Inspirasi Dari Lereng Gunung Sindoro - lorongarkeologi.id
15439
post-template-default,single,single-post,postid-15439,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Inspirasi Dari Lereng Gunung Sindoro

Temuan jalan makadam di Situs Liyangan, yang di kanan-kirinya dibatasi oleh pagar candi dan talud batu, menginspirasi tercetusnya ide membuat website bernama lorongarkeologi.id. Jalan bebatuan yang menyusur Dusun Liyangan Kuna itu bagaikan lorong panjang menuju puncak Gunung Sindoro nan indah dikala tak setitik awanpun mengotori cuaca yang cerah dan bersih pagi itu.

Udara masih terasa dingin di dusun yang berada pada ketinggian 1100 meter dpal, terletak di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Mataharipun belum tinggi, namun aktivitas warga sudah mulai nampak dengan kesibukan masing-masing. Ada berbagai aktivitas di lingkungan situs arkeologi yang belum begitu lama ditemukan dan belum cukup tersohor itu, diantaranya aktivitas pemugaran, penelitian, dan penambangan pasir. Justru akibat aktivitas penambangan pasir inilah situs yang berada di kedalaman 10 meter dari muka tanah itu bisa terkuak.

Maka kita patut berterima kasih pada para penambang pasir itu, karena tanpa mereka entah kapan sejarah peradaban Mataram Kuna yang lengkap dengan areal hunian, pertanian, dan areal peribadatan itu akan terkuak. Kerja mereka sangatlah membantu kerja para arkeolog, karena mereka kerja di atas untuk membongkar tanah pasir setebal 10 m, sedangkan para arkeolog melanjutkan kerja di bawah untuk menguak misteri Situs Liyangan. Jadilah kerjasama simbiosis mutualistis. Dan masyarakat dusunpun menyambut kehadiran situs ini dengan penuh harap. Jadilah komponen ekosistem masa lalu itu diterima masuk ke dalam ekosistem masa kini.

Di tengah kehidupan dunia yang sudah sangat maju ini, termasuk Indonesia, manusia sering kehilangan arah karena terseret oleh arus globalisasi dan modernisasi. Mereka telah kehilangan identitas dan jatidiri karena sekedar ikut arus. Belajar arkeologi tidaklah sekedar mempelajari kehidupan masa lalu saja, tidak sekedar menggali benda-benda kuna, tetapi menggali nilai-nilai, menggali akar budaya masa lalu untuk menginspirasi masa kini dan masa depan. Kita boleh menjadi sangat modern tetapi harus selalu berpegang pada akar budaya kita karena itu adalah identitas kita, jatidiri kita. Sehingga tidak mudah terombang-ambing dan akhirnya tumbang. Setinggi apapun pohon dan selebat apapun daunnya jika mempunyai akar yang kuat, tidak akan mudah tumbang digoyang oleh angin ribut.

Banyak yang dapat dipelajari dari Situs Liyangan yang telah ribuan tahun terpendam tanah. Situs ini terkubur akibat letusan Gunung Sindoro yang pada waktu itu masih aktif. Masyarakat masa itu, yang hidup antara abad VI – X Masehi, sangat sadar bahwa mereka tinggal di daerah rawan bencana, karena itulah pilihan mereka. Bahaya letusan gunung berapi, bahaya tanah longsor, bahaya banjir bandang, bahaya gempa bumi, selalu mengancam kehidupan mereka. Menyadari hal itu, mereka siap untuk memitigasi bencana yang sewaktu-waktu datang.

Untuk mengatasi gempa bumi, mereka menyiapkan rumah-rumah tahan gempa berupa rumah panggung dengan konstruksi kayu. Untuk mengatasi tanah longsor, mereka membangun talud-talud, baik dari batu persegi maupun boulder, ditebing-tebing mengikuti kontur tanah. Untuk mengatasi banjir mereka membangun tanggul-tanggul dan bendungan agar air tidak langsung menerjang areal permukiman dan peribadatan. Namun untuk menghadapi bencana erupsi Gunung Sindoro, terutama menghadapi semburan awan panas, mereka melarikan diri menghindar. Karena hingga saat inipun belum ada teknologi yang mampu menghadapi semburan awan panas gunung berapi. Untuk evakuasi warga, mereka telah menyiapkan jalan makadam yang cukup lebar di tengah permukiman.

Bukti-bukti mereka mampu memitigasi dampak bencana ada pada temuan-temuan hasil penelitian Situs Liyangan. Talud-talud batu persegi maupun boulder sebagai penahan tanah longsor banyak ditemukan di situs terutama di sebelah tenggara areal peribadatan. Sisa-sisa bangunan rumah panggung konstruksi kayu yang telah menjadi arang ditemukan di atas talud-talud batu persegi dan sebagian masih tersisa di dekat Candi Teras III. Sisa-sisa tanggul atau bendungan ditemukan di sebelah barat daya areal peribadatan. Jalan makadam yang cukup lebar untuk evakuasi warga ditemukan di sebelah tenggara areal peribadatan atau di sebelah barat laut talud-talud batu persegi dan boulder. Tidak ditemukannya kerangka manusia akibat semburan awan panas di situs ini memperkuat bukti bahwa mereka telah melarikan diri sebelum datangnya bencana tersebut.

lorongarkeologi.id merupakan media online yang memiliki visi arkeologi sebagai inspirasi untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Media ini berupaya menjembatani masa lalu dengan masa kini untuk menuju masa depan yang lebih baik. Kemajuan hanya bisa diketahui jika kita bercermin pada apa yang sudah kita lakukan pada masa lalu dan kesinambungannya dengan masa kini. Itulah pentingnya belajar arkeologi untuk menelusuri sejarah peradaban masa lalu dan mengetahui apa yang sudah dicapai selama ini. Namun kehidupan tidak berhenti di sini, kehidupan berjalan terus menyusuri lorong waktu untuk menyongsong dan membentuk peradaban masa depan.

Foto: Baskoro D Tjahjono

Logo lorongarkeologi.id juga terinspirasi dari jalan makadam di Dusun Liyangan Kuna yang seolah memasuki lorong waktu membawa kita berjalan dari masa lalu, masa kini, dan menuju ke masa depan. Adapun konsep logo tersebut sebagai berikut:

 

Baskoro D. Tjahjono

Konsep Logo: Kano Ageng A. P.

 

 

No Comments

Post A Comment