MENGULIK SITUS SUNAN BONANG - lorongarkeologi.id
15744
post-template-default,single,single-post,postid-15744,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

MENGULIK SITUS SUNAN BONANG

Setelah melewati kota Lasem yang sepi, pandangan tertuju pada pajangan ikan-ikan kering, terasi dan dodol yang dijajakan di kiri kanan jalan raya. Inilah petunjuk lokasi Bonang, sebuah tempat kuna bersejarah dan berlegenda yang terbungkus satu menjadi misteri. Letaknya 127 km di sebelah timur Semarang, Jawa Tengah, di daerah pantai utara Jawa yang sarat dengan muatan peradaban Islam selama berabad-abad lamanya.

Kunjungan tim Balai Arkeologi Yogyakarta  ke Bonang pada tahun 1998 itu merupakan bagian dari tahap mengumpulkan data untuk mengkaji Bonang sebagai situs permukiman lama. Nama Bonang dihubungkan dengan Sunan Bonang, salah satu wali songo yang kisah hidup sampai meninggalnya sarat dengan dongeng dan legenda.

“Di desa ini Sunan Bonang tinggal sejak umur 8 tahun hingga meninggal dunia usia 64 tahun. Selama hidupnya mengabdikan diri pada penyiaran agama Islam di daerah pantai utara”, kata Abdul Wahid bin Khusyeri (50), juru kunci sambil menunjukkan situs- situs Sunan Bonang pernah melakukan berbagai aktivitas keagamaan dan kesehariannya.

Bonang zaman ini memang nama sebuah desa di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, berpenduduk sekitar 1.300 orang (tahun 1998) yang seluruhnya beragama Islam. Identitas desa itu menyandang nama Bonang karena adanya peninggalan-peninggalan Sunan Bonang: pasujudan, rumah tinggal sekaligus pesarean serta masjid yang diklaim masyarakat dibangun oleh wali suci itu. Warisan budaya lainnya dari desa itu adalah padatnya sebaran sumur-sumur kuna yang masih digunakan penduduk sekarang.

Di luar itu, Bonang tidak berbeda dengan desa-desa lainnya di daerah pantai utara Jawa Tengah yang dilindungi Gunung Lasem di bagian belakangnya. Desa yang penduduknya hidup sebagai nelayan, petani dan sebagian wiraswasta. Kehidupan ekonomi bersandar pada hasil laut, tambak, serta lahan pertanian padi, jagung, ketela pohon, kacang tanah dan perkebunan kelapa di pekarangan rumah. Yang menjadi nilai tambah dari Desa Bonang adalah sebagai sentra produksi terasi dan dodol sirsak.

 

Pantai Bonang-Binangun di Lasem

Pantai Bonang-Binangun di Lasem (dok: Nurhadi Rangkuti)

 

Punya tiga makam

Situs Pasujudan Sunan Bonang terletak di atas bukit dekat pantai Binangun. Sebuah batu besar yang terdapat di situ dianggap tempat sholat Sunan Bonang. Sebuah batu lainnya terpahat telapak kaki kanan manusia. “Itu bekas telapak kaki Sunan Bonang, akibat tirakat dengan cara berdiri di atas sebelah kaki”, kata juru kunci.

 

Gapura masuk Pasujudan Sunan Bonang

Gapura masuk Pasujudan Sunan Bonang (dok: Puslitarkenas)

 

“Semula tempat ini bernama Alas Kemuning, setelah dipilih Sunan Bonang sebagai tempat ibadah, maka akhirnya disebut Pasujudan Bonang”. Juru kunci itu lalu menunjukkan sebuah pohon tua yang berdiri ringkih di tepi jalan raya di tepi Binangun. Sebuah pohon anjir yang terdapat di situ dipercaya penduduk sebagai batas dan sekaligus tanda wilayah yang didiami Sunan Bonang.

Di situs pasujudan terdapat makam yang disebut penduduk makam puteri Campa.  Umpak-umpak bangunan serambi yang ada disitu dibuat dari tulang belakang ikan besar, konon hasil pancing Sunan Bonang. Tiang pancingnya  dibuat dari cabang pohon kayu anjir itu.

Dari tempat yang bernama Alas Kemuning, kemudian Sunan Bonang mendirikan tempat tinggal dan masjid di bawahnya, tepatnya di Desa Bonang sekarang.  Masjid Bonang berdiri di tengah-tengah permukiman desa, pada lahan yang lebih tinggi. Masjid ini telah dipugar tahun 1976, membiarkan sisa-sisanya yang asli pada bagian mihrab, dan kaca-kaca di bagian menaranya. Di belakang masjid terdapat kompleks makam imam masjid, yang tidak lagi dikenal nama dan zamannya.

Pesarean atau tempat pemakaman terletak di tengah-tengah pemukiman desa, dikelilingi pagar tembok tebal. Situs ini konon menjadi tempat tinggal Sunan Bonang sampai beliau meninggal dan dimakamkan di situ pula. Di sebelah timurnya terdapat parit yang bermuara ke laut, disebut Kali Bancaran yang kini disebut Kali Bonang III.

“Parit ini dulu digali oleh murid-murid Sunan Bonang yang berasal dari Madura. Mereka ingin mengambil jenasah Sunan Bonang untuk dimakamkan di Madura karena cintanya kepada gurunya”, seorang santri muda yang kebetulan   ziarah menjelaskan. Konon ketika Sunan Bonang meninggal, jenasahnya diperebutkan oleh santri-santrinya. Para santri dari Madura menggali parit dari tepi laut sampai ke makam Sunan Bonang, dan dengan perahu mereka masuk dan membawa jenasah untuk kemudian dibawa dengan kapal laut ke Madura. Dalam perjalanan kapal terdampar di Tuban. Murid-murid Sunan Bonang yang berada di Tuban mengambil jenasah lalu dimakamkan di Tuban.  Sampai sekarang para pemerhati sejarah walisongo atau wisatawan wisata ziarah banyak yang mengetahui bahwa ada tiga lokasi makam Sunan Bonang, yaitu di Bonang, Tuban dan Madura.

“Jenazah Sunan Bonang dimakamkan di pesarean ini”, kata juru kunci sambil menunjuk sekumpulan pohon telasih  di halaman keempat pesarean bagian dalam. Tempat itu sengaja tidak diberi cungkup atau tanda lainnya. Selain untuk menyimpan rahasia lokasi kubur sebenarnya, juga konon atas wasiat Sunan Bonang sendiri yang ingin mengikuti  jejak Sunan Ngampel. Agar tak ada orang yang mengkultuskan makamnya. Juru kunci itu seperti memberi legitimasi tentang makam Sunan Bonang sesungguhnya terdapat di Desa Bonang. “Jenazah yang dibawa santri-santri Sunan Bonang dari Madura, itu bukan jenazah Sunan Bonang. Jenazah yang asli tetap terkubur di tempat ini”.

 

Imam pertama Masjid Demak

Tak pelak, Dr. H.J. De Graaf dan Dr. Th. G. Th. Pigeaud (1985) pernah menelusuri riwayat hidup Sunan Bonang lewat sejarah, legenda dan tutur rakyat yang masih hidup. Babad dan kitab-kitab kuno seperti Sadjarah Dalem, kitab yang berisi silsilah raja-raja Mataram – Surakarta; Hikayat Hasanuddin dan Sadjarah Banten dari kerajaan Banten; Babad Kadhiri, serta Babad Meinsma atau yang dikenal dengan nama Babad Tanah Jawi, bila dirangkum dapat menguatkan kiprah Sunan Bonang dalam menyiarkan agama Islam.

Sunan Bonang yang semula bernama Pangeran Makdum Ibrahim adalah putra Sunan Ngampel Denta dari Surabaya, wali tertua di Jawa. Ia disebut juga Sunan Wadat Anyakrawati, semasa kecil diasuh oleh ayahnya di Ngampel Denta, Surabaya. Selain Sunan Bonang, ayahnya juga mengasuh Raden Paku (kelak bernama Sunan Giri), seorang anak yang ditemukan oleh saudagar perahu Nyai Gede Pinatih dari Gresik. Anak itu ditemukan dalam peti dan terdampar di laut. Oleh Nyai Gede Pinatih, Raden Paku disuruh berguru pada Sunan Ngampel Denta bersama Santri Bonang. Raden Paku dan Santri Bonang lalu pergi ke Malaka dan menjadi murid Wali Lanang (yang sebenarnya adalah ayah kandung Raden Paku). Wali Lanang memberi tugas-tugas berbeda tetapi senada kepada kedua muridnya; Santri Bonang  harus menyebarkan agama Islam di pesisir Jawa Timur, dan Raden Paku harus menetap di Giri.

Sunan Ngampel Denta memerintahkan Raden Patah membuka hutan Bintara di Demak dan ikut membangun Masjid Demak. Masjid ini mempunyai angka tahun Jawa 1399 atau 1477 Masehi dan tahun Jawa 1428 atau 1506 Masehi. Sunan Ngampel denta kemudian menurunkan dinasti para imam Masjid Demak.

Sunan Bonang diangkat sebagai imam pertama Masjid Demak pada tahun antara sesudah  1490 sampai 1506 Masehi. Dalam Hikayat Hasanuddin, putera Sunan Ngampel ini telah dipanggil oleh “Pangeran Ratu” di Demak untuk memangku jabatan itu. Selang beberapa lama ia telah meletakan jabatan itu,  untuk pergi mula- mula ke Karang Kemuning, kemudian ke Bonang, dan akhirnya ke Tuban; di tempat itu ia meninggal.

Buku Sadjarah Dalem menyusun urutan tempat kediaman Sunan Bonang semula tinggal di Surabaya, kemudian Karang Kemuning, Tuban dan Ngampel Denta, lalu dipanggil oleh Raja Demak untuk memangku jabatan imam. Nama Sunan Wadat yang disandangnya menurut cerita adalah karena ia hidup membujang atau setidak-tidaknya tidak meninggalkan anak.

Babad Kadhiri menceritakan gagalnya usaha Sunan Bonang untuk mengislamkan Kediri. Dalam melakukan serangan terhadap “kaum jahilliyah” dan melancarkan dakwah Islam, Sunan Bonang berpangkalan di Singkal, suatu tempat di tepi Sungai Brantas. Sisa-sisa masjid di Singkal yang ditemukan Belanda pada tahun 1687, menguatkan kisah dari kitab tersebut.

Nama Karang Kemuning yang disebut dalam kitab-kitab kuna itu boleh jadi sama dengan Alas Kemuning, sebuah nama sebelum Pasujudan Bonang. Menurut Pigeaud, Sunan Bonang pernah memindahkan makam Putri Darawati, maktuanya, dari Citra Wulan ke Karang Kemuning di Bonang pada tahun Jawa 1370 atau 1448 Masehi.  Di Pasujudan Bonang memang terdapat makam yang dipercaya penduduk sebagai makam Putri Campa.

Kiprahnya dalam penyiaran agama Islam di pantai utara Jawa inilah yang membuat nama Sunan Bonang menjadi legenda dan dongeng masyarakat Islam di pesisir. Banyak lokasi yang dipercaya sebagai tempat tinggal, tempat ibadah, tempat mengajar dan tempat peristirahatan terakhir beliau. Desa Bonang memiliki semua kisah tersebut.

 

Pelabuhan dan sumur

Adalah Bi Nang Un, seorang saudagar Campa merapatkan perahu-perahu jungnya di Teluk Regol. Teluk itu merupakan pelabuhan yang sangat ramai dan sibuk. Peristiwa yang terjadi tahun tahun 1335 Saka atau 1413 Masehi itu tercatat dalam Kitab Badrasanti, yang ditulis oleh Kamzah, seorang bangsawan Lasem pada tahun 1825. Teluk Regol pun akhirnya disebut Teluk Binangun.

 

Arca wanita Campa ditemukan penduduk di Lasem tahun 1997

Arca wanita Campa ditemukan penduduk di Lasem tahun 1997 (dok: Nurhadi Rangkuti)

 

Kitab yang juga disebut Babad Lasem itu telah memberi gambaran bahwa pantai Bonang-Binangun pada masa akhir Majapahit adalah pelabuhan yang ramai dikunjungi kaum saudagar. Pantai di daerah Lasem tersebut memang pada masa Majapahit bagian dari negara vatsal Majapahit dibawah pemerintahan Bhre Lasem yang bernama Dewi Indu memerintah tahun 1273 Saka atau 1351 Masehi (Satari, 1983).

Kitab ini menceritakan perpindahan keraton dari Kriyan ke Bonang-Binangun dan akhirnya dipindahkan lagi ke Colegawan. Rajasawardhana atau Bhre Matahun, suami Dewi Indu menguasai jung- jung perang di Teluk Regol.  Adalah Pangeran Wirabraja yang memindahkan keraton dari Kriyan ke Bonang-Binangun pada tahun 1391 Saka atau 1469 Masehi. Putranya, Wiranegara, menjadi Adipati Binangun sampai tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi. Perpindahan keraton dari Kriyan ke Bonang- Binangun ini bersamaan dengan berkembangnya pengaruh agama Islam dan berkembangnya perdagangan di sepanjang pesisir utara. Banyak pedagang dari Tuban, Gresik dan Ngampel berlabuh di pelabuhan Binangun. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila Bonang menjadi permukiman yang cukup padat dan ramai.

Kenyataannya memang ditemukan  145 sumur kuno di Desa Bonang, berbentuk persegi dan bulat dari bata dalam penelitian arkeologi yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Temuan sumur kuna ini menunjukkan bahwa pada zaman dulu di Desa Bonang merupakan permukiman yang cukup padat dan rapat. Sejumlah arkeolog memperkirakan bahwa Situs Bonang pernah menjadi pemukiman kalangan pedagang wiraswasta menengah. Selain sumur ditemukan sisa-sisa rumah tinggal berupa pondasi dan temuan- temuan keramik, tembikar, manik-manik dan alat-alat dari logam.

Dua sumur persegi di Masjid Bonang dan di pesarean dipercaya penduduk sumur pertama yang dibuat di Desa Bonang oleh Sunan Bonang. “Sunan Bonang menancapkan tongkat saktinya ke tanah. Lalu keluar lah air sepanjang tahun ditempat itu”, kata juru kunci Pasujudan Sunan Bonang.”Air ini tak pernah payau dan kering, meski sumur-sumur lainnya telah berubah rasa dan kering pada musim kemarau”.

 

Sumur Sunan Bonang

Sumur Sunan Bonang (dok: Nurhadi Rangkuti)

 

Bonang diduga terus berkembang menjadi permukiman elit menengah, karena pelabuhannya tetap berfungsi baik pada masa-masa kemudian. Rumah-rumah tradisional  beratap limas dan berdinding kayu jati merupakan warisan dari zaman keemasan perdagangan di Bonang. Penduduk asli sudah tidak mengetahui lagi siapa orang pertama yang mendirikan rumah tradisional yang kini ditempati mereka. Mereka hanya tahu sampai sejarah kakek dan buyut mereka saja.

“Menurut orang-orang tua dulu, banyak penduduk Bonang yang kaya raya menjadi saudagar. Pelabuhan Binangun sampai sebelum Gunung Krakatau meletus (1885) masih menjadi pelabuhan yang ramai”, kata Kasram (60), warga Bonang.

Bonang yang dulu menjadi lokasi keraton dan pusat perniagaan, kini cuma sebuah desa. Setelah pelabuhan Rembang dikembangkan oleh Belanda (letaknya di sebelah barat kota Lasem), Teluk Binangun kini hanya dapat didarati perahu-perahu kecil. Kini tidak dijumpai lagi saudagar- saudagar besar Bonang yang menguasai ekonomi perdagangan pesisir di Bonang. Yang ada sekarang hanya pengusaha-pengusaha terasi dan dodol yang memerlukan suntikan dana. Mereka tak sejaya pendahulunya dalam berkiprah.

 

Nurhadi Rangkuti

 

Acuan:

De Graaf, HJ dan Th Pigeaud. 1985. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Jakarta: Gratifi Press.

Rangkuti, Nurhadi, 1996. “Pasang Surut Permukiman di Situs Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang Tahap IV”, Laporan Hasil Penelitian Arkeologi. Yogyakarta: Balai Arkeologi.

Satari, Sri Soejatmi, 1985. Caruban Lasem: Suatu Situs Peralihan Klasik-Islam. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi III (Ciloto, 23-28 Mei 1983). Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

 

No Comments

Post A Comment