KEPINGAN BUDAYA NUSANTARA DI PULAU COCOS - lorongarkeologi.id
16051
post-template-default,single,single-post,postid-16051,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

KEPINGAN BUDAYA NUSANTARA DI PULAU COCOS

Foto 1. Surga tersembunyi di Pulau Keeling Utara (sumber: Shinatria A)

Kepulauan Cocos (Keeling) pertama kali dikenalkan setelah Kapten William Keeling yang pada saat itu bekerja untuk kongsi dagang InggrisEast India Company, pada waktu ia kembali dari Banten pada tahun 1609. Keadaan pulau ini saat pertama kali ditemukan oleh Kapten Keeling tidak berpenghuni dan baru mulai dihuni sekitar abad ke-19. Kepulauan Cocos yang  luasnya tidak melebihi 14 kilometer persegi,pada masa sekarang masuk dalam wilayah administrasi negara Australia dan berlokasi di Samudera Hindia. Kepulauan Cocos terdiri dari pulau-pulau kecil yang bernama Pulau Barat (West Island, Ibukota administrasi Pulau Cocos), Pulau Selatan (South Island), Pulau Rumah (Home Island), Direction Island, Horsburgh Island, dan Pulau Keeling Utara (North Keeling Island) yang sedikit terpisah dari gugusan pulau lainnya.

Gambar 1&2. Peta Kepulauan Cocos di Samudera Hindia (sumber: ABC & Wikipedia)

Penghuni awal Pulau Cocos pada tahun 1826 sebagian besar adalah orang-orang Melayu yang dibawa oleh Alexander Hare. Ada juga orang Cina, Papua, dan keturunan India. Kemungkinan ada juga beberapa orang dari Afrika. Komunitas melayu yang datang diperkirakan berasal dari Bali, Bima, Sulawesi, Madura, Sumbawa, Timor, Sumatera, Kutai, Malaka, Penang, Batavia, dan Cirebon. Mereka digambarkan sebagai orang-orang yang berbahasa melayu dan beragama Islam.Diperkirakan awal mula penduduk Melayu-Jawa Pulau Cocos memeluk Agama Islam adalah ketika perdagangan Islam di Hindia Timur mulai berkembang di wilayah Nusantara. Hingga saat ini kesetiaan mereka terhadap Islam, tradisi dan bahasa melayu masih tetap mereka pegang. Uniknya motto kepulauan ini adalah ‘Maju Pulu Kita’, sama seperti bahasa melayu dan mirip dengan bahasa Indonesia.

Gambar 3. Logo Kepualauan Cocos di Samudera Hindia, Australia (Sumber: www.goodnewsfromindonesia.com)

Saya berkesempatan mengunjungi Kepulauan Cocos pada tahun 2016 karena saya terlibat dalam penelitian kapal karam di perairan Samudera Hindia yang dilakukan oleh tim internasional dari Australia dan Belanda. Pada saat saya menikmati lautan yang luas di atas kapal feri yang menyebrang dari West Island menuju Home Island, tiba-tiba ada anak buah kapal feri yang menegur dengan menggunakan Bahasa Jawa bercampur Bahasa Melayu. Saya sempat kaget karena di kepuluan yang terpencil ini saya dapat bertemu orang yang mampu berbahasa Jawa. Lalu kita bertegur sapa dan dia mulai bercerita tentang kakek dan nenek buyut dia yang berasal dari tanah Jawa. Serta beberapa tetangga dan saudara dekatnya juga ada yang berasal dari Sulawesi dan Sumatera.

Di Home Island, sebagian besar penduduknya adalah Suku Melayu campuran Jawa dan beragama Islam. Jika di West Island, sebagian besar dihuni oleh orang Barat. Ada suatu masa ketika mereka diminta untuk memilih apakah mereka akan menjadi bagian dari Negara Australia atau terpisah, pada akhirnya mereka memilih untuk bergabung Negara Australia padahal, secara budaya dan geografis Kepualuan Cocos yang hanya berjarak 1000 km dari Jakarta ini lebih cocok untuk bergabung dengan Indonesia. Namun, Pemerintah Australia menjalankan fungsinya dengan baik di pulau ini karena walaupun terpencil fasilitas di Kepulauan Cocos ini sangat memadai dari fasilitas pendidikan hingga kesehatan, serta lapangan kerja. Cocos Islands masuk dalam teritori negara Australia sejak 1955 setelah sebelumnya dikuasai Inggris, dan Srilanka (www.goodnewsfromindonesia.com).

Foto 2&3. Koleksi wayang dan baju adat masyarakat di Pulau Cocos (Sumber: Shinatria A)

Wawasan saya makin meluas setelah saya berkunjung ke Museum Pulau Cocos di Home Island, Kepulauan Cocos. Koleksi museum tersebut banyak yang menunjukkan budaya Nusantara, salah satunya adalah wayang kulit Jawa, pakaian adat khas Melayu, batik dan beberapa jenis perahu yang mereka gunakan memiliki ciri Asia Tenggara. Komunitas Melayu Jawa menetap cukup lama di Pulau Cocos tetapi tidak pernah melupakan budaya asli mereka yang berasal dari Nusantara. Keberadaan Masyarakat Jawa-Melayu di Kepulauan Cocos merupakan bukti bahwa manusia Nusantara dapat beradaptasi dengan baik di pulau yang terpencil dan tetap mempertahankan kebudayaan asli mereka walaupun mereka sudah berwarganegara Australia.

Para peneliti Indonesia baik itu bidang arkeologi, sejarah, sosiologi, maupun antropologi harusnya dapat menelusuri lebih dalam kondisi sosial-budaya pulau ini. Arkeologi dapat melihat ini sebagai kesempatan untuk expand pengetahuan kita tentang penjelajahan nenek moyang dan persebaran budaya Nusantara. Salah satu kajian yang menarik adalah migrasi penutur Austronesia di Kepulauan Samudera Hindia (Bellwood, 1995). Kita telah mengetahui melalui penelitian genetik dan kajian bahasa bahwa penutur Austronesia telah mengarungi lautan Samudera Hindia kurang lebih 2.000 tahun yang lalu dan telah mencapai Madagaskar. Menurut kajian lingustik menunjukkan bahwa masyarakat penutur Austronesia di Madagaskar berasal dari kelompok masyarakat Jawa-Bali, dan Sasak yang memiliki hubungan dengan kelompok bahasa Malayo-Chamic (Blust, 1984).

Gambar 4. Peta persebaran Penutur Austronesia dari Wilayah Nusantara hingga Madagascar dan yang paling Selatan Kepulauan Selandia Baru.

Budaya Austronesia belum banyak dipelajari secara komprehensif di kepulauan ini sehingga pengetahuan akan sejarah kedatangan orang-orang Melayu-Jawa di Pulau Cocos ini hanya terbatas pada periode kolonial saja, seharusnya dapat digali lebih dalam lagi tentang penduduk asli pulau ini dan budaya Austronesia yang sudah ada jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Tidak menutup kemungkinan kalau nenek moyang kita juga dahulu singgah di Kepulauan Cocos dan pulau-pulau lainnya sepanjang jalur dari Nusantara hingga Madagaskar. Aktivitas kemaritiman ini yang belum sama sekali tersentuh oleh arkeologi Indonesia.

Selama ini kajian persebaran budaya secara arkeologi hanya terpusat tentang budaya apa yang kita miliki dan yang terpengaruh oleh budaya dari negara asing (budaya luar), tetapi sedikit sekali kajian tentang persebaran budaya Nusantara yang mempengaruhi di luar wilayah Indonesia.Salah satu contoh kawasan yang menarik adalah asal-usul masyarakat penutur Austronesia di Madagaskar, para ahli yang mengkaji secara linguistik dan biologis sepakat bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar memiliki hubungan yang erat dengan populasi dari Indonesia khususnya dari Borneo, Sumatera, dan Jawa (Noerwidi, 2017). Tetapi, data arkeologi sepanjang pulau-pulau di Samudera Hindia hingga Madagaskar hingga saat ini masih belum banyak terungkap,mungkin dari Pulau Cocos inilah kita dapat memulainya.

Shinatria Adhityatama

 

 

Referensi:

Bellwood, Peter. 1995. Austronesian prehistory in Southeast Asia: homeland, expansion and transformation. Canberra: ANU E Press.

Blust, Robert. 1984. “The Austronesian homeland: a linguistic perspective”, dalam Asian Perspectives 26, No. 1;45-67

Noerwidi, Sofwan. 2017. “Menjelajah Samudera Hindia: mungkinkah masyarakat Austronesia di Pesisir Selatan Jawa berlayar ke Afrika?”, dalam Kemaritiman Nusantara, hlm: 63-80. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

 

Internet:

www.goodnewsfromindonesia.id/2012/04/11/cocos-islands-darah-daging-indonesia

 

 

No Comments

Post A Comment