LEWAT LORONG ARKEOLOGI LIAT TOLERANSI - lorongarkeologi.id
15664
post-template-default,single,single-post,postid-15664,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

LEWAT LORONG ARKEOLOGI LIAT TOLERANSI

Kata Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata “toleran” yang artinya bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dsb) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Dalam kesehariannya toleransi selalu dikaitkan dengan agama atau kepercayaan. Jarang dikaitkan dengan tabiat seseorang atau sekelompok masyarakat yang berlatar belakang budaya yang berbeda.

Akhir-akhir ini dua kata yang pengertiannya saling bertentangan sering terdengar di kalangan masyarakat, yaitu “toleransi” dan “intoleransi”. Kedua kata tersebut muncul dalam konteksnya dengan agama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat antar kampung.

Sifat atau tabiat bertoleransi sebetulnya sudah lama muncul di kalangan masyarakat di Nusantara ini, jauh sebelum munculnya agama/kepercayaan pada masyarakat. Toleransi antar penganut agama yang diwadahi oleh pemerintah secara resmi muncul pada masa Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu sudah dimunculkan hukum yang berkaitan dengan kehidupan beragama. Dan dikemudian hari kehidupan bertoleransi antaragama di beberapa tempat di Indonesia misih hidup.

 

Awal Toleransi

Di pedalaman Musi, termasuk daerah hulu sungai Ogan di wilayah Baturaja ditemukan sisa-sisa pemukiman masa prasejarah di dalam sebuah gua. Diduga kuat mereka ini datang dari “seberang” lautan secara bergelombang dari daratan Asia. Setelah melalui perjalanan panjang tibalah mereka di daerah yang sekarang masuk wilayah administratif Baturaja. Siapakah mereka itu?

Kerangka dari Gua Harimau (foto oleh Wahyu)

Di gua yang dikenal dengan nama Gua Harimau, ditemukan sisa-sisa hunian dari masa yang cukup panjang, yang berdasarkan pertanggalan sementara berasal dari sekitar 22.000 tahun yang lalu hingga sekitar awal-awal Masehi. Salah satu yang menarik di gua ini adalah temuan sisa-sisa penguburan manusia yang sangat banyak, yaitu lebih dari 81 individu.  Ada dua ras yang dikenali dari sisa-sisa penguburan tersebut, yaitu Ras Austromelanesid dan Ras Monggolid. Ras Austromelanesid umumnya berumur lebih tua dan mereka umumnya hidup dari berburu dan mengumpulkan makanan dengan alat paleolitiknya, sedangkan Ras Mongolid yang datang kemudian sudah mengenal budaya cocok tanam dengan alat neolitiknya.

Di gua ini Ras Austromelanesid sudah hidup sejak awal Holosen sebagai keturunan lanjut dari manusia modern awal, penghuni gua yang sama sejak 22.000 tahun yang lalu. Ras Monggolid kemudian datang di sekitar 3500 tahun yang lalu.  Suatu hal yang sangat menarik adalah penemuan kubur-kubur kedua ras pada lapisan budaya Neolitik awal yang menunjukkan adanya ko-habitasi pada awal-awal hunian ras Monggolid. Bahkan ada pula kubur dari Ras Monggoloid yang kemudian menggunakan sistem yang biasa dipakai dalam kubur dari Ras Austromelanesoid – kubur terlipat. Hal ini jelas membuktikan bahwa sejak dahulu kala kebhinekaan dan toleransi sudah hadir di bumi pertiwi ini.

 

Toleransi dalam Kerajaan

Memasuki masa sejarah kehidupan bertoleransi sudah diwujudkan dalam bentuk benda, seperti pada sebuah arca sampai pembangunan sebuah kompleks bangunan suci yang berbeda agama. Sebuah arca Bodhisattwa Awalokiteswara dipersembahkan oleh seorang pendeta Hindu untuk umat Buddha Mahayana. Suatu hal yang mustahil untuk masa kini, ada seorang agamawan mempersembahkan sebuah arca yang dipuja oleh penganut agama lain. Itu terjadi di Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-8-9 Masehi. Catatan sejarah menginformasikan kepada kita, bahwa masyarakat, termasuk penguasanya menganut paham toleransi beragama. Sebagai sebuah kerajaan yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, rajanya memohon kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis di Persia untuk dikirimkan seorang mubaligh untuk mengajarkan agama Islam.

Kita menyeberang ke Tanah Jawa. Pada masa yang berdekatan dengan Sriwijaya, raja-raja Medang (Mataram) dan juga rakyatnya menganut paham toleransi beragama. Di kerajaan ini agama mayoritas adalah Buddha Mahayana, namun keberadaan agama lain juga dipelihara. Banyak bangunan suci agama Hindu di antara bangunan suci agama Buddha. Kompeks Candi Siwa di Prambanan dibangun berdekatan dengan kompleks bangunan suci agama Buddha, seperti Kompleks Sewu dan Plaosan.

Stupa Plaosan Lor ( foto oleh Bambang Budi Utomo)

Kompleks Plaosan dibangun secara gotong-royong oleh para penguasa daerah yang “tergabung” dalam Kerajaan Mataram. Para penguasa daerah ini membangun stupa-stupa perwara yang terdapat di satu kompleks. Nama para penguasa yang menyumbang pembangunan stupa terukir pada batu dinding bangunan, seperti //asthupa sri maharaja rakai pikatan// artinya ‘persembahan bangunan stupa oleh sri maharaja rakai pikatan’. dan //anumoda rakai gurunwangi dyah saladu// artinya ‘persembahan oleh rakai gurunwangi dyah saladu’Kedua orang raja ini diketahui sebagai penganut ajaran Hindu.

Tafsir tulisan singkat tersebut, bahwa seorang raja yang menganut ajaran Hindu menyumbang bangunan suci untuk penganut ajaran Buddha berwujud bangunan stupa. Sebagaimana diketahui bahwa stupa utama Plaosan Lor dikelilingi oleh bangunan-bangunan stupa perwara yang lebih kecil dan perwara deret II dan III berbentuk stupa. Hal ini menunjukkan bahwa pada abad ke-9 antara ajaran Buddha dan Hindu hidup damai berdampingan – a pieceful co-exixtence of the main religions in early Central Java.Para penganutnya saling membantu mendirikan bangunan suci, meskipun ajaran keyakinannya berbeda.

Candi Jawi (foto oleh Bambang Budi Utomo)

Bagaimana kerajaan hadir dan ikut mengatur kehidupan beragama baru tampak pada masa Majapahit, yaitu pada sekitar abad ke14-15 Masehi. Raja-raja Majapahit menganut konsep Siwa-Buddha yang sudah dicetuskan sejak zaman Singhasari oleh Raja Kertanegara sebagaimana disebutkan dalam Nagarakertagamapupuh 56-57. Pada dasarnya pandangan tersebut menganggap bahwa Dewa Tertinggi hanya satu yang disebut dengan berbagai nama tergantung pemujanya. Dalam ajaran Siwa disebut Sang Hyang Paramasiwa, dalam ajaran Buddha disebut Bhattara Buddha, dalam ajaran Waisnawa disebut Bhatara Nirguna dan ajaran lain mempunyai sebutan lain pula. Konsep Siwa Buddha ini oleh beberapa peneliti disebut koalisi, kesejajaran, tetapi bukan sinkretisme.

Salah satu kebijakan yang dilakukan oleh Raja Majapahit, khususnya Hayam Wuruk adalah penanganan banyak kepercayaan di wilayahnya. Dalam sumber prasasti dan naskah, secara implisit disebutkan tujuannya untuk saling menghargai antar umat beragama dan mencegah konflik sosial agama. Pemerintahan Majapahit menyediakan tempat untuk beribadah bagi penganut ajaran Siwa, Buddha dan lainnya sebagaimana dijelaskan dalam Nagarakertagama pupuh 8: 4.

Cara yang ditempuh oleh Hayam Wuruk dalam menangani multi agama adalah:

  • Mengatur tempat tinggal para pemeluk agama dan tempat upacara, sebagaimana disebutkan dalam Nagarakertagamapupuh 8 baris 4.
  • Pengaturan daerah penyebaran agama. Para bhiksu diberi wilayah bagian barat untuk menyebarkan ajaran Buddha, sedangkan para pendeta Siwa mendapat wilayah
  • Pemerintah memberi kemudahan bagi perkembangan agama rakyat atau kepercayaan lokal.

 

Sultan Membantu Pekabar Injil

Kota Manokwari merupakan salah satu kota bersejarah bagi masyarakat Kristen (Protestan) di Papua karena pada tanggal 5 Februari 1855, dua orang pekabar Injil  mendarat di Pulau Mansinam yang letaknya tepat di muka kota Manokwari. dan memulai karya penyebaran agama Kristen Protestan di kalangan suku-suku yang masih suka berperang satu sama lain.

Para pekabar Injil yang merintis usaha Pekabaran Injil di Papua adalah dua orang bangsa Jerman, yaitu Carl Willem Ottow dan Johann Gotteb Geissler yang tiba di Batavia tahun 1852. Karena mereka bangsa Jerman, sementara itu Nusantara di bawah penguasaan Belanda, usaha mereka berdua untuk mengkristenkan Papua tidak mudah. Pada tahun 1854 keduanya tiba di Ternate, tempat kediaman Residen Belanda. Setelah mendapat izin dari Sultan Tidore barulah mereka menumpang kapal niaga dan mendarat di Pulau Mansinam yang dihuni oleh orang-orang Numfor-Biak. Perjalanan dari Ternate ke Pulau Mansinam ditempuh dalam waktu tiga minggu.

Perahu Pekabar Injil (foto oleh Bambang Budi Utomo)

Pekerjaan pertama yang dilakukan para pekabar Injil ini adalah menebang pohon dan membangun rumah sendiri. Itulah sebabnya mereka disebut zendeling-tukang. Untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-harinya berdagang karena mereka tidak digaji. Khotbah dilakukan di rumah yang mereka bangun, dan diadakan pada hari Minggu. Untuk menarik perhatian orang-orang Numfor, setelah kebaktian para pekabar ini membagikan tembakau atau gambir. Pada awalnya khotbah dilakukan dalam bahasa Melayu, tetapi pada tahun 1859 dilakukan dalam bahasa Numfor.

Pada saat ini, setiap tanggal 5 Februari penduduk Papua merayakan kedatangan para pekabar Injil ini, dan dirayakan sebagai Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua. Setiap lima tahun sekali perayaan kedatangannya dilakukan secara besar-besaran. Mereka beramai-ramai membangun replika perahu dengan hiasan yang melambangkan perahu yang dipakai Sultan Tidore mengantarkan Ottow dan Geissler dari Tidore (Maluku Utara) ke Mansinam. Gambar-gambar Ottow dan Geissler  terpampang di replika perahu dan di gereja-gereja. Peserta pawai bukan hanya orang yang beragama Kristen saja, tetapi juga umat Islam dari Manokwari berperan serta. Itulah kehidupan beragama yang harmonis.

Itulah yang terjadi di Nusantara di masa lampau yang sisa-sisanya misih dapat dilihat dan dirasakan di beberapa tempat yang jauh dari peradaban kota. Sementara itu di masyarakat kota yang katanya beradab rasa toleransi sudah menipis. Hal yang kecil bisa memicu intoleransi. Ayo kite ngaca ke masa lampau buat ngeliat ke depan!

 

Bambang Budi Utomo

Kerani Rendahan

 

No Comments

Post A Comment