“RAKIT KULIM” MENJEMPUT RAJA - lorongarkeologi.id
15820
post-template-default,single,single-post,postid-15820,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

“RAKIT KULIM” MENJEMPUT RAJA

 

Dari pertemuan di bukit bertingkah

Dekat keloyang demikian warkah

Kedua datuk saling bermusyawarah

Walau akhirnya tiada searah

 

Bertikai patih dengan tumenggung

Maksut tuk patih tiada di dukung

Tumenggung mengambil jalan menikung

Niat tuk patih tetap berlangsung (Darmawi, 2006)

 

Sepenggal syair ini menggambarkan permusyawarahan antara Datuk Perpatih dengan Datuk Tumenggung Kuning yang tidak sejalan ketika sang Patih berencana hendak menjemput raja dari Malaka. Bertahun-tahun sang raja tidak pernah datang ke Kerajaan Indragiri dan hanya memerintah dari Malaka, pelaksana tugas kerajaan sehari-hari diserahkan kepada kedua datuk itu.

Datuk Patih akhirnya mengambil keputusan tetap melakukan penjemputan seorang raja idaman bernama “Raja Narasinga II” yang bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Iskandarsyah Johan Zirullah Filalam yang dikenal gagah perkasa (Saharan, 2013).

 

Datuk patih mengambil keputusan

Tetap untuk melakukan penjemputan

Kekota malaka arah tujuan

Rakit kulim kenderaan dinamakan (Darmawi, 2006)

 

Rakit Kulim” adalah kendaraan yang akan digunakan untuk menjemput sang raja, berupa tiga buah perahu terbuat dari kayu kulim (scorodocarpus borneensis) yang dirakit menjadi satu. Datuk Perpatih bersama abdinya yang bernama Tun kecik mencoba mengarungi sungai keruh (Sungai Indragiri) menuju Selat Malaka.

Akhirnya sang rajapun memenuhi permintaan rakyatnya, maka berangkatlah beliau menggunakan rakit kulim ke Kerajaan Indragiri dan bertahta di Pekantua, sebelum membangun istana yang baru di Negeri Menduyan (Kotalama) (Saharan, 2013).

 

Benteng Tanpa Istana

Situs Kotalama yang terletak di Desa Kotalama, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, diyakini sebagai salah satu bekas tapak Kerajaan Indragiri. Situs ini dikelilingi oleh benteng tanah seluas 16,19 Ha serta parit keliling. Di sebelah barat areal benteng terdapat sebuah danau yang dikenal dengan nama Danau Menduyan.

 

 

Dalam areal benteng tanah ini terdapat beberapa kompleks makam, yaitu kompleks makam Narasinga II, kompleks makam Usman Fadillah, kompleks makam Panglima Adisumpu Jiksu Besi, dan kompleks makam Kasedengan. Kompleks-kompleks makam tersebut berada di sisi timur dan utara dalam areal benteng tanah itu. Salah satu komponen penting yang menunjukkan bekas tapak kerajaan adalah istana raja. Namun sampai saat ini sisa-sisa istana raja belum berhasil ditemukan, demikian juga komponen lain seperti masjid kerajaan juga tidak ditemukan.

Penelitian arkeologi yang telah dilakukan beberapa kali oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara di situs ini belum berhasil menemukan sisa-sisa struktur bangunan. Namun sisa-sisa aktivitas manusia berupa temuan fragmen gerabah, fragmen keramik asing, fragmen bata, fragmen lantai terakota, dan fragmen logam banyak dijumpai di Situs Kotalama. Hasil analisis keramik asing menunjukkan adanya bekas permukiman manusia yang berlangsung antara abad XV – XVII Masehi, sedangkan temuan berupa fragmen bata dan fragmen lantai terakota mengindikasikan bahwa di dalam areal benteng tanah itu pernah ada bangunan monumental (Tjahjono dkk., 2016).

 

Makam Raja Narasinga II. (Dok: Balai Arkeologi Sumatera Utara)

 

Makam Kristen di antara makam Islam

Raja Narasinga II adalah Sultan pertama yang menetap di Kerajaan Indragiri. Ketika wafat beliau dimakamkan di Indragiri di Negeri Menduyan (Kotalama). Kompleks makam Raja Narasinga II berada di areal benteng tanah di Situs Kotalama, yang merupakan kompleks makam utama.

Selain makam Raja Narasinga II, di kompleks makam Raja Narasinga II ada 11 makam pendamping, yaitu: makam Sultan Usulludin, putra mahkota yang kemudian menggantikan Narasinga II menjadi Sultan, makam Jenderal Verdicho Marloce, serta makam para menteri pada masa pemerintahan Raja Narasinga II. Yang menarik di kompleks makam Islam ini ada sebuah makam yang nisannya diberi tanda salib yang merupakan simbol dalam agama Kristen.

Makam ini adalah makam Jenderal Verdicho Marloce, panglima perang Portugis yang ditawan Narasinga II dalam peperangan merebut Malaka. Setelah dibawa ke Indragiri dia diangkat menjadi menteri ekonomi kelautan. Karena memiliki kemampuan dan kesetiaan kepada raja, maka ketika wafat dimakamkan sejajar dengan menteri kerajaan lain dengan tidak menghilangkan identitasnya sebagai pemeluk agama Nasrani (Saharan, 2012).

 

Makam Jenderal Verdicho Marloce. (Dok: Baskoro D. Tjahjono)

 

Rengat Istana terakhir Kerajaan Indragiri

Sungai Indragiri tampaknya merupakan urat nadi kehidupan Kerajaan Indragiri pada masa lalu, karena di sepanjang sungai inilah pusat-pusat kerajaan itu didirikan. Keberadaan Sungai Indragiri ini merupakan prasarana jalur transportasi yang menghubungkan daerah pedalaman dengan kawasan pesisir pantai timur Sumatera. Kerajaan Indragiri berdiri pada abad XVI Masehi, dengan ibukotanya Pekantua yang terletak di tepi Sungai Indragiri. Sebelum Kerajaan Indragiri berdiri, di Karitang telah ada Kerajaan Keritang yang terletak di tepi Sungai Gangsal atau antara Sungai Indragiri  dengan Tungkal (Anonim, 1977/1978).

 

Sungai Indragiri. (Dok: Baskoro D. Tjahjono)

 

Setelah raja Keritang ditawan oleh Malaka, maka puteranya yang bernama Narasinga dinobatkan menjadi raja di Indragiri pada tahun 1508. Narasinga yang dikenal sebagai Narasinga II memindahkan ibukota kerajaan dari Pekantua ke Menduyan (Kota Lama), lebih kurang berjarak 50 km kearah hulu Sungai Indragiri. Tahun 1765, pada masa pemerintahan raja Kecik Besar yang bergelar Sultan Sunan, pusat pemerintahan Kerajaan Indragiri dipindahkan ke Japura atau Raja Pura. Di Japura, tinggalan arkeologis yang masih tersisa adalah makam raja-raja Indragiri. Selanjutnya tahun 1815, pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim, ibukota Kerajaan Indragiri dipindahkan ke Rengat (Anonim, 1977/1978).

 

Makam Raja-raja Indragiri di Japura. (Dok: Baskoro D. Tjahjono)

 

Rengat merupakan pusat kerajaan Indragiri yang paling akhir di antara pusat-pusat yang lain, sehingga tinggalan-tinggalan arkeologisnya masih cukup lengkap. Komponen-komponen kompleks kerajaan yang masih terlihat adalah danau raja, istana tinggi, masjid kerajaan, dan kompleks makam raja-raja Indragiri. Sedangkan istana raja sudah tidak tampak lagi karena tergerus oleh Sungai Indragiri. Menurut Saharan, juru pelihara Situs Kotalama, sisa-sisa tinggalan istana raja saat ini berada di sebelah utara Sungai Indragiri, namun sudah terpendam tanah. Sebagai gantinya di sebelah selatan sungai didirikan replika istana raja yang mirip dengan bentuk aslinya.

 

Foto Istana Kasultanan Indragiri asli (atas) dan Replika Istana Kasultanan Indragiri (bawah). (Dok: Balai Arkeologi Sumatera Utara)

 

Baskoro D. Tjahjono

 

Acuan

Anonim. 1977/1978. Sejarah Daerah Riau. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Darmawi, Achmad. 2006. Syair Sri Gemilang.

Tjahjono, Baskoro. dkk. 2016. Ekskavasi Jejak Kerajaan Indragiri di Situs Kotalama, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Laporan Penelitian Arkeologi.

Saharan. 2012. Deskripsi Makam Raja-raja Indragiri (Kawasan Cagar Budaya) Peninggalan Bersejarah  Kerajaan Indragiri di Desa Kotalama, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

_______. 2013. Merangkai Zaman Menjemput Peradaban.

 

 

No Comments

Post A Comment