PERUT DULU, BARU KEBUDAYAAN: NASIB KEPURBAKALAAN INDONESIA - lorongarkeologi.id
15963
post-template-default,single,single-post,postid-15963,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Kepala rajanaga

PERUT DULU, BARU KEBUDAYAAN: NASIB KEPURBAKALAAN INDONESIA

Kalau ingin melihat yoni terbesar sekaligus terindah buah tangan para seniman Majapahit, datang saja ke Dusun Sedah, Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Jombang (Jawa Timur), jaraknya sekitar 10 km di sebelah baratdaya Situs Trowulan yang dikenal sebagai situs Kota Majapahit.  Letaknya yang kini di tengah sawah, menambah wibawa sosok naga bermahkota yang bertengger di bagian bawah cerat yoni itu.  Hiasan yang raya dan rumit yang terukir di kepala naga, akan mengundang decak kagum para  penikmat seni

Lalu mungkin mereka menjadi gusar, tatkala melihat bekas tatahan baru di leher naga yang membentuk garis vertikal yang agak dalam.    Itu adalah jejak alat yang digunakan seorang pencuri untuk memotong kepala naga itu, ujar juru pelihara situs yang dikenal oleh penduduk sebagai Situs Yoni Gambar. Menurut keterangan juru pelihara, ternyata upaya pencurian karya seni yang dibuat seniman Majapahit dengan motivasi religius itu, dilakukan  pada tahun 1969 untuk dijual. Untung saja maksud jahat itu dapat digagalkan oleh penduduk sekitar.

Kepala rajanaga sebagai hiasan yoni di Sedah, yang nyaris dipenggal pencuri.

Jangan heran apabila di kawasan Situs Trowulan, banyak dijumpai yoni yang telah raib hiasan naganya. Nasib serupa dialami pula oleh arca-arca pada sejumlah besar situs masa Hindu-Buddha di Indonesia. Arca-arca tanpa kepala menjadi pemandangan yang umum dijumpai pada situs-situs percandian di Indonesia. Maklum saja, karya seni bernilai tinggi dibuat seniman keraton masa lalu di bagian kepala, baik kepala naga atau kepala bermacam jenis arca. Sekarang bila diukur dengan uang, harga satu kepala ada yang mencapai puluhan juta rupiah.

Bukan hanya arca yang dicuri dan dirusak orang. Artefak-artefak dari jaman prasejarah sampai masa kolonial, apakah itu watu kenong, sapundu (patung khas Dayak Kalimantan),pondasi candi dan bangunan-bangunan kuna lainnya, pun tak luput dari tangan jahil.  Motivasi yang paling dominan adalah memburu harta karun, sebagian lainnya karena  motivasi yang bersifat kesukuan dan agama.

Sejak zaman kolonial

Sebenarnya, wajah muram kepurbakalaan Indonesia  telah berlangsung lama, bahkan sebelum berdirinya dinas purbakala di Indonesia. Catatan Belanda memberitakan banyak benda-benda purbakala dari Indonesia dilarikan ke luar negeri, baik karena pemberian hadiah dari penguasa maupun karena dicuri orang. Tercatat Raja Chulalongkorn II atau Rama V dari Thailand datang ke Jawa  pada tahun 1896 dan pulang memboyong artefak-artefak bernilai tinggi dari Candi Borobudur. Ia telah mengantongi surat ijin tertanggal 17 Juli 1896 dari Residen Kedu, C.L. Hartmann yang mengabulkan raja dari Thailand itu membawa 5 arca Buddha, 2 arca Singa, arca raksasa dan beberapa ornamen.

Pemberian hadiah barang purbakala itu ditentang oleh Dr. Groeneman, arkeolog Belanda.  Demikian pula dengan H.H. Patijn dan Niermeijer. Tetapi apa mau dikata, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu mengijinkan pemberian hadiah tersebut.

Pada masa itu juga terjadi wabah demam barang kuno di Eropa. Munculnya aliran Romantik di akhir abad ke-18, membuat orang tergila-gila pada benda antik. Perburuan terhadap benda-benda bersejarah di Indonesia pun meningkat pesat.  Pernah seorang residen di Kediri memboyong 200 arca ke rumahnya untuk dipilih oleh gubernur Jenderal sebagai bingkisan. Untung saja tak satu pun yang memenuhi selera penguasa itu, lalu arca-arca itu dibiarkan terlantar.

Di tengah kemelut perburuan benda-benda kuno itu, untung saja ada pihak-pihak yang menyadari kekeliruan para pemburu harta tersebut. Pada tahun 1900 orang-orang yang sadar itu mengadakan seminar di Dresden, Belanda. Seminar menghasilkan kesepakatan bahwa orang tak berhak mengubah atau menambah satu bangunan kuno dengan gaya dan corak tak sejaman. Pada tahun 1901, pemerintah Hindia Belanda membentuk komisi yang menangani masalah peninggalan purbakala, Comissie in Netherlansch Indie voor Oudheidkundige Onder zoek op Java en Madura. Badan ini dipimpin oleh Dr. J.L.A. Brandes yang bertugas menangani kepurbakalaan di Indonesia. Komisi ini menyesali tindakan pemerintah Hindia Belanda sebelumnya yang memberikan hadiah berupa benda purbakala kepada tamu negara, seperti diberikan kepada Raja Siam.

Upaya-upaya

Sampai saat ini degradasi peninggalan purbakala terus-menerus berlangsung di seluruh Indonesia. Sebagian besar media massa memberitakan kepurbakalaan Indonesia dalam konteks pencurian, perusakan, penjarahan, terlantar, tidak terawat, dan kata-kata lain yang seolah-olah itulah takdir kepurbakalaan Indonesia. Berbagai pencurian dan penjarahan benda arkeologi, baik di darat maupun di perairan terus menerus berlansung. Hal yang mengkhawatirkan, karya warisan nenek moyang itu sebagian besar lari ke luar negeri, terutama Inggris, Jerman, AS.

Yang mengerikan, pencurian benda purbakala sekarang ini memiliki sindikat yang besar dan rapih. Dalam hal ini sedikitnya ada empat sindikasi yang terlibat secara langsung, yaitu kolektor Benda Cagar Budaya (BCB); broker atau pialang yang bertugas sebagai agen; pencari yang mengusahakan BCB; dan pencuri yang mengambil BCB dari lokasinya, baik di situs maupun tempat penyimpanan (Kedaulatan Rakyat, 7 Februari 2001).

Pada tahun 2002, Junus Satrio Atmodjo, Direktur Purbakala Dan Permuseuman, seperti yang pernah dilansir media massa beberapa waktu sebelumnya menyatakan bahwa penjarahan benda purbakala merajalela karena minimnya RI meratifikasi konvensi yang berkaitan dengan kepurbakalaan. Sampai saat ini (2002), RI baru meratifikasi satu konvensi yang lahir tahun 1954 tentang perlindungan benda cagar budaya ketika terjadi perang antarnegara maupun antaretnis. Pemerintah RI meratifikasi konvensi tersebut pada tahun 1967.

Lebih lanjut Junus menerangkan bahwa sebenarnya, ada beberapa konvensi lainnya yang perlu diratifikasi oleh pemerintah RI, yaitu konvensi pencegahan perdagangan jasad manusia purba (tahun 1970) dan konvensi pencegahan perdagangan benda cagar budaya dari dasar laut (2001). Indonesia memang kaya dengan benda-benda tersebut.

Berlakunya otonomi daerah beberapa tahun ini, dikhawatirkan akan menyebabkan degradasi sumberdaya arkeologis semakin meningkat. Banyak pemerintah di daerah yang tidak memiliki dana cukup untuk merawat tinggalan-tinggalan arkeologis di wilayahnya. Lembaga-lembaga purbakala yang mengelola sumberdaya arkeologi selama ini, telah mengantisipasi akan nasib benda dan situs purbakala dalam kaitannya dengan otonomi daerah. Direktorat Purbakala dan Permuseuman, misalnya, telah mencanangkan program  Manajemen Siaga Bencana pada tahun 2002, yang  terus digodok untuk disosialisasikan. Program ini untuk melatih sumberdaya manusia di lingkungan pemerintah daerah, baik pengetahuan akademik maupun teknis penanganan benda dan situs purbakala dalam kaitannya dengan ancaman bencana pada situs-situs arkeologi, baik bencana yang disebabkan oleh alam maupun akibat ulah manusia.

Takdir kah?

Salah satu sumberdaya arkeologi yang punya nasib paling buruk, adalah Situs Trowulan. Situs kota Majapahit yang luasnya 11 X 9 km ini sekarang compang-camping oleh berbagai aktivitas manusia yang merusak, menjarah, menghilangkan, mencuri dan menjual segala sisa-sisa peninggalan kota kuna itu. Penggalian sampai ke lapisan budaya Majapahit telah melenyapkan pondasi-pondasi bangunan bata, sumurkuna, serta artefak-artefak kota yang berada di dalam tanah, seperti keramik, tembikar dan terakota, benda emas dan perunggu. Diperkirakan lebih dari separuh situs-situs permukiman di kawasan Trowulan telah lenyap. Hal ini mungkin yang menyebabkan para arkeolog Indonesia pesimis mengusulkan Situs Trowulan sebagai warisan budaya dunia (world culture heritage). Padahal, situs ini merupakan satu-satunya situs kota awal tertua di Indonesia yang menggambarkan besar dan kompleksnya sebuah kota kuna.

Kepingan wajah dari terakota di Situs Trowulan. Wajah kota Majapahit pun tinggal kepingan-kepingan (foto: N.Rangkuti).

Rasa-rasanya, menanggulangi masalah perusakan, pencurian dan penjarahan sumberdaya arkeologi yang terus meningkat, amatlah berat dibebankan kepada lembaga-lembaga kepurbakalaan semata, apalagi dengan kucuran dana yang minim. Bagaimanapun, urusan ini menjadi urusan orang banyak. Bukankah peninggalan arkeologis merupakan ingatan kolektif tentang jatidiri kita semua. Kalau begitu, jangan arkeolog ditinggal sendirian. Para eksekutif, legislatif, pers, dan masyarakat, bergabunglah bahu membahu untuk merubah nasib kepurbakalaan Indonesia.

Pencurian, perusakan dan penjarahan peninggalan purbakala, ujung-ujung ke urusan perut. Orang awam pun tahu, perut dulu baru kebudayaan. Artinya kalau Indonesia sudah makmur dan sejahtera, barulah  mampu menggali kebudayaan sampai ke akar-akarnya. Kalau menunggu Indonesia makmur dan sejahtera yang entah kapan, semakin meranalah kepurbakalaan Indonesia. Nasib pun menjadi takdir.

 

Nurhadi Rangkuti

  • Tulisan ini dibuat pada tahun 2002.

 

No Comments

Post A Comment