Probabilitas Aku Massa dan Ruang Ekologis di Jalan Kota - lorongarkeologi.id
16117
post-template-default,single,single-post,postid-16117,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Probabilitas Aku Massa dan Ruang Ekologis di Jalan Kota

Transisi dari ruang tradisional ke ruang urban, dan waktu yang bergerak begitu lamban. (Foto: Nopri Ismi)

 

Talang Tuwo Urban Sreet Theatre Festival (TTUST Festival) adalah sebuah gagasan kegiatan membaca dan memaknai  alam melalui platform teater tradisi dan masa kini. Kegiatan ini akan berlangsung reguler dengan menghadirkan berbagai individu dan kelompok masyarakat seni dan budaya yang menerjemahkan teater sebagai ruang kesadaran di ruang publik bersama tubuh ekologisnya. Dengan pola pertunjukan outdoor di pusat keramaian itu, diharapkan berimbas lebih meluas dan membuka ruang partisipasi masyarakat, sebagai salah satu kegiatan teater menjaga bentang alam dan bentang budaya.

Talang Tuwo, yang dijadikan ikon TTUST Festival ini dimaksudkan untuk membaca dan memaknai sebuah teks (prasasti) pemikiran masa lalu yang visioner dan tetap aktual dalam diskursus manusia dan alam hari ini. Prasasti Talang Tuwo ditulis Raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa, 23 Maret 684 Masehi itu, adalah pesan seorang raja yang meminta rakyatnya membangun Taman Sriksetra, sebuah taman berisi berbagai jenis tanaman dengan tata kelola air yang baik. Sebuah taman yang memberi ruang hidup bagi manusia dan semua makhluk hidup. Sebuah taman kosmologis yang mencapai hubungan sempurna (mencapai puncak kesucian) antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan tuhan, sang pencipta semesta. Taman itulah, yang menurut Dapunta Hyang adalah jalan menuju kebahagiaan.

 

The Landscape Of Talang Tuwo

(Foto: Nopri Ismi)

The Landscape Of Talang Tuwo, yang ditampilkan teater Potlot di Pedestrian Sudirman Palembang, Sabtu malam ini (23/03/2019), adalah langkah awal mencoba bagaimana teater melihat dan memaknai pergerakan transisi dari tubuh teater dengan tubuh massa dalam lanskap kosmologi masa kini. Gradasi peristiwa aku teater dan aku massa seperti dua arus yang berjalan dan mencari kemungkinan probabilitas gerak, tanda, dan bebunyian, untuk mendapatkan moment pendek pertunjukan teks. Lalu mengurainya secara sosiologis dengan latar budaya desa dan kota, menjadi identitas tubuh yang cacat atau berhenti oleh diksi-diksi pertunjukan teater yang telah lama mati.

Pergerakan waktu di jalan kota itu, terlihat begitu lamban. Seakan memberi peluang tubuh massa masuk dan menyusun fragmentasi dari setiap detik gradasi visual yang berubah in-out fokus dari aku teater dan aku massa bersama penggalan snapshot peristiwa dan moment yang tengah berlangsung (live streaming). Teater dan tubuh aktornya terlihat seperti ritual gerak, suara, dan cahaya yang bersama-sama gerak alam, berjalan menuju pemakaman akhir di jalan kota. Ia seperti gerombolan buku sejarah di bangku kayu. Dibaca beramai-ramai di atas aspal jalan, lalu dibangunkan dengan daya imaji estetik dan etik, membangun dimensi struktur secara fungsional untuk menghasilkan narasi publik (platform festival) atau tontonan teater penuh ‘cacat’ di hamparan teks aku massa. Berulang-ulang merekam dan memainkan arsip atau dokumentasi peristiwa yang telah lama dimakamkan. Dibangunkan, diinventarisasi, dilindungi, dan dikembangkan sebagai simbol atau produk budaya manusia memaknai bentang alam.

 

Gerimis dan pohon artifisial membangun atmosfir suasana kota tanpa kesadaran waktu. (Foto: Nopri Ismi)

 

The Landscape Of Talang Tuwo adalah representasi jalan pulang dari jutaan titik spot yang sekarat antara manusia dan alam dalam penguasaan pengelolaan bentang alam dan narasi konservasi yang telah ‘gagal’ menjaganya. Teater lalu hadir membenamkan tubuhnya di sana. Tak ubahnya fenomena pengungsian masyarakat tradisi dari ruang budayanya akibat perubahan lanskap atau bentang alam. Kampung-kampung adat dan entitas budaya serta beragam objek kebudayaannya musnah. Di sana, seperti tidak membutuhkan lagi nilai-nilai dan keniscayaan Tuhan bersama kuasa semesta. Manusia bergerak cepat menjelaskan biografi dirinya dengan ukuran dan target, penguatan organisasi dan jaringan korporasi antarnegara, teknologi, modal, dan pasar konsumen.  Serta agenda dan isu pengelolaan lingkungan berkelanjutan (sustainable landscape), membangun budaya dan masyarakat baru. Dengan target membahagiakan dan memakmurkan manusia.

Skema mengamankan kebahagian manusia itu, adalah buku bunga rampai tragedi lingkungan hari ini yang dibaca Teater Potlot sebagai kontingensi gerakan yang ‘noise’ membaca dan memaknai bentang alam. Tubuh teater menjadi tubuh sejarah rupa yang noise yang keluar dari kesepakatan awalnya, sebagai tubuh kebudayaan antarpulau bernama nusantara. Tubuh teater menjadi medan akulturasi manusia bahari yang pasca kolonial dipaksa berhadap-hadapan dengan manusia daratan. Medan akulturasi tersebut bergerak terus di tubuh teater sebagai aku massa hari ini. Teater mungkin bagian narasi besar tubuh yang ditaklukkan oleh sistem dan nilai kebudayaan daratan. Tubuh “aku daratan” bersinergi dengan massa benua (kontinental), menata kebudayaan dari properti teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuasaan politik.

Tubuh benua itu masuk ke medan akulturasi budaya membawa produk akal budi manusia memaknai alam. Terutama sistem ekonomi (neoliberal) dan kekuasaan politik. Skemanya adalah penguasaan bentang alam. Menguasai dan mengelola sumberdaya alam secara maksimal bagi manusia (antroposentrisme). Membangun politik etik ekologis di masyarakat bersama stakeholder sebagai kamuflase dari perusakan dan musnahnya keragaman hayati bersama ekosistem kehidupannya. Kamuflase hijau itu disebar dari bukit sampai lautan. Dari dusun hingga ke kota. Seperti yang lain, mungkin tubuh ekologis teater pun ikut dimatikan kesadaran spiritualitasnya. Akibat konflik di medan akulturasi alam dan lingkungannya. Tergerusnya origin budaya tradisional akibat perubahan lanskap dan tata kehidupan. Antropos bahari serta melayu hari ini pun menjadi antropos urban yang masih beralamat lengkap asal kampung tradisinya. Teater yang setiap lebaran kepingin pulang ke kampung halamannya.

(Foto: Nopri Ismi)

“Probabilitas aku massa di  jalan raya. Adakah penanda lain dari kejadian waktu dan sepi paling sepi. Tetabuhan dan bunyi yang ramai ternyata membutuhkan ruang. Kita pun mencoba-coba bermain kontingensi sebagai manusia dari keniscayaan tuhan, membaca jagat alam. Teater lalu datang dengan mimpi fantastik dengan moment-moment pendek yang kontemplatif dan rasional. Berharap ada peluang baru dari masa serba acak dan cacat tubuh. Ia pergi ke jalan kota berharap ada ketersambungan dari gradasi tubuh sosialnya. Mungkin menjadi representasi teater ‘cacat’ tubuh di tengah kerumunan manusia yang bergerak serba sama, serba rata, mendingin dari jelajah kreatifnya. Atau sebaliknya menjadi urban yang sibuk menyusun metafora masa lalu dan masa nanti. Berkelana bersama imaji hantu-hantu yang berjarak hanya satu telapak tangan dari matanya…” (Antologi Halte-Conie Sema)

 

Mungkin tubuh ekologis teater pun ikut dimatikan kesadaran spiritualitasnya. Akibat konflik di medan akulturasi budaya. (Foto: Nopri Ismi)

 

Teater Pulang Ke Dusun

Sampai di kampung halamannya, di dusun kelahirannya, teater bertemu Macbeth, Hamlet, Oedipus, Julius Caesar, Lear, Dionysus, serta kisah para raja dan dewa Yunani. Mereka terlihat cukup serius  membaca mitos dan legenda Yunani kuno, memaknai kembali jejak budaya benua jauh tersebut. Beramai-ramai memungut pecahan artefak dari situs dramaturg daratan Eropa Selatan itu. Dusun berubah seperti altar Teater Dionysus Eleuthereus, di lereng selatan Akropolis Athena.

Teater pun disibukkan membahas konflik antarmanusia. Menyusun agenda dan proyek-proyek memanusiakan manusia — kebebasan dan keadilan serta kebahagiaan manusia. Teater itu kembali belajar metode teater klasik kontinental, atau metode post kalasik lainnya, membahas duni pertunjukan dan persoalan kegelisahan tubuhnya yang ingin merdeka. Mengeksplorasi berbagai piranti bahasa, teknologi visual yang memungkinkan menjadi bahasa baru sebuah platform pertunjukan teater.  Teater tua umurnya dan teater muda umurnya hiruk pikuk tumpah di jalan, di gedung-gedung kebudayaan, di kampus dan ruang pendidikan, di kafe-kafe, dan sanggar kesenian. Mereka bertemu dan berdiskusi membahas agenda keseniannya bersama program negara dan hibah para filantropi kesenian. Selebrasi kegiatan seni dan budaya tersebut mengalir dari bukit sampai ke pesisir pantai, dari kota besar sampai kota kecil di pelosok pulau.

 

Antropos, bunga-bunga dan payung langit. Tubuh massa yang tak lagi membutuhkan ruang ekologis. (Foto: Nopri Ismi)

 

Teater di jalan kota, di tubuh massa seperti tidak lagi membutuhkan ruang ekologis kebudayaan, memaknai alam. Mereka ada di sebuah tempat bernama aku lirik atau aku teater sebagai penanda menuju puncak karya dan kerja kreatifnya. Diskusi oksigen, air, udara bersih, sumber makanan, serta ancaman penyakit, tak begitu menarik. Begitu juga ekspansi penguasaan pengelolaan bentang alam dan sumber daya alam oleh korporasi dari bukit sampai pesisir, menghabisi lahan kehidupan masyarakat tradisional, tidak begitu seksi jadi tema diskusi di kampungnya.

Suasana tersebut menjadi titik noise dari fenomena transisi budaya di jalan raya. Aku teater dan aku massa menjadi in-out gradasi cahaya yang berwarna-warni dengan perubahan tak terduga. Cahaya lampu di pusat perbelanjaan, advertensi media ruang, pergerakan lampu kendaraan, dan lampu mercuri jalan, mempertemukan suasana shepia dan efek cahaya mengingatkan kenangan masa lalu. Bersatu dalam ruang halte (aku teater) yang dibahasakan chaos dan sekarat (emergensi). Sampai klimaksnya, tumpah ruah menjadi tubuh-tubuh yang serba sama dan serba seragam (monokultur).

 

Halte menjadi pertemuan in-out ‘aku teater’ dan ‘aku massa’ dalam ruang sekarat. (Foto: Nopri Ismi)

 

Kehidupan urban adalah penerjemahan bebas dari transisi budaya masa lalu, kini, dan nanti. Para petani meninggalkan dusun menjadi buruh atau pedagang di kota. Sawah dan lebak menjadi areal perkebunan. Muara sungai hingga ranting sungai ditimbun menjadi kanal-kanal perkebunan sawit dan akasia. Beribu jenis tanaman khas musnah. Artefak dan jejak peradaban musnah. Berbagai ekosistem flora dan fauna lenyap berubah ekosistem baru kehidupan yakni  forestry industri yang menjanjikan kemakmuran manusia. Negara pun memfasilitasi perusakan tersebut melalui surat konsesi dan hak guna usaha (HGU) atas nama devisa negara. Maka meluaslah kebun-kebun sawit dan pabrik pemasok minyak goreng dan energi biodiesel atau biofuel. Meluaslah kebun akasia dan pabrik produksi kertas dan tissu terbesar di dunia.

Mereka ada di dusun kita. Di dusun yang mempertontonkan teater dari benua jauh. Teater yang sibuk membahas berbagai makna kehidupan filosofis dalam lanskap mitologi dan legenda Yunani kuno itu. Atau mengucapkan narasi berulang-ulang soal kemanusian dan dunia kreatif pengkaryaan. Mungkinkah teater sebagai tubuh massa dan tubuh teater sudah sampai pada masa diam dan speechless begitu serius. Pendiaman yang ditafsirkan sebagai ketidakmampuan dirinya mengatasi sendiri problem dirinya.

 

Talang Tuwo dan Manusia Bahagia

Strategi kebudayaan kita hari ini adalah agenda kerja menciptakan manusia Indonesia yang bahagia. Bahagia yang seperti apa? Prasasti Talang Tuwo memaknai kebahagian itu sebagai buddhi (akal budi) atau buddayah (budaya) sebagai kecerdasan manusia mengelola bentang alam yang adil dan lestari, serta bermanfaat untuk kebaikan semua makhluk hidup dan benda di bumi ini. Konsep bahagia Talang Tuwo adalah bagaimana manusia mencapai kesejahteraan dan  kemakmurannya, tanpa melukai dan merampas hak-hak makhluk hidup lainnya di jagat alam ini. “Semua bahagia, tak ada yang terluka.”

 

Prasasti Talang Tuwo amanah Raja Sriwijaya (684 M)

 

“Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya denganbendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan,dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan.” (Penggalan teks Prasasti Talang Tuwo, diterjemahkan George Cœdès , arkeolog dan sejarawan Prancis abad ke-20.)

Kebahagiaan bagi semua makhluk hidup dalam teks Talang Tuwo tersebut sekaligus mengingatkan dan mengkritik antroposentrisme yang menempatkan manusia adalah segala-galanya. Prof. Dr. Damayanti Buchori, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) yang hadir pada TTUST Festival malam itu mengatakan, pemikiran antroposentrisme itu mendapat kritik Arne Naess, filsuf lingkungan hidup asal Norwegia. Damayanti mengutip Naess, bahwa manusia dan lingkungan harus dihargai sama tinggi. Seluruh makhluk hidup harus setara. Pandangan Naess ini kemudian menjadi salah satu mazhab dalam wacana lingkungan hidup yang disebut Deep Ecology.

Secara garis besar pendekatan Deep Ecology Arne Naess dalam bukunya “Ecology, Community and Lifestyle” sangat menekankan perubahan gaya hidup manusia. Krisis ekologi yang terjadi saat ini bersumber pada perilaku manusia. Ini terlihat dari pola produksi dan konsumsi yang tidak ekologis, bahkan teknologi ciptaan manusia lebih banyak digunakan untuk merusak lingkungan langsung ataupun tidak.

“Nilai-nilai luhur hubungan manusia dengan alam sebagaimana yang disampaikan Naess, nyatanya sudah diperintahkan untuk dijaga oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa, Raja Sriwijaya pada abad ke-7 atau 23 Maret 684. Bentuknya dengan membuat Taman Sriksetra dengan isi pesan, semoga semua yang ditanam dan bendungan beserta kolam-kolam yang digunakan, membawa kebaikan semua makhluk sebagai jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan,” ujar Damayanti.

Para pendukung The Landscape Of Talang Tuwo Teater Potlot, Hasan, Djibun Poe, Sonia Anisah Utami, Yuni Indriyanti, Rohul Choir Baniansya, Rani Anggraini, Dandi Rianto, Sari Febri Andini, Angel, Nandra, Zaky, Audy. Pimpinan produksi T. Wijaya. Publikasi Nopri Ismi , Tasma, dan Adam.

Dalam kegiatan ini juga digelar Orasi Publik yang menghadirkan Dr. Najib Asmani, Prof. Dr. Damayanti Buchori, Dr. Yenrizal Tarmizi, dan Conie Sema.

Kegiatan TTUST Festival ini didukung oleh ZSL Indonesia, Kolega Sumsel, Mongabay Indonesia, Dinas Pariwisata Kota Palembang, serta mahasiswa dan dosen Sendratasik Universitas PGRI Palembang. Juga diramaikan kegiatan penulisan esai dan fotografi dari Forum Perhimpunan Pers Mahasiswa Sumsel.  ***

 

Catatan Talang Tuwo Urban Street Theatre Festival

Conie Sema

 

 

No Comments

Post A Comment