Jelajah Tanah Gayo - lorongarkeologi.id
15481
post-template-default,single,single-post,postid-15481,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Jelajah Tanah Gayo

Takengon

Takengon adalah sebuah kota kecil yang sangat menawan di atas perbukitan di Kabupaten Aceh Tengah. Kota ini terletak di tepi sebuah danau yang indah dan masih terasa alami. Udara terasa sejuk di siang hari dan sangat dingin di malam hari. Itulah salah satu kota di Tanah Gayo yang takkan terlupakan jika pernah berkunjung ke sana, dan mengundang untuk singgah kembali.

 

Perbukitan di Aceh Tengah Foto: Baskoro D Tjahjono

 

Kota yang sangat nyaman, baik untuk tinggal maupun singgah sementara. Sebuah pilihan lokasi yang sangat tepat. Untuk sampai ke kota ini harus melalui jalan berliku dan berbukit-bukit cukup terjal jika lewat jalan darat. Jika lewat udara bisa menggunakan pesawat jenis ATR untuk sampai ke Takengon, dan mendarat di sebuah bandara kecil di Kabupaten Bener Meriah.

Kota yang selalu berselimut kabut di pagi hari, jauh dari kebisingan dan kemacetan, sehingga jalanan terasa lengang dan lapang walau hiruk-pikuk kota yang menunjukkan aktivitas warga setiap harinya tetap terasa. Siang terik tak terasa menyengat, hingga akhirnya senja tiba dan berganti udara malam yang dingin memaksa warga mengenakan baju hangat bila ingin bertandang. Dan secangkir kopi panas siap menghangatkan kehidupan malam di kota itu.

Takengon kota kecil di tepi danau itu menyimpan berbagai potensi alam maupun budaya. Alam pegunungan dengan danau di tengah ngarai dan sungai yang berkelok-kelok mengikuti bibir jurang mengairi hamparan sawah, suatu pemandangan alam yang menakjubkan, sebuah potensi wisata yang belum tergarap dengan serius. Di bidang agrikultur ada perkebunan kopi yang merupakan andalan daerah itu, yang berpotensi untuk pengembangan agro wisata. Gua-gua di tepi danau menyimpan potensi alam dan budaya dari manusia masa lalu yang telah mendiaminya ribuan tahun lalu. Potensi budaya lainnya adalah seni bordir dengan motif  Kerawang Gayo, seni anyam rotan, dan seni pintal tali.

 

Seorang ibu sedang mengajari anak sekolah memintal tali (kiri) dan seorang bapak sedang mempraktekkan cara menganyam rotan (kanan) Foto: Baskoro D Tjahjono

 

Seni bordir sudah dikembangkan dan menjadi cindera mata bagi para tamu yang berkunjung ke tanah Gayo dengan produksinya antara lain berupa kopiah, tas, dompet, kain. Sedangkan seni anyam rotan dan seni pintal tali merupakan potensi yang belum dikembangkan. Kedua karya seni itu masih sebatas kegiatan untuk pengisi waktu senggang oleh para orang tua. Padahal keduanya mempunyai nilai seni yang cukup tinggi apabila dikembangkan dan bisa menambah pendapatan masyarakat.

 

Danau Lut Tawar

Di lembah di antara perbukitan Aceh Tengah itu terdapat sebuah danau yang cukup luas membujur barat timur. Sebuah pesona alam yang menakjubkan ketika kita berkeliling danau itu. Danau Lut Tawar orang Gayo menyebutnya, airnya biru, tenang, sangat menyejukkan dipandang mata. Di kiri kanan perbukitan hijau, disela lembah-lembah dengan hamparan tanaman padi, disitulah terdapat permukiman penduduk. Di lembah yang paling luas di ujung barat danau itulah terletak Kota Takengon.

 

Salah Satu Sudut Danau Lut Tawar Foto: Taufiqurrahman Setiawan

 

Sesekali nelayan berlalu-lalang dengan perahu dayungnya untuk memeriksa jala yang telah ditebar. Masih banyak ikan di danau ini, diantaranya adalah ikan depik yang merupakan ikan khas danau ini. Ikannya kecil dan gurih kalau dimakan, warung-warung atau rumah makan selalu menyediakan ikan depik goreng renyah. Rumah-rumah makan yang menyediakan menu ikan, baik goreng maupun bakar, banyak terdapat di One-one, sebuah dusun di tepi Danau Lut Tawar. Nah jika ke Takengon jangan lupa singgah ke One-one untuk bersantap menu ikan sambil menikmati pemandangan indah Danau Lut Tawar. Selain menangkap ikan di danau sebagian warga juga membudidayakan ikan dalam karamba-karamba. Budidaya ikan dengan karamba memang tidak dilarang, namun perlu dijaga keseimbangannya agar kelestarian lingkungan dan kebersihan danau tetap terjaga.

Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mengelilingi danau, dalam sekali putaran paling tidak hanya dibutuhkan waktu sekitar 2 jam tanpa henti, kecuali jika singgah di tempat-tempat rekreasi yang memang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, tentu membutuhkan waktu lebih lama. Jika ingin menginap di tepi danau agar bisa lebih menikmati keindahan alamnya juga ada beberapa tempat penginapan atau hotel yang cukup representatif. Keliling danau Lut Tawar selain menikmati keindahan alam juga bisa menikmati lingkungan desa dan kehidupan masyarakat yang tinggal di tepi-tepi danau tersebut dengan berbagai aktivitas kesehariannya.

Sayang sekali rumah-rumah tradisional Gayo yang dulu banyak bertebaran di desa-desa tepi danau itu kini sudah jarang ditemukan lagi. Salah satu aset di bidang arsitektur tradisional berbahan kayu itu, seiring dengan perubahan jaman, kini sudah digantikan oleh rumah-rumah modern berbahan bata. Mungkin karena bahan-bahan tersebut lebih mudah didapatkan, lebih praktis, dan lebih murah harganya dibandingkan dengan bahan kayu, yang saat ini sudah langka dan mahal harganya, serta perawatannyapun sulit. Rumah tradisional Gayo disebut Rumah Pitu Ruang, salah satu yang masih bertahan terdapat di Toweren dekat Danau Lut Tawar. Tugas pemerintahlah untuk menjaga, melindungi, dan melestarikan salah satu aset budaya yang tinggal segelintir itu agar tidak punah.

 

Salah satu rumah tradisional Gayo yang masih tersisa di Toweren
Foto: Baskoro D Tjahjono

 

Kopi Gayo

Di Tanah Gayo salah satu komoditas yang paling menonjol adalah kopi Gayo, yang sudah tersohor di seantero dunia. Di Kota Takengon banyak kedai-kedai kopi tersebar ke berbagai sudut kota hingga ke batas kota. Di sini juga banyak produsen dan penjual kopi kemasan, baik masih dalam bentuk bijih kopi maupun kopi bubuk. Sebuah komoditas yang sangat menjanjikan bagi masyarakat Gayo. Bahkan saat ini mulai menjamur mobil kopi keliling, yang setiap saat mudah berpindah tempat mengikuti pusat-pusat keramaian.

 

Satu unit mobil kopi sedang melayani pembeli di kegiatan
Rumah Peradaban Gayo yang digagas oleh Balai Arkeologi Sumut
Foto: Baskoro D Tjahjono

 

Kopi Gayo diolah dari hasil perkebunan kopi yang banyak tersebar di Tanah Gayo sendiri. Ada dua jenis kopi di sini, Arabika dan Robusta, mana yang lebih enak sebenarnya tergantung selera. Kopi Arabika harganya memang lebih mahal dari kopi Robusta, namun banyak orang yang gemar jenis kopi ini. Rasanya sedikit asam, namun aromanya ketika disedu selalu mengundang selera untuk segera meneguknya.

Di setiap kedai kopi selalu ramai pengunjungnya, baik siang maupun malam. Banyak penggemar kopi di kota kecil Takengon itu. Dari masyarakat biasa, para wartawan, tokoh-tokoh masyarakat, budayawan, hingga pejabat tinggi gemar kopi Gayo. Bahkan ada satu kedai kopi, Kedai Kopi Batas Kota, sebagai tempat berkumpul para pejabat Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dengan para wartawan setempat untuk membahas berbagai masalah. Pokoknya kalo mau ngopi di sini tidak akan kehabisan, pasti joss, dan ditanggung akan balik lagi.

 

Loyang Di Tepi Danau

Ternyata tidak hanya masa kini saja masyarakat Gayo pandai memilih lokasi yang indah dan nyaman untuk tempat tinggal. Ribuan tahun silam lokasi di tepi Danau Lut Tawar ini telah dipilih oleh nenek moyang masyarakat Gayo sebagai tempat tinggal. Pada masa itu, 8000 – 4000 tahun yang lalu, mereka menempati gua atau loyang, dalam istilah Gayo, sebagai tempat tinggal yang nyaman (Wiradnyana, 2017).

 

Peta Danau Lut Tawar dan lokasi loyang di tepi danau Sumber: Balai
Arkeologi Sumut

 

8000 tahun yang lalu manusia yang tertarik untuk menghuni gua atau loyang di tepi Danau Lut Tawar itu adalah ras Austromelanesid yang datang dari daratan Asia Tenggara, masuk ke Aceh melalui Semenanjung Malaysia, dari kawasan pantai timur Aceh naik ke pegunungan untuk mencari tempat-tempat persinggahan baru, sampailah di tepi Danau Lut Tawar tempat yang nyaman, banyak sumber makanan, dan mempunyai sumber air yang melimpah. Binatang buruan banyak terdapat di hutan-hutan di perbukitan itu, sedangkan di danaunya sendiri selain sebagai sumber air juga melimpah sumber makanan dari berbagai jenis ikan maupun kerang air tawar. Jadilah mereka menetap di situ selamanya.

4000 tahun kemudian atau 4000 tahun yang lalu menyusul ras lain yang datang ke danau ini yaitu ras Mongoloid. Mereka adalah penutur rumpun Bahasa Austronesia jika datang dari Taiwan melalui Indonesia bagian timur (teori Out of Taiwan) (Bellwood, 1991; Simanjuntak, 2015). Namun ada hipotesis lain yang mengatakan bahwa mereka berasal dari daratan Asia Tenggara ke selatan masuk ke Sumatera (Widianto, 2010). Jika berasal dari daratan Asia Tenggara maka menurut Truman Simanjuntak kemungkinan mereka adalah penutur rumpun Bahasa Austroasiatik. Belum dapat dipastikan dari mana ras Mongoloid yang mendiami gua atau loyang di tepi danau itu. Namun dari temuan kerangka manusia dan hasil budaya mereka dapat dibuktikan bahwa ada ras Mongoloid yang pernah tinggal di tepi Danau Lut Tawar dan kemudian sebagian bercampur dengan ras Austromelanesid, hingga turun-temurun sampai sekarang.

 

Sumber: Widianto, Harry. 2010. Jejak Langkah Setelah Sangiran. Modifikasi Taufiqurrahman Setiawan. 2013

 

Bukti-bukti arkeologis adanya dua ras berbeda yang pernah mendiami gua atau loyang di tepi Danau Lut Tawar terdapat di Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang. Kedua loyang ini telah diteliti Balai Arkeologi Sumatera Utara sejak tahun 2009 hingga sekarang (Wiradnyana, 2017). Loyang Mendale dihuni oleh ras Austromelanesid sejak masa mesolitik. Hasil budaya yang ditemukan antara lain alat-alat batu mesolitik seperti kapak batu sumatralith, batu pukul, serpih, dan juga serut. Bahan alat-alat batu mesolitik ini adalah batu kali atau andesit. Kemudian disusul oleh ras Mongoloid pada masa neolitik dengan bukti-bukti berupa temuan beliung persegi, calon beliung, fragmen gerabah, tulang-tulang binatang, dan juga cangkang kerang laut maupun darat. Alat batu masa neolitik berasal dari batuan beku basalt, warnanya lebih hitam daripada batu kali. Di Loyang Mendale ditemukan 9 rangka manusia, 2 diantaranya masih utuh. Sedangkan di Loyang Ujung Karang dihuni oleh ras Mongoloid pada masa neolitik. Bukti-buktinya ditemukan 8 rangka manusia, anyaman rotan, fragmen gerabah,  tulang-tulang binatang, dan cangkang kerang.

 

Loyang Ujung Karang (Foto: Taufiqurrahman Setiawan)

 

Loyang Mendale (Foto: Taufiqurrahman Setiawan)

 

Hasil penelitian itu pernah disosialisasikan ke masyarakat Gayo khususnya anak-anak sekolah di Kota Takengon dalam bentuk kegiatan Rumah Peradaban Gayo. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Balai Arkeologi Sumatera Utara dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial kepada masyarakat. Mereka berhak tahu apa yang dilakukan oleh para arkeolog, mereka berhak tahu cara kerja arkeolog, mereka berhak tahu apa yang dihasilkan oleh para arkeolog. Maka anak-anak sekolah itu diajak ke situs untuk melihat, mengamati, dan merasakan bagaimana kerja seorang arkeolog di lapangan dalam menggungkap dan memaknai sejarah budaya masa lalu, sehingga diharapkan mereka akan lebih mencintai dan menghargai hasil karya nenek moyang mereka.

 

Baskoro D Tjahjono

 

 

Acuan

Bellwood, P. 1991. “The Austronesian Dispersal and the Origin of Languages”. Scientific American Vol. 265. hlm. 88-93.

Simanjuntak, Truman. 2015. Gua Harimau dan Peradaban Panjang OKU. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Widianto, Harry. 2010. Jejak Langkah Setelah Sangiran. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. Direktorat Peninggalan Purbakala. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Wiradnyana, Ketut. 2017. Tanoh Gayo, Riwayatmoe Doeloe. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Balai Arkeologi Sumatera Utara.

 

No Comments

Post A Comment