MIKROKOSMOS-MAKROKOSMOS: KESELARASAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN - lorongarkeologi.id
16028
post-template-default,single,single-post,postid-16028,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

MIKROKOSMOS-MAKROKOSMOS: KESELARASAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN

Masa Hindu-Buddha di Indonesia

Pengaruh kebudayaan India yang dilatarbelakangi oleh dua agama besar menandai masa Hindu-Buddha di Indonesia dan mengantarkan bangsa Indonesia memasuki jaman sejarah. Masa itu berlangsung mulai abad pertama hingga akhir abad 15 atau awal abad 16 M., yang membawa perubahan besar dalam bidang keagamaan, susunan pemerintahan, maupun kehidupan masyarakat.

Temuan sebuah arca Buddha dari perunggu di Sempaga Sulawesi Selatan masih merupakan bukti tertua pengaruh kebudayaan India di Indonesia (Poesponagoro, 1984). Ciri-ciri ikonografinya menunjukkan bahwa arca tersebut termasuk langgam seni Amarawati, yang berkembang antara abad ke-2 dan ke-3 M (Magetsari, 1982). Sementara itu di kota Bangun Kutai ditemukan sejumlah arca Buddha yang memperlihatkan langgam arca Gandara, yang berkembang bersamaan dengan langgam seni Amarawati. Selain arca-arca Buddha juga ditemukan arca-arca Hindu, seperti mukhalingga di Sepauk dan arca Ganeça di Serawak. Di Kutai Kalimantan Timur juga ditemukan tujuh buah prasasti yang dipahatkan pada tiang batu, disebut yupa (Poesponagoro, 1984). Prasasti itu ditulis dengan huruf Pallawa berbahasa Sansekerta. Berdasarkan bentuk dan jenis hurufnya diperkirakan berasal dari awal abad V M. Kira-kira pada abad yang sama di Jawa Barat juga ditemukan prasasti-prasasti dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta, yang dikeluarkan oleh Raja Purnawarman dari Tarumanagara.

Kompleks Candi Lorojonggrang (Foto: Baskoro D. Tjahjono)

Pengaruh kebudayaan India itu mengalami perkembangan pesat di Jawa, ditandai dengan banyaknya temuan artefak yang berhubungan dengan keagamaan seperti arca-arca, lingga-yoni, prasasti, serta candi. Namun pengaruh asing itu tidak diterima begitu saja oleh bangsa Indonesia. Unsur budaya Indonesia asli masih tampak dominan dalam semua lapisan masyarakat (Poesponagoro, 1984). Ini membuktikan bahwa masyarakat pada waktu itu sudah memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk mempertahankan kebudayaan aslinya. Tradisi megalitik masih mewarnai bentuk susunan percandian Indonesia, unsur undakan pada candi-candi Lorojonggrang, Borobudur, Jago, merupakan contoh tradisi megalitik telah meleburkan diri dalam seni bangunan Indonesia kuna. Lebih-lebih jika memperhatikan bangunan-bangunan punden di Gunung Penanggungan dan Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu, yang didirikan pada akhir masa Hindu-Buddha (abad XV-XVI M), maka kesan yang tampak adalah bangunan tradisi megalitik yang diberi unsur-unsur kebudayaan India. Kemampuan mengolah dan menghasilkan karya-karya yang bersifat Indonesia itu dikenal dengan istilah local genius (Sedyawati, 1986). Ini bisa terjadi karena sebelum adanya pengaruh kebudayaan India, bangsa Indonesia telah mempunyai dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi.

Bangunan-bangunan masa Hindu-Buddha antara lain candi, gapura, petirtaan, bangunan rumah tinggal, keraton, bendungan, kanal-kanal. Namun yang paling banyak dijumpai saat ini adalah candi, sebab candi adalah sarana pemujaan sehingga sangat berkaitan dengan keagamaan. Selain itu candi terbuat dari bahan yang tahan lama – seperti batu andesit, batu putih, dan bata — sehingga tidak mudah rusak walaupun lama terpendam tanah. Gapura dan petirtaan sebagian masih dapat dijumpai karena juga terbuat dari bahan yang tahan lama. Bangunan rumah tinggal terutama pada masa Jawa Tengah jarang bahkan sulit dijumpai karena sebagian besar terbuat dari bahan yang mudah rusak — seperti bambu, kayu, dan atap ijuk atau ilalang – demikian juga keratonnya. Di Jawa Timur, terutama masa Majapahit banyak dijumpai sisa-sisa bangunan rumah tinggal walaupun yang tersisa hanya lantai ataupun pondasinya saja. Lantai-lantai bangunan rumah tinggal yang terbuat dari bata banyak ditemukan di Trowulan. Selain bangunan rumah tinggal, juga terdapat bangunan berupa bendungan. Bendungan sering disebutkan dalam prasasti – baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur —  walaupun dalam kenyataannya jenis bangunan tersebut masih sulit ditemukan.

Candi-candi banyak ditemukan di Sumatra dan Jawa. Di Sumatra antara lain Muaro Jambi ditemukan di daerah Jambi, Biaro Bahal di Sumatera Utara, Muara Takus di Riau, dan Candi Bumiayu di daerah Palembang. Di Jawa candi-candi ditemukan tersebar dari daerah Jawa Barat seperti Candi Cangkuang, Candi Bojongmenje, Candi Batujaya; daerah Jawa Tengah banyak sekali antara lain Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen, Candi Selogriyo, Candi Lorojonggrang, Candi Sewu, Candi Plaosan, Candi Kalasan, Candi Sambisari, Candi Sari, dan lain-lain; hingga Jawa Timur seperti Candi Singasari, Candi Jago, Candi Simping, Candi Panataran, Candi Sawentar, Candi Kidal, dan lain-lain. Gapura banyak dijumpai di daerah Trowulan Mojokerto Jawa Timur seperti Gapura Bajangratu, Gapura Wringinlawang. Bangunan berupa bendungan salah satunya disebutkan dalam dua prasasti yang ditemukan pada ekskavasi di Candi Kedulan Sleman, yaitu prasasti Sumundul (791 Ç atau 869 M) dan prasasti Pananggaran (791 Ç atau 869 M). Raja Airlangga setelah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya, memerintahkan membangun sebuah bendungan di Wringin Sapta, yang tertulis dalam prasasti Kamalagyan. Bendungan Waringin Sapta dibangun untuk membendung Sungai Brantas yang setiap tahun banjir sehingga banyak desa di bagian hilir  kebanjiran. Akibatnya sawah-sawah hancur dan pajak yang masuk menjadi sangat kurang. Berkali-kali rakyat membuat tanggul tetapi tidak berhasil menanggulangi banjir, sehingga raja mengerahkan seluruh rakyat untuk bekerja bakti membuat bendungan. Untuk keperluan bendungan itu raja menetapkan pengurangan pajak yang harus diserahkan ke kas kerajaan dari desa Kamalagyan dan sekitarnya yang masuk wilayah Pangkaja (Poesponagoro, 1984). Kanal-kanal ditemukan di situs Trowulan yang merupakan peninggalan kerajaan Majapahit.

 

Keselarasan Mikrokosmos-Makrokosmos

Hasil-hasil budaya manusia pada masa Hindu-Buddha di Indonesia selalu dikaitkan dengan konsep-konsep keagamaan yang mereka anut, yaitu harus mencerminkan keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos atau antara dunia manusia dengan dunia kedewaan. Candi merupakan simbolisasi Gunung Mahameru dan alam semesta. Pembagian bangunan candi ke dalam tiga bagian yaitu kaki, tubuh, dan atap sesuai dengan lingkungan alam semesta yang terdiri atas bhurloka (lingkungan para makhluk yang masih bisa mati), bhuvarloka (lingkungan manusia yang sudah disucikan), dan svarloka (lingkungan para dewa) (Soekmono, 1972). Sebagai replika gunung Mahameru atau replika kosmos (alam semesta), candi harus didirikan di lingkungan yang suci. Oleh karena itu, suatu tempat yang akan dipakai untuk mendirikan candi harus disucikan lebih dahulu. Tempat itu kemudian diberi tanda dengan sembilan buah patok, satu di pusat dan lainnya pada keempat sudutnya, serta pada tengah sisi-sisinya. Selanjutnya di halaman itu didirikan candi, halaman ini kemudian dinyatakan dengan tembok keliling (Soekmono, 1977). Halaman di dalam kompleks candi merupakan lingkungan yang suci, sedangkan pagar merupakan batas pemisah dengan dunia profan (Kempers, 1959).

Candi Kendalisodo di lereng Gunung Penanggungan (Foto: Balar DIY)

Di Indonesia kitab yang berisi aturan-aturan pendirian bangunan suci belum dijumpai, namun aturan-aturan dalam pendirian bangunan suci juga diterapkan di sini. Hasil penelitian mengenai bentuk bangunan, ukuran, gaya, serta kegunaan atau fungsinya, dapat memberi petunjuk akan adanya keteraturan yang dapat dijadikan pangkal tolak berpikir tentang adanya aturan umum yang dipakai sebagai pedoman – baik tertulis maupun tidak tertulis — bagi orang masa lalu dalam membangun candi (Mundardjito, 1993). Dalam pendirian candi, titik pusat kompleks percandian merupakan titik yang sangat penting sehingga harus ditentukan lebih dahulu dengan perhitungan magis (Boechari, 1978).

Keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos juga tercermin dalam struktur masyarakat. Pada masa lalu di Indonesia khususnya Jawa dikenal adanya tiga tipe struktur desa (Meer, 1979): 1. struktur desa inti (wanua), yaitu desa yang berdiri sendiri, otonom, yang dikepalai oleh tuha wanua; 2. struktur federasi desa-desa, yang terdiri dari sekelompok desa yang tergabung menjadi satu atas dasar kepentingan bersama yang bersifat umum (pengelolaan sistem irigasi, sistem pertahanan, dan lain-lain). Struktur desa semacam ini dapat disamakan dengan panyatur desa–pangasta desa atau mancapat–manca lima, yang dipimpin seorang raka; 3. struktur masyarakat desa regional, yang dapat disamakan dengan karaman.yang terdiri dari banyak desa. Masing-masing desa memiliki otonomi dan rama sendiri, tetapi merupakan sub bagian dari struktur masyarakat yang lebih luas.

Konsep panyatur desa dan pangasta desa yang dikenal sebagai salah satu tipe struktur desa-desa di Indonesia (Jawa) itu tidak dapat dipisahkan dari konsep kosmogonis di atas. Konsep panyatur desa menyangkut pengertian satu desa induk dikelilingi oleh empat desa di empat penjuru mata angin. Konsep pangasta desa terdiri dari satu desa induk dikelilingi delapan desa lainnya. Kedua konsep desa itu berdasarkan pada jumlah angka tertentu. Jumlah angka-angka itu dianggap sebagai angka kosmis, yang mempunyai arti magis bagi kehidupan manusia. Angka-angka kosmis tersebut kemudian dihubungkan dengan para dewa yang masing-masing menempati arah mata angin tertentu. Dengan demikian, konsep panyatur desa dan pangasta desa itu mengingatkan pada susunan dewa Lokapala atau dewa Asta Dikpalaka, yaitu dewa-dewa yang menguasai arah mata angin (Subroto, 1985).

Kerajaan-kerajaan kuna Asia Tenggara juga memiliki landasan kosmogonis yang didasari pada keserasian antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Dalam pandangan agama Hindu, alam semesta terdiri dari benua pusat berbentuk lingkaran yang disebut Jambudwipa, benua pusat itu dilingkari tujuh lautan dan tujuh daratan dan dibatasi oleh pegunungan yang tinggi. Di tengah Jambudwipa berdiri Gunung Meru sebagai pusat alam semesta. Di puncak gunung terdapat kota dewa-dewa dikelilingi tempat tinggal delapan dewa penjaga mata angin (Lokapala) (Heine-Geldern, 1982).

Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu (Foto: Balar DIY)

Ibukota kerajaan atau keraton tidak saja sebagai pusat kekuatan politik dan kebudayaan, melainkan juga merupakan pusat magis kerajaan. Sebagai konsekuensi dari keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos, maka kerajaan haruslah mempunyai susunan dan bagian-bagian yang sama dengan jagad raya. Sebagai contoh, menurut konsepsi Hindu maupun Buddha jagad raya berpusat pada gunung Meru, maka kerajaan haruslah mempunyai gunung Meru di pusatnya. Adapun bentuk gunung Meru itu dalam kenyataannya bermacam-macam, mula-mula berbentuk bukit-bukit kecil yang alami maupun yang sengaja dibuat, sampai kemudian hanya berupa candi saja. Menurut pemikiran agama Hindu maupun Buddha, candi-candi di Asia Tenggara baik yang dibuat dari batu, bata, ataupun kayu, semuanya dianggap sebagai gambaran atau bayangan dari sebuah gunung yaitu gunung Meru (Heine-Geldern, 1982). Selain itu, alam semesta yang digambarkan sebagai Jambhudwipa juga dilingkari oleh tujuh lautan, maka kerajaan Majapahit selain dibangun di antara dua sungai juga dikelilingi oleh kanal-kanal yang kemungkinan merepresentasikan tujuh lautan itu. Keraton Majapahit dibangun secara bertahap, sesuai dengan pola permukiman yang berkembang di Jawa pada waktu itu. Bangunan tempat tinggal raja berada di tengah dikelilingi oleh rumah-rumah pengikut dan perwira setianya. Perkembangan lingkungan selanjutnya dilakukan sesuai dengan perkembangan kekuasaan dan kepercayaan. Orientasi perletakan bangunan penting mengikuti susunan hirarki kepercayaan Hindu dan Buddha (Atmadi, 1993).

Kerajaan Mataram Kuna adalah sebuah kerajaan masa Hindu-Buddha yang berkuasa di Jawa Tengah antara abad VII-X M. Gambaran tentang Kerajaan Jawa itu terdapat dalam berita Cina dari Dinasti Tang (618 – 906 M), yang menyebutkan bahwa kerajaan dibagi 28 propinsi, gubernurnya bersama keempat menteri utama merupakan 32 pejabat tinggi. Angka-angka tersebut memberi petunjuk adanya unsur-unsur magis, angka 28 hakekatnya adalah kelipatan empat dengan tujuh, yang berarti kerajaan dikelilingi oleh tujuh lapis daratan dan tujuh lautan di keempat penjuru mata anginnya. Angka 28 juga dapat disamakan dengan susunan benda-benda di langit, yaitu 28 rumah bulan. Angka 32 menggambarkan jumlah dewa-dewa Sudharsana penjaga kahyangan, ditafsirkan sebagai penjaga dunia/ kerajaan (Dwiyanto, 1985).

Di kerajaan Mataram Kuna belum ditemukan naskah tentang teori ketatanegaraan, tetapi petunjuk tentang adanya konsepsi kosmogonis itu terdapat dalam prasasti Canggal, yang menyebutkan bahwa Raja Sanjaya sebagai Raghu telah menaklukkan raja-raja sekelilingnya. Kerajaannya digambarkan sebagai dunia berikatpinggangkan samudra dan berdada gunung-gunung (Poesponagoro, 1984). Ini memberi gambaran tentang adanya keselarasan antara kerajaan Mataram Kuna dengan alam semesta atau antara dunia manusia dengan dunia dewa.

 

Makna Dibalik Keselarasan

Pembangunan selalu berakibat terjadinya perubahan lingkungan, dari lingkungan yang sudah ada menjadi lingkungan yang baru. Pembangunan tentu akan menghasilkan dampak, baik yang positif maupun negatif. Lingkungan yang sudah mapan dengan segala konsekuensinya akan dirubah dengan lingkungan baru dengan konsekuensi baru pula sesuai dengan peruntukannya. Pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan akan menghasilkan dampak negatif seperti bencana. Tanaman bakau yang tumbuh di sepanjang pantai mempunyai fungsi mengantisipasi abrasi pantai serta mengurangi dampak jika terjadi tsunami seperti di Aceh. Ketika lingkungan pantai dengan tanaman bakaunya dibangun untuk kawasan permukiman atau tempat rekreasi dengan menebangi tanaman tersebut maka ekosistem menjadi rusak. Sehingga ketika terjadi tsunami maka air laut tidak tertahan dan menerjang permukiman yang dilewatinya. Demikian juga ketika hutan di lereng-lereng pegunungan ditebangi tanpa mempedulikan lingkungan, maka akan terjadi banjir dan tanah longsor karena akar tanaman sebagai penahan air sudah tidak ada lagi.

Demikianlah, kehidupan di dunia tidak ada yang sempurna. Jika ada keselarasan tentu ada ketidakselarasan serta akibat-akibatnya jika terjadi ketidakselarasan. Jika ada peraturan selalu ada pelanggaran, demikian juga walaupun ada konsepsi kosmis masih ada juga penyimpangan-penyimpangan (Dwiyanto, 1985). Pada lingkungan masa lalu juga terjadi hal demikian, ketika pembangunan mengabaikan keselarasan mikrokosmos dengan makrokosmos, maka dunia akan mengalami bencana, yang pada masa lalu disebut kaliyuga. Menurut pandangan Hindu dunia ini mengalami empat masa, yaitu Krtayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Keempat masa ini merupakan bagian dari “satu hari Brahma”. Brahma adalah dewa pencipta yang menciptakan dirinya sendiri sehingga disebut swayambhu, berarti yang terjadi sendiri, daripadanya pula tercipta alam semesta. “Satu hari Brahma” adalah satu masa berlangsungnya dunia ini (Soekmono, 1973). Masa kaliyuga disebut juga jaman besi dan berlangsung sampai hari ini, yang ditandai dengan semakin banyaknya kejahatan. Akhirnya dunia akan mengalami kehancuran total yang disebut pralaya. Pada masa pralaya ini alam semesta lebur kembali ke dalam diri Brahma. Setelah masa ini kemudian akan diikuti dengan penciptaan dunia baru (Schrieke,  1957). Demikian seterusnya proses itu akan terulang lagi.

Adapun makna dibalik keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos sebenarnya adalah adanya keselarasan antara manusia dengan lingkungannya yang merupakan suatu ekosistem. Jika ekosistem telah rusak baik disengaja ataupun tidak maka akan terjadilah bencana. Jika hutan digunduli akan mengakibatkan banjir dan tanah longsor, jika air di lingkungan permukiman tak dibuatkan jalan maka akan menggenangi permukiman itu. Jika pembangunan mengabaikan lingkungan maka akan berdampak negatif baik bagi masyarakat maupun kawasan sekitarnya. Kearifan lokal masa lalu sebenarnya telah memberi contoh bagaimana manusia dapat mengelola lingkungannya dengan baik. Adanya kanal-kanal yang mengelilingi pusat kerajaan Majapahit selain merepresentasikan keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos, yaitu dunia yang dikelilingi oleh samudra juga berfungsi sebagai pengendali banjir sehingga ekosistem tetap terjaga.

 

Baskoro D. Tjahjono

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Atmadi, Parmono. 1993. “Bunga Rampai Arsitektur dan Pola Kota Keraton Majapahit”. dalam Sartono Kartodirdjo. 700 Tahun Majapahit, Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, hlm. 117-130.

Boechari. 1978. “Bahan Kajian Arkeologi untuk Pengajaran Sejarah”. Majalah Arkeologi Th.II, No. 1, September 1978.

Dwiyanto, Djoko. 1985. “Masalah Penyimpangan Siklus Kosmis dan Legitimasi dalam Sejarah Jawa Kuna”. Artefak No. 3/II/1985. Buletin Himpunan Mahasiswa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. hlm. 4-10.

Heine-Geldern, R. Von. 1982. Konsepsi tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara. Terj. Deliar Noer. Jakarta: Rajawali.

Magetsari, Nurhadi. 1982. “Masalah Agama dan Kebudayaan dalam Arkeologi Klasik Indonesia”. Pertemuan Ilmiah Arkeologi II. Jakarta: Puslitarkenas,

Meer, N.C. van Setten van der. 1979. Sawah Cultivation in Ancient Java, Aspects of development during the Indo-Javanese period 5th to 15th century. Canberra: Faculty of Asian Studies in Association with Australian National University Press.

Mundardjito, 1993. “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi Ruang Skala Makro”, Disertasi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Poesponagoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: PN. Balai Pustaka.

Schrieke, B. 1957. “Indonesian Sociological Studies II”. Ruler and Realm in Early Java. The Hague/Bandung.

Sedyawati, Edi. 1986. “Kajian Kuantitatif atas Masalah Local Genius”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV. Jakarta: Puslitarkenas, hlm. 33-49.

Soekmono, 1972. Tjatatan-tjatatan tentang Monumen-monumen Indonesia Purba. Kesenian Indonesia Purba. New York: Franklin Book Programs, Inc.

_________, 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia (2), Yogyakarta: Kanisius.

_________, 1974. Candi Fungsi dan Pengertiannya, Disertasi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Subroto, Ph. 1985. Sistem Pertanian Tradisional pada Masyarakat Jawa Tinjauan secara Arkeologis dan Etnografis. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.

 

 

1Comment
  • Memahami Tingkah “Mbah” Merapi a la Orang Jawa – G's words
    Posted at 07:20h, 18 January Reply

    […] lebih dulu dibanding manusia. Sehingga apapun polah Merapi mestilah dipahami dan “dihargai”. Pemahaman ini juga sesuai dengan konsep mikro kosmos dan makro kosmos yang diadopsi dari ajaran Hindu. Alam semesta raya dipercayai terdiri dari tujuh benua pusat […]

Post A Comment