PUYANG OLEH TEATER POTLOT, UPAYA MENOLAK KUALAT MERUSAK ALAM - lorongarkeologi.id
15799
post-template-default,single,single-post,postid-15799,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

PUYANG OLEH TEATER POTLOT, UPAYA MENOLAK KUALAT MERUSAK ALAM

 

Pertunjukan “Puyang” oleh Teater Potlot di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Palembang, Kamis (15/02/2018). Foto Dok Teater Potlot

 

BERBAGAI kerusakan bentang alam yang terjadi di berbagai belahan bumi, termasuk di Indonesia, itu membuktikan bahwa manusia hari ini telah mengkhianati amanah para leluhurnya, yang terbukti sangat menjaga keharmonisan dengan alam semesta. “Kita telah kualat dengan para leluhur, sehingga berbagai bencana alam dan kemanusiaan melanda kita hari ini,” kata Conie Sema, seusai pertunjukan Puyang oleh Teater Potlot di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Palembang, Kamis (15/02/2018).

Conie Sema yang menyutradarai Puyang yang ditulis T. Wijaya, menjelaskan kerusakan bentang alam tersebut memang sebagai konsekwensi meningkatnya jumlah manusia sehingga membutuhkan banyak lahan, baik untuk pemukiman, lahan pertanian, pertambangan, perkebunan, dan lainnya. Namun saat mengelola lahan tersebut, manusia tidak mempertimbangkan keberadaan ekosistem yang ada, sehingga merugikan makhluk hidup lainnya. Setelah makhluk hidup lainnya rusak atau musnah, manusia pula yang akan merasakan dampaknya, baik berupa bencana alam atau berbagai penyakit. “Itulah kualat yang Teater Potlot maksud,” ujar Conie yang sebelumnya menulis dan menyutradarai “Rawa Gambut” yang dipentaskan di sejumlah kota di Sumatera.

“Kita butuh tempat tinggal, kita butuh makan, tapi jangan rusak semuanya. Kita harus menjaga keseimbangan untuk masa depan kita. Kita harus mengingat kembali amanah leluhur kita, termasuk yang diamanahkan Raja Sriwijaya untuk menjaga lingkungan hidup,” kata Conie.

Tokoh puyang adalah harimau sumatera. Puyang yang artinya nenek moyang atau leluhur itu salah satu penyebutan masyarakat yang hidup di sekitar hutan terhadap harimau sumatera. Ada yang menyebutnya mbah, datuk, dan lainnya, yang artinya tetap memposisikannya sebagai orang lebih tua atau leluhur. Dengan menyebut “puyang” mereka berharap tidak akan diganggu harimau sumatera saat masuk hutan.

Itu dulu. Saat ini sebagian manusia sudah lupa. Ketika bertemu harimau sumatera, sebagian manusia justru memburunya. Menjerat atau menembaknya. Sementara hutan yang menjadi rumah atau koridor harimau sumatera dihancurkan, dijadikan perkebunan, pertanian, pemukiman atau digali tanah dan kandungan mineralnya.

 

 

Kondisi tersebut yang disampaikan puyang dalam pertunjukan Teater Potlot tersebut. “Mana rumahku di sini? Mana anak dan cucuku? Mana jalanku?” Tanya puyang saat di utara, selatan, timur dan barat. Pertanyaan itu dijawab manusia dengan, “Jangan ganggu kebunku!”, dan manusia pun menembaki puyang dengan senjata api. Puyang berlari sambil bertanya, “Kenapa manusia itu ingin menembakku? Apa salahku?”

Meskipun hidupnya terus terancam, puyang tidak memiliki keinginan untuk membalas atau menyerang manusia. “Puyang tidak punya niat menyerang manusia itu. Dia teringat dengan pesan orangtuanya agar menjaga manusia. Manusia adalah saudara tua yang harus dijaga, dilindungi, seperti di istana Tuhan.”

PERTUNJUKAN dengan aktor Robi Akbar dan Elok Teja S, disaksikan seratusan penonton yang merupakan penggiat lingkungan hidup, perwakilan perusahaan, pejabat pemerintah, pekerja budaya, dan masyarakat, yang setelah pertunjukan tersebut mendeklarasikan Forum Dangku-Meranti, sebuah bentang alam yang terletak di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), yang digagas KLHK, Pemerintah Sumsel, Pemerintah Muba dan Kelola Sendang.

Dangku-Meranti merupakan kawasan lindung yang masuk dalam bentang alam Sendang (Taman Nasional Sembilang-Suaka Margasatwa Dangku), yang saat ini kondisi kian terancam sebagai akibat perambahan, pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan, pemukiman dan lainnya.

Sendang juga merupakan koridor harimau sumatera sejak ribuan tahun lalu, yang menghubungkan jelajah harimau sumatera dari wilayah dataran tinggi Bukit Barisan hingga ke lahan gambut di pesisir timur Sumatera.

 

Amanah Raja Sriwijaya

Dr. Najib Asmani, staf khusus Gubernur Sumsel bidang perubahan iklim, menyatakan apa yang disampaikan tokoh puyang yang ditampilkan Teater Potlot merupakan nilai-nilai yang diamanahkan Raja Sriwijaya yang terbaca dalam Prasasti Talang Tuwo (684 Masehi).

 

 

“Apa yang disampaikan puyang untuk menjaga manusia itu sesuai dengan amanah raja Kerajaan Sriwijaya saat membangun Taman Sriksetra yang dipersembahkan sang raja untuk semua makhluk hidup, agar mereka hidup sejahtera dan bahagia. Bentang alam itu bukan hanya untuk manusia. Sehingga para satwa, seperti halnya harimau sumatera, sejak saat itu sangat menghormati manusia atau tidak mengganggu manusia, sehingga wajar jika di masyarakat masih ada keyakinan antara manusia dan harimau itu untuk saling menjaga atau melindungi, seperti masih diyakini masyarakat yang hidup dan menetap di wilayah Bukitbarisan,” kata Najib.

Artinya, kata Najib, belajar dari amanah Raja Sriwijaya, sebuah bentang alam itu hanya membagi berbagai kepentingan, “Tidak boleh saling mendominasi,” ujarnya.

Sementara Eka Budianta, sastrawan dan juga penggiat lingkungan hidup, mengatakan puyang bukan kesadaran masa lalu, juga kesadaran hari ini dan esok. “Kita menjaga lingkungan bukan karena ingin masuk surga atau neraka, tapi karena kita bersama anak dan keturunan kita ingin hidup sehat, bahagia, sehingga berusia panjang. Itulah yang diinginkan leluhur kita, dan kita pun berharap seperti mereka, menjadi nenek moyang, yang dikenang karena turut menjaga lingkungan hidup seperti nenek moyang kita,” kata Eka.*

 

 

No Comments

Post A Comment