MARI BERSAHABAT MELALUI LORONG ARKEOLOGI - lorongarkeologi.id
15855
post-template-default,single,single-post,postid-15855,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

MARI BERSAHABAT MELALUI LORONG ARKEOLOGI

“Akibat dari hubungan perdagangan pada bangsa-bangsa di Asia Tenggara sangat luas, tidak terbatas pada hegemoni politik saja, tetapi juga tukar menukar kebudayaan”. Ujar seorang dosen pakar sejarah kuna Asia Tenggara di depan kelas. Gambaran seperti itulah yang terjadi di masa lampau di kawasan Asia Tenggara.

Pada tanggal 28 Agustus 2006 yang lalu, pemerintah Republik Indonesia memprakarsai suatu bentuk persahabatan dengan sebagian negara-negara anggota ASEAN (Indonesia, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam) yang berajaran Buddha dengan menelurkan Deklarasi Borobudur (Borobudur Declaration). Dasar pemikirannya adalah latar belakang kesejarahan dan beberapa kesamaan budaya. Isi dari Deklarasi Borobudur adalah komitmen bersama untuk mengembangkan pariwisata melalui pengelolaan dan promosi warisan budaya bersama dalam wujud kerjasama wisata ziarah dan wisata budaya.

Disadari atau tidak, eratnya persahabatan antar dua bangsa atau lebih biasanya dimulai dari kebudayaan. Apalagi kedua bangsa itu mempunyai latar belakang budaya yang mempunyai banyak kesamaan, sekalipun di masa lampau sejarahnya tidak begitu baik. Tepat apa yang dirintis oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika kunjungan kenegaraan ke Kamboja dan Myanmar, yaitu kunjungan wisata dengan obyek bangunan stūpa Buddha. Ide persamaan peradaban tersebut dapat dirangkai menjadi obyek budaya yang baik.

 

Hubungan Kesejajaran

Sejak awal millenium pertama tarikh Masehi, bangsa-bangsa di Asia Tenggara telah menjalin hubungan. Dimulai dari hubungan perdagangan kemudian disusul dengan hubungan keajaranan dan politik antar kerajaan-kerajaan. Adakalanya hubungan antar kerajaan mengalami sandungan-sandungan. Namun itu semua tidak berlangsung lama, karena disebabkan ambisi politik seorang penguasa dalam kerajaan itu. Sementara itu bangsanya (rakyat) tidak bermusuhan.

Adanya hubungan antar samudera dan antar benua, ternyata telah menimbulkan kesejajaran di dalam pertumbuhan sejarah kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara. Sebagai akibat perkembangan pelayaran dan perdagangan, pada kurun abad ke-7-9 Masehi telah timbul pusat-pusat kekuasaan dengan kerajaan-kerajaan Śrīwijaya dan  Matarām (Indonesia), Tchen-la (Kamboja dan Vietnam), dan Pagan (Myanmar). Kemudian pada abad ke-10-11 Masehi, pasangan kesejajaran ini meliputi Pagan (Myanmar), Angkor (Kamboja), Campa (Vietnam), Śrīwijaya, Matarām, dan Kadiri (Indonesia). Demikianlah seterusnya pasangan kesejajaran ini berubah-ubah sampai kedatangan kolonialisme barat.

 

Salah satu bangunan di Preah Vihear tempat ditemukannya Prasasti Sdok Kak Thom. Kompleks bangunan ini terletak di daerah perbatasan dengan Thailand (dok. Bambang Budi Utomo).

 

Pada waktu Tchen-la mencapai puncak kejayaannya, kerajaan ini menguasai jalur-jalur pelayaran dan perdagangan di Asia Tenggara, khususnya di Laut Tiongkok Selatan. Kapal-kapal dagangnya banyak menyinggahi pelabuhan-pelabuhan di Nusantara dan pesisir Asia Tenggara daratan. Namun keadaan ini tidak berlangsung lama. Menurut kronik Vietnam dan Berita Tionghoa, pada tahun 767 ketika Campa diperintah oleh Mratan Śrī Pĕrthīwinarendra, daerah delta Semenanjung Indocina diserbu oleh pasukan yang datang dari Jawa dengan menaiki kapal. Penyerbuan ini diulangi lagi pada tahun 774 dan 787. Berita mengenai serangan dari selatan ini juga terdapat dalam Prasasti Sdok Kak Thom. Prasasti ini ditemukan di Phnom Sandak di Preah Vihear bertarikh 1052 Masehi, dan ditulis dalam Bahasa Sanskrit dan Khmer.

Ketika Tchen-la menguasai Asia Tenggara Daratan, seorang bangsawan dari Kamboja berhasil meloloskan diri ke Jawa. Setelah dididik dan matang di Jawa, pada tahun 790 bangsawan ini kembali ke Kamboja. Ketika kembali ke negeri asalnya, kerajaan di Jawa sedang guncang dan Tchen-la sudah terpecah-pecah. Pada akhir abad ke-8 itulah ia menyatukan seluruh Kamboja, mendirikan Kerajaan Angkor, dan mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Jayawarman II (802-850 Masehi).

Prasasti Yang Tikuh yang dikeluarkan oleh Raja Indra­warman pada tahun 799 Masehi menyebutkan tentang selesainya pemugaran kuil Bhadradhipa­tiswara yang pada tahun 787 Masehi telah diserang dan dibakar oleh satu pasukan yang datang naik kapal dari Jawa. Pada tahun 774 Masehi Campa juga pernah mendapat se­rangan dari orang-orang yang datang dari Jawa.

Menjelang akhir abad ke-9 Masehi, sebuah dinasti baru memerintah di Campa dengan pusat pemerintahannya di Indrapura (sekarang bernama Quang-nam, Vietnam). Pendiri dinasti adalah Indrawarman I (877-889 Masehi). Raja ini dikenal sebagai seorang penganut ajaran Buddha Mahayana yang taat. Selama pemerintah­annya ia berjasa membangun kompleks Dong-duong. Diketahui raja ini dan para penggantinya telah menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara (Indonesia). Karena itulah banyak arsitektur Campa yang dipengaruhi oleh gaya arsitektur bangunan candi Jawa Tengah.

 

Candi Kalasan yang dibangun pada abad ke-8 Masehi. Beberapa kom­ponen hiasan bangunan banyak ditiru oleh pemahat-pemahat dari kerajaan di Asia Tenggara Daratan abad ke-8-9 Masehi (dok. Bambang Budi Utomo).

 

Pada akhir abad ke-8 dan awal abad ke-9, Jawa telah dapat menanamkan pengaruhnya di Kamboja hingga beberapa waktu lamanya. Akibat dari pengaruh budaya itu, terdapat pula perubahan gaya seni pada bangunan, misalnya bangunan-bangunan di Phnom Kulen. Sekalipun pengaruh budaya Jawa telah “tertanam” di Asia Tenggara daratan, namun secara politis ada usaha untuk melepaskan diri dari pengaruh Jawa. Sebuah  upacara sakral dilakukan oleh Jayawarman II dengan cara menobatkan dirinya sebagai “raja gunung” dan penguasa universal di Mahendraparwata (Phnom Kulen). Dengan upacara dasar tersebut ia menjadi seorang penguasa yang universal dan tidak lagi tergantung pada Jawa.

Kesejajaran pertumbuhan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara, tentu saja berakibat pada kebudayaan bangsa-bangsa tersebut. Sebagai contoh, misalnya masuknya politik yuridis Jawa di Kamboja pada sekitar abad ke-8–9 Masehi mengakibatkan masuknya pengaruh budaya Jawa. Pada gaya seni bangunan (arsitektur) tampak pada bangunan Phnom Kulen dari jaman Jayawarman II, kuil Preah Ko dari kelompok bangunan Roluos yang dibangun oleh Raja Indrawarman I (877-889 Masehi), dan bangunan-bangunan yang dibuat semasa pemerintahan Jayawarman V dari abad ke-10 Masehi.

 

Bangunan kuil Phom Kulen (kiri) pada ambang pintunya terdapat hiasan Makara (kanan), mirip dengan Makara di Kalasan dan candi-candi lain dari masa Śailendra (dok. Bambang Budi Utomo & Hariani Santiko).

 

Buddha

Ajaran Buddha meluas pemeluknya terjadi pada abad ke-7-10 Masehi. Pada waktu itu sebuah kerajaan yang kuat dan berpengaruh di Asia Tenggara adalah Śrīwijaya. Kerajaan ini selain dikenal sebagai kerajaan maritim, juga dikenal sebagai kerajaan yang andilnya cukup besar dalam perkembangan ajaran Buddha. Bhiksu Buddha dari berbagai bangsa datang ke Śrīwijaya untuk mempelajari tata-bahasa Sansekerta sebelum melanjutkan pelajarannya ke Nalanda di India. Bahkan Atiśa, seorang bhiksu Buddha dari Tibet menyempatkan diri untuk memperdalam ajaran Buddha di Śrīwijaya.

Pada sekitar tahun 775 Masehi, Rakai Paṇamkaran  dari Dinasti Śailendra yang dikenal dengan julukan “Pembunuh musuh-musuh yang gagah berani”, mendirikan Trisamaya Caitya untuk pemujaan kepada Padmapāṇi, Sākyamuṇi, dan Wajrapāṇi di Ligor (Nakhon Srithammarat, Thailand Selatan). Pengaruh Śrīwijaya di Thailand Selatan cukup kuat, tampak pada gaya seni arca yang ditemukan dari kawasan ini. Banyak arca Buddha dan Bodhisattwa yang dikatakan berlanggam Sailendra, Śrīwijaya, atau kadang-kadang disebut berlanggam Semenanjung.

Ketika di belahan barat Nusantara berkembang ajaran Buddha Mahāyāna (abad ke-7-9 Masehi), di Asia Tenggara daratan sebagian besar masyarakatnya memeluk ajaran Hindu aliran Siwa. Ajaran Buddha mulai berkembang pada sekitar abad ke-11 Masehi. Ketika itu di Burma terdapat kerajaan Dwārawati dengan rajanya Anoratha. Raja ini memerintahkan pembangunan kompleks pagoda di Pagan untuk ajaran Buddha Theravada. Di kompleks itu tinggal para bhiksu dan bhiksuni.

Di Kerajaan Angkor, ketika diperintah oleh Suryawarman I (1002-1050 Masehi) (seorang Pangeran Ligor, Dwārawati), pintu perkembangan ajaran Buddha Mahāyāna terbuka lebar. Secara pribadi ia pemeluk ajaran Śiwa yang melanjutkan kultus dewaraja seperti para pendahulunya. Pada masa pemerin­tah­annya ajaran Buddha berkembang secara luas di Asia Tenggara daratan.

Dalam konteks kekinian, konflik di kawasan tersebut terjadi karena tidak tercapai­nya saling mengerti dan saling menghargai di antara berbagai kebudayaan. Berkaca pada kejadian-kejadian sejarah masa lampau, sudah saatnya Deklarasi Borobudur diimplementasikan untuk tujuan perdamaian melalui diplomasi kebudayaan dan kunjungan wisata ziarah ajaran Buddha dan wisata budaya. Sekaligus membuktikan bahwa Indonesia juga memfasilitasi ajaran lain yang berdasarkan jumlah penganutnya termasuk minoritas.

 

Bambang Budi Utomo

Kerani Rendahan

 

No Comments

Post A Comment