Pesan Leluhur Dari Lembah Menoreh - lorongarkeologi.id
15470
post-template-default,single,single-post,postid-15470,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Pesan Leluhur Dari Lembah Menoreh

Seluruh dunia tahu Candi Borobudur. Jika pernah mengunjungi candi agung itu pasti mengenal juga Candi Mendut dan Candi Pawon, yang berada pada  garis lurus dengan Candi Borobudur. Ketiga bangunan suci agama Buddha itu merupakan landmark Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasi tepatnya di lembah Pegunungan Menoreh, sebuah lembah yang luas dan subur dimana mengalir Sungai Progo dan Elo dari utara dan sungai-sungai kecil dari Pegunungan Menoreh.

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa di sekitar Candi Borobudur cs padat dengan persebaran bangunan-bangunan suci dari bata. Pada umumnya bata-bata yang digunakan berukuran panjang 29-35 cm, lebar 19-24 cm, dan tebal 9-11 cm.

Baskoro Daru Tjahjono, arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta tengah menginventarisasi dan mengkaji keberadaan candi-candi bata dalam radius lima belas kilometer dari Candi Borobudur. Selama penelitian tahun 2001-2002 terhimpun 40 situs candi di antaranya    26 situs candi bata. Sebagian besar sisa-sisa candi  berlatar agama Hindu, sisanya berlatar agama Buddha. Candi bata ada yang berukuran besar ada pula yang berukuran kecil, namun tidak ada yang melebihi besarnya Candi Mendut, apalagi Candi Borobudur.

Candi batu dan candi bata, candi besar dan candi kecil, agama Hindu dan agama Buddha, merupakan dualisme yang menjadi petunjuk bagi arkeolog untuk mengungkapkan kehidupan masyarakat Jawa Kuna abad 8-10 di lembah Menoreh. Namun sayang pesan dari para leluhur itu banyak terhapus oleh para pemburu harta karun kacangan dengan mengobrak-abrik situs.

 

Situs Candi Wurung dengan latar belakang Pegunungan Menoreh. Foto: Nurhadi Rangkuti

Arkeolog sering terlambat

Sebagian besar situs telah rusak parah karena dija-rah orang. Apalagi kalau bukan  disebabkan perburuan  harta karun. Walaupun harta yang berhasil dijarah tidak mungkin dapat melunasi hutang negara, toh bisa bikin kaya sesaat oknum yang menjarah. Yang paling berharga dan cepat mendatangkan uang dari peninggalan candi adalah arca-arcanya dan karya seni pahat batu lainnya. Jelas, banyak arca yang dibawa kabur, kalau-pun masih ada tinggal menyisakan beberapa potongan tubuh. Mungkin sengaja disisakan untuk arkeolog yang seringkali terlambat datang.

Bukan itu saja, bata-bata kuna yang masih utuh masih pula digotong orang. Bata-bata sisa bangunan candi yang berada di lokasi Masjid Dimajar, (Desa Sumberanom, Kecamatan Tempuran), dengan jarak sekitar 5 km di sebelah barat Candi Borobudur, diam-diam dijarah orang sedikit-demi sedikit. Bata-bata dibungkus dengan karung dan dibawa keluar secara bertahap. Itu juga harta karun rupanya.

Situs Candi Wurung yang telah dijarah. Foto: Nurhadi Rangkuti

Para arkeolog kini bisa menyaksikan  beberapa situs yang permukaan tanah bopeng-bopeng, bekas galian liar, seperti Candi Wurung (Desa Menoreh, Kecamatan Salaman), atau Candi Dipan (Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur). Situs-situs candi lainnya hanya tinggal pondasi, yoni, dan pecahan-pecahan bata.

Dari sejumlah situs candi bata yang ada, baru dua situs yang diteliti dengan melakukan penggalian arkeologis (ekskavasi), yaitu Situs Candi Dipan dan Candi Wurung. Candi Dipan yang terletak 1,5 km dari Candi Borobudur, merupakan salah satu contoh candi Buddha berukuran kecil yang dibuat dari bata. Sebuah stupa kecil dari terakota dan pedupaan kecil dari batu ditemukan dalam penggalian.

Melalui hasil penggalian diketahui denah bangunan Candi Dipan berbentuk bujur sangkar yang berukuran 5 X 5 meter. Bagian tengah candi ini telah rusak berat akibat penggalian liar, seperti halnya Candi Wurung. Rupa-rupanya para penggali mengincar bagian tengah candi yang biasanya terdapat sumuran untuk menyimpan benda-benda tertentu. Sayangnya benda-benda itu bukan harta karun macam logam mulia dalam jumlah besar. Biasanya dalam sumuran terdapat peripih berbentuk kotak kecil dari batu yang berisi abu, tanah, dan sisa-sisa tulang. Sudah barang tentu, pemburu harta karun tidak akan mendapatkan buruannya. Tetapi akibat yang ditinggalkan, candi menjadi porak-poranda.

Lagi-lagi arkeolog terlambat. Pada bulan agustus 2002 muncul sebuah candi bata dari dalam tanah. Ternyata candi ini, sebut saja Candi Samberan, belum tercatat dalam laporan-laporan Belanda (ROD, OV).  Wahadi (40) adalah orang pertama yang menemukan candi ini secara tidak sengaja ketika menggali tanah untuk bahan pembuatan bata. Lokasinya di pekarangan rumahnya  di Dusun Samberan, Desa Ringin Anom, kecamatan Tempuran, dengan jarak sekitar 4 km di sebelah baratlaut Candi Borobudur.

Tim arkeologi baru datang beberapa hari kemudian. Awalnya tim mendokumentasikan dua buah yoni yang dijadikan pondasi Masjid Samberan. Kemudian oleh penduduk ditunjukkan asal yoni tersebut, sampai akhirnya ke rumah Pak Wahadi. Pada areal penggalian bata, terserak  bata-bata kuna yang telah diangkat dari dalam tanah dan telah hancur berkeping-keping. Di antara bata tersebut terselip umpak batu. Untung pak Wahadi menyisakan sudut kaki candi yang masih utuh terbuat dari bata. Tinggi bangunan bagian bawah candi ini sekitar satu meter. Struktur bangunan candi bata yang kemungkinan berlatar Hindu ini terpendam hanya 20 cm di bawah permukaan tanah.

 

Buddha dan Hindu

Candi Borobudur, Mendut dan Pawon, yang besar dan megah layak disebut candi-candi kerajaan. Siapapun raja yang mendirikan bangunan-bangunan suci itu, pastilah beragama Buddha. Di sekitar candi-candi kerajaan itu tersebar candi-candi bata Hindu, kebanyakan candi bata.

Dalam sumber-sumber tertulis tercatat bahwa mulanya raja masa Jawa Kuna di Jawa Tengah beragama Siwa (Hindu). Prasasti Canggal (732 M) yang berasal dari halaman percandian di atas Gunung Wukir (kecamatan Salam, Kabupaten Magelang) menyebut raja bernama Sanjaya yang beragama Siwa. Ia mendirikan bangunan suci untuk pemujaan lingga di atas bukit. Pada bagian lain dalam prasasti itu disebutkan di Pulau Jawa ada sebuah bangunan suci untuk pemujaan Siwa yang amat indah, untuk kesejahteraan dunia, yang dikelilingi oleh sungai-sungai suci, antara lain Gangga. Bangunan suci itu terletak di wilayah Kunjarakunja (SNI jilid 2, 1984).

Beberapa ahli telah mencoba mengidentifikasi bangunan suci itu pada candi-candi yang masih tersisa. Ada yang mengacu pada Candi Gunung Wukir, yang letaknya sekitar 11 km di sebelah timur Candi Borobudur, adapula yang mengacu pada Candi Banon yang letaknya dekat Candi Mendut. Bangunan Candi Banon sekarang sudah hilang, hanya menyisakan sisa-sisa bata. Dulu di situs Candi Banon ditemukan arca-arca yang berukuran relatif besar, yaitu Siwa Mahadewa, Ganesya, Wisnu, Brahma dan Agastya, kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Boleh jadi Candi Banon merupakan bangunan suci yang besar, dan dibuat dari bata. Letaknya yang dekat dengan Sungai Progo ditafsirkan sebagai Sungai Gangga di India.

Setelah Sanjaya mangkat, putranya yang bernama Rakai Panangkaran Dyah Sankhara Sri Sanggramadhanjaya, mengganti kedudukannya. Rakai Panangkaran yang semula beragama Hindu berpindah ke agama Buddha Mahayana, karena takut mengalami nasib seperti ayahnya dalam menjalankan perintah guru. Sang ayahanda jatuh sakit dan meninggal dalam penderitaan selama delapan hari karena ingin mematuhi seluruh perkataan sang guru.

Setelah Rakai Panangkaran menjadi raja ia mendirikan serangkaian candi-candi kerajaan, tentunya untuk ibadah agama Buddha. Candi Sewu di daerah Prambanan, didirikan untuk pemujaan Manjusri, seperti yang tercatat dalam Prasasti Kelurak (26 September 782M)). Juga Candi Plaosan Lor yang melambangkan kesatuan kerajaan, dan Candi Borobudur untuk pemujaan pendiri dinasti Sailendra. Rupa-rupanya Candi Kalasan juga dibangunnya pada tahun 778 Masehi, dan mungkin sebuah bangunan lagi di Bukit Ratu Baka di Yogyakarta (SNI jilid II, 1984).

Rakai Panangkaran memiliki putra yaitu Samarotungga. Dalam beberapa buku sejarah, Samarotungga lah yang mendirikan Candi Borobudur. Isi prasasti berangka tahun 824 M yang menyebut bangunan suci yang bertingkat sepuluh (bhumin vyadhad dasavidha) ditafsirkan oleh de Casparis, ahli epigrafi, mengacu pada bangunan Candi Borobudur. Bangunan suci itu didirikan oleh raja Samarotungga (782-812 M).  de Casparis juga menafsirkan sebuah prasasti berangka tahun 842 M yang menyebut bangunan suci Bhumisambhara adalah Candi Borobudur.

Samarotungga dan anak perempuannya, Pramodawardhani, disebut dalam Prasasti Kayumwungan (26 Mei 824 M). Putri ini mendirikan sebuah bangunan suci agama Buddha yang bernama Srimad Wenuwana dan mentahbiskan arca Sri ghananatha di dalamnya pada hari Kamis Legi, 26 Mei 824 M. Bagian lain dari prasasti Kayumwungan menyebutkan pasangan suami istri pada waktu yang sama memberikan tanah sawah untuk ditetapkan sebagai sima (tanah perdikan) bagi pendirian bangunan suci agama Hindu.

Isi prasti itu menyiratkan agama Buddha dan Hindu hidup berdampingan dan damai pada masyarakat Jawa Kuna. Masyarakat memiliki keleluasaan menjalankan ibadah walaupun keyakinan berbeda dengan agama yang dianut sang penguasa. Buktinya, di lembah Menoreh berdiri candi-candi dari kedua agama, besar-kecil, megah-sederhana, dari batu dan bata.

 

Candi Batu, Candi Bata

Bahan bangunan candi telah lama menjadi pokok bahasan purbakalawan. Bahan bangunan dijadikan acuan untuk menentukan kronologi. Dominannya candi-candi batu masa Mataram Kuna (8-10 M) di Jawa Tengah dan banyaknya candi-candi bata masa Singhasari-Majapahit (13-14 M) di Jawa Timur, telah mengantarkan suatu asumsi bahwa candi-candi batu merupakan candi yang dibangun lebih tua daripada candi bata.

Fakta menunjukkan bahwa candi bata lebih banyak daripada candi candi batu di lembah Menoreh. Kedua sumber bahan itu memang melimpah di daerah Magelang. Batu-batu andesit hasil erupsi Gunung Merapi dan Merbabu telah dimanfaatkan oleh masyarakat Jawa Kuna untuk bahan bangunan Candi Borobudur dan candi-candi lainnya. Tanah liat yang banyak di dataran aluvial juga telah diolah menjadi bahan pembuatan bata dan tembikar.

Kedua bahan banyak digunakan pada sebuah bangunan candi. Pada Candi Gunungsari yang letaknya sekitar 9 km di sebelah timur Candi Borobudur, candi induk dan candi perwaranya menggunakan batu andesit, sedangkan pagar keliling dari bata. Pada candi-candi bata lainnya, arca-arcanya dibuat dari batu andesit. Jelas, pada abad 8-10 Masehi, batu dan bata digunakan secara bersamaan.

Penggalian Candi Wurung yang terbuat dari bata Foto: Nurhadi Rangkuti

Kalau mau dibilang mana yang paling tua diantara kedua bahan itu, bisa jadi candi bata lebih tua. Candi-candi bata yang terdapat di Situs Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat berasal dari abad 2-4 Masehi, berdasarkan analisis pertanggalan mutlak dengan C4 dari arang yang ditemukan dalam penggalian situs tersebut.

Jadi teknologi konstruksi bata untuk candi, bukanlah inovasi yang ditemukan setelah teknologi konstruksi batu. Konstruksi bata lebih mudah dan ekonomis, sehingga candi-candi kecil di lembah Menoreh banyak yang menggunakan bahan bata. Candi-candi kecil itu boleh jadi candi-candi desa (vanua) dan daerah (watek), dimana masyarakat Jawa Kuna membangunnya untuk ibadah. Pemburu harta karun membongkarnya karena dikira meyimpan harta kekayaan milik kerajaan.

 

Nurhadi Rangkuti

Artikel ini ditulis tahun 2003

 

No Comments

Post A Comment