sinilah peran para filatelis sebagai penghubung kepada yang awam tentang benda filateli.

Memang semua ciptaan manusia tidak ada yang sempurna tapi bisa menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu. Untuk menjadi lebih baik di sinilah peran seorang pengkaji atau peneliti desain untuk mengkritisi sebuah karya desain. Karya desain yang baik selalu mampu menyampaikan pesan atau informasi secara visual kepada tiap individu sehingga mampu memberi pengaruh dalam bentuk perubahan sikap. Perubahan sikap di sini jika kaitannya dengan keberagaman yang tertuang pada selembar prangko, individu yang melihat menjadi terbuka wawasannya sehingga mampu bersikap toleran dalam menyikapi perbedaan di Indonesia.

Dalam prangko tema budaya Tionghoa ini secara implisit menunjukan adanya lini masa dari perubahan besar suatu negara. Pemerintah pada masa orde baru seakan anti budaya Tionghoa perlahan tapi pasti melalui pemimpin yang baru menjadi lebih cerdas yang menerima budaya tersebut sebagai bagian penting dari keberagaman di Indonesia. Perubahan yang tidak mudah dilakukan tetapi pasti dapat dilakukan. Dimulai dari benda kecil, jika memiliki makna mendalam maka akan memberikan pengaruh yang besar. Ketika desain dapat bercerita melalui visual, filatelis mampu menjadi jembatan pada yang awam dengan baik, niscaya persatuan dalam kebhinekaan Indonesia akan tercapai melalui lini masa dalam secarik kertas.

Kano Ageng Arnawa Putra

 

Acuan:

Bailey, Alison, dkk., 2009, China: A Portrait of The People, Place, and Culture atau China: Sebuah Potret Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan, terjemahan Damaring Tyas Wulandari, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Koentjaraningrat, 2003, Pengantar Antropologi 1, Jakarta: Rineka Cipta.

Mahpudi, 2014, 150 Tahun Prangko di Indonesia Jilid 2, Bandung: PT Pos Indonesia.

Peursen, C. A. Van, 2017, Strategie van de Cultuur atau Strategi Kebudayaan (edisi kedua), terjemahan Dick Hartoko, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Putra, Kano Ageng Arnawa, 2017, “Kajian Visual Carik Kenangan Prangko Indonesia Seri Imlek Tahun 2008-2016”, Skripsi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Tidak diterbitkan.

Sanyoto, Sadjiman Ebdi, 2010, Nirmana Elemen-elemen Seni dan Desain, Yogyakarta: Jalasutra.

Soekanto, Soerjono & & Budi Sulistyowati, 2014, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers.

Wijaya, Avie, 2012, Katalog Prangko Indonesia 2013 (Periode 1949-2012), Surabaya: PT Saros Kaprindo.

Wirawan, S., 2014, Seni Budaya & Warisan Indonesia Seri 6 Agama dan Kepercayaan, Jakarta: PT Aku Bisa.

 

Sumber Internet:

Buletin Filateli, Komunitas Kolektor Prangko Indonesia, http://kppi.us/ diakses tanggal 5 Februari 2018, pukul 11.00 WIB.

Filateli Pos Indonesia, http://filateli.co.id/home/index.php?route=product/category&path=59 diakses tanggal 5 Februari 2018, pukul 17.20 WIB.

 

 

4 Comments
  • Khairu_rahmah
    Posted at 00:21h, 17 April Reply

    Apakah saya bisa mendapatkan kontak mas kano?
    Kebetulan saya mahasiswa dkv yang ingin mengambil skripsi mengani prangko, saya ingin menanyakan beberapa hal mengenai skripsinya mas kano

    • lorongarkeologi admin
      Posted at 15:11h, 17 April Reply

      Bisa mbak khairu rahmah, lewat direct message ig @kanoputra, apa saja yang anda ingin ketahui mengenai skripsi mas kano, akan kami bantu. Terima kasih sudah berkunjung di website lorong arkeologi.

  • Khairu_rahmah
    Posted at 10:40h, 17 April Reply

    Oh terimakasih banyak infonya

Post A Comment