BAJAK LAUT DI PERAIRAN NUSANTARA - lorongarkeologi.id
16039
post-template-default,single,single-post,postid-16039,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

BAJAK LAUT DI PERAIRAN NUSANTARA

Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang memiliki pengetahuan kebaharian dan masyarakat yang terkenal tangguh di lautan. Luas lautan dari negara ini mencakup 70% dari keseluruhan wilayah NKRI, oleh karena itu banyak orang Indonesia menggantungkan hidupnya dengan memanfaatkan laut. Salah satu kelompok masyarakat yang memanfaatkan laut adalah kelompok bajak laut. Kelompok ini sudah beroperasi di Perairan Nusantara sejak dahulu kala, bahkan masih ada juga yang menekuni profesi ini di masa sekarang. Mereka hidup dengan cara merampas barang komoditas dari kapal-kapal dagang, mereka juga merampas kapal dagang milik orang lain. Komunitas bajak laut yang terkenal di Asia Tenggara khususnya di perairan Sulawesi adalah bajak laut Sulu, Mindanao, Balangingi, dan sebagainya. Bajak laut sering dikatakan sebagai tindak kejahatan karena mereka melakukan segala cara termasuk meggunakan cara kekerasan dan tidak jarang disertai dengan pembunuhan.

Gambar 1. Ilustrasi Pembajakan Kapal oleh Bajak Laut (Sumber: http://www.wallpaperswide.com)

Bajak laut (pirates) adalah para perampok di laut yang bertindak di luar segala hukum. Kata pirates berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘yang menyerang’, ‘yang merampok’. Dalam Bahasa Indonesia dan Melayu sebutan lain untuk bajak laut, lanun, berasal dari nama lain salah satu suku di Indonesia dan Malaysia, Orang Laut (Lapian, 2009). Bisa dikatakan bahwa sejarah pembajakan terjadi secara bersamaan dengan sejarah navigasi laut dan perdagangan laut, serta upaya pemerintah kolonial dalam melakukan pembatasan akan pemanfaatan laut. Di mana terdapat kapal-kapal yang mengangkut dagangan, dan bajak laut merampasnya pada saat proses ditribusi di tengah laut. Sejak masa Sriwijaya telah dikenal terjadinya pembajakan oleh para perampok laut. Eksistensi bajak laut ini makin berkembang pada masa Kolonial sekitar abad ke-17 hingga abad ke-19.

Aktivitas bajak laut ini banyak merugikan kongsi dagang bangsa Eropa dan pedagang lokal di Nusantara pada masa lalu. Bahkan VOC rela membayar siapa saja yang mampu menangkap para bajak laut, baik dalam keadaan hidup maupun mati. Salah satu sumber data VOC mengatakan jika ditangkap dalam keadaan hidup maka akan mendapatkan imbalan sebesar 100 ringgit, sedangkan jika menangkap bajak laut dalam keadaan mati diberi hadiah 50 ringgit (Chijs, 1886).

Masalah memberantas eksistensi bajak laut ini telah menjadi satu tema penting bagi pemerintah kolonial seperti Inggris, Belanda dan Spanyol. Pemerintah kolonial saat itu ingin memberantas bajak laut terutama di perairan Asia Tenggara yang dianggap merugikan secara ekonomi, ulah para bajak laut telah menyebabkan kerugian yang signifikan bagi pemerintah kolonial kala itu. Kisah-kisah bajak laut Nusantara telah dituangkan dalam beberapa karya sastra dan artikel di negara-negara tersebut.

Salah satu bajak laut yang beroperasi di Perairan Nusantara dikenal dengan nama Intjeh Cohdja. Tidak ada yang tahu pasti asal-usulnya, namun dia terkenal karena melakukan pembakaran kapal dan merampas barang dagang milik VOC yang sedang berlabuh di Pelabuhan Surabaya. Kejadian tersebut dia lakukan pada tahun 1666. VOC pun bersedia memberikan imbalan bagi siapa saja yang dapat menangkap Intjeh Cohdja, bahkan diperbolehkan memiliki kapalnya jika berhasil menangkapnya.

Nama bajak laut lainnya yang didapatkan dari sumber VOC adalah Wassingrana, tidak ada yang tahu juga asal usul orang ini hanya saja dia dikenal sebagai bajak laut dan memiliki awak kapal yang berasal dari Makassar. Dia sering beroperasi di Surabaya dan di daerah-daerah lainnya di ujung Timur pulau Jawa, pada sekitar tahun 1685. Akhir cerita Wassingrana berhasil ditangkap dan dihukum mati oleh seorang Bupati kawasan tersebut (Tjiptoatmodjo, 1983).

Salah satu faktor kemunculan bajak laut yaitu berasal dari sistem sosial yang tidak adil, terutama pada masa kolonial penduduk pribumi merasakan kesenjangan sosial yang cukup jauh dengan bangsa Eropa maupun dengan saudagar, dan bangsawan pribumi. Beberapa contoh historiografi tentang bajak laut tersebut memberikan sebuah warna dan pemahaman bahwa bajak laut mempunyai stereotipe yang beragam, tidak hanya sebagai penjahat tetapi juga dapat digolongkan menjadi “bandit sosial”, tergantung bagaimana masyarakat memberikan sebuah penafsiaran atau pelabelan sosial. Tetapi pada umumnya bajak laut yang ada di perairan Nusantara pada abad ke-19 mengalami sebuah akhir yang tidak sepadan dengan apa yang mereka perjuangkan. Mereka biasanya menemui ajal karena serangan kolonial atau tertangkap dan mendapatkan hukuman mati berupa hukuman gantung oleh pengadilan Pemerintah Kolonial. Akan tetapi, walaupun terus diburu dan ditangkap, kasus pembajakan tidak pernah berhenti. Hal itu membuat perahu/kapal dagang harus dikawal oleh perahu/kapal perang terutama apabila akan melewati tempat-tempat yang diduga menjadi sarang bajak laut (Lapian, 2009).

Figur 2. Ilustrasi Eksekusi Hukuman Gantung Terhadap Bajak Laut (Sumber: http://www.weaponsman.com)

Bajak laut pada masa pemerintah kolonial dibagi menjadi dua jenis, pertama yang disebut sebagai pirates yaitu bajak laut yang melakukan kegiatan di laut secara illegal, dan bertentangan dengan hukum yang berlaku. Kemudian yang kedua adalah korsario, atau bajak laut yang dikeluarkan pemerintah untuk membajak bajak laut secara liar, dalam arti bajak laut tipe ini biasa disebut sebagai bajak laut yang bertindak secara legal, yang kegiatannnya disetujui dan diketahui oleh pemerintah. Mereka juga bertujuan untuk membajak atau menangkap kapal-kapal yang berlayar di laut territorial mereka (Lapian, 2009).  Bajak laut adalah komunitas laut yang menentang hukum dan pemerintahan, sebuah bentuk perlawanan terhadap penindasan yang didasari diskriminasi sosial. Filosofi bajak laut adalah berpegang pada kebebasan dan penjelajahan, mereka memandang laut adalah sebagai tempat hidup untuk menjelajah dan hidup sebagai manusia yang bebas yang lepas dari sebuah sistem yang mereka nilai tidak adil. Namun, lepas dari kebebasan yang mereka jalani beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa para bajak laut juga memiliki aturan dan etika sendiri, seperti tidak diperbolehkan merampas sesama bajak laut dan jika ada pertentangan harus dibicarakan dengan seksama. Jadi walaupun mereka sering dicap sebagai “orang liar” mereka tetap memiliki aturan main diantara mereka. Anggapan lainnya yang salah dari bajak laut adalah mereka sering diidentikan sebagai penimbun barang maupun harta karun, namun sumber sejarah dan data arkeologis yang ada menunjukkan sebaliknya. Para bajak laut tidak menimbun harta rampasannya, mereka merampas untuk hidup dan mereka cenderung menghabiskan hasil rampoknya. Hasil dari penelusuran tentang bajak laut tersebut, hingga saat ini belum pernah ditemukan bukti yang memperlihatkan bajak laut sebagai penimbun harta.

Figur 3. Ilustrasi Kapal Bajak Laut Asal Sulu Abad ke-19 yang Banyak Beroperasi di Perairan Nusantara, Khususnya Daerah Perairan Sulawesi (Sumber: Adrian Horridge)

Para bajak laut tidak menggunakan spesifikasi khusus suatu jenis kapal yang mereka butuhkan adalah kapal yang dapat melaju dengan cepat untuk mereka gunakan melakukan aksinya. Kecepatan adalah kunci dari keberhasilan mereka karena bajak laut harus mengejar buruannya, melakukan perompakan dengan cepat, dan menghilang dengan cepat juga. Bajak laut juga tidak membutuhkan kapal yang berukuran besar karena mereka memerlukan kapal yang dapat dengan mudah melewati ombak dan bersembunyi di perairan dangkal untuk sembunyi dari kapal yang mengejarnya. kerahasiaan dan kejutan adalah alat penting dalam aktivitas perompakan (Montague, 200).

Lalu bagaimana arkeolog dapat membedakan antara kapal yang digunakan oleh bajak laut dengan kapal dagang ataupun kapal angkatan laut (Navy)? Seperti yang kita ketahui bahwa identitas bajak laut yang diketahu masyarakat awam, seperti bendera berwarna hitam, tutup mata dan lain sebagainya tidak dapat bertahan lama/ tidak terawetkan dalam perekaman data arkeologi. Untuk memulai mempelajari tentang arkeologi bajak laut atau yang dikenal dengan istilah the archaeology of piracy kita harus berkolaborasi dengan data kesejarahan. Penggunaan data sejarah seperti dokumen catatan-catatan, arsip pelabuhan, dan berita asing dapat membantu dalam penelusuran akan kapal-kapal bajak laut.

Salah satu contoh adalah situs kapal the Queen Anne’s Revenge milik kapten bajak laut Edward Teach atau yang lebih dikenal dengan nama Blackbeard yang ditemukan di perairan Carolina, Amerika Serikat. Kapal bajak laut ini ditemukan dengan kajian kesejarahan dan dari analisis temuan pada kapal tersebut. Stanley South sebagai salah satu pelopor dan bapak arkeologi kesejarahan memiliki cara tersendiri dalam mengklasifikasikan jenis temuan pada sebuah situs arkeologi. Dia memisahkan artefak yang memiliki kategori fungsi dari data arkeologi untuk mengetahui perilaku utama budayanya. Para arkeolog yang mempelajari situs kapal bajak laut telah mengadopsi metode tersebut. Dalam situs kapal bajak laut mereka dapat mengidentifikasi kapal bajak laut adalah jika ditemukan banyak senjata dan barang komoditas internasional yang bervariasi/acak. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa kapal bajak laut ditemukan lebih banyak variasi senjata yang berbeda-beda dari model dan pabrik pembuatnya dibandingkan dengan jenis kapal lainnya, dan barang-barang yang terdapat di dalam kapal bervariasi cenderung acak karena didapatkan dari hasil penjarahan yang didapatkan dari berbagai kapal (Campbell, 2014).

Shinatria Adhityatama

 

Referensi:

Campbell, Peter. 2014. The Archaeology of Piracy. Shipwrecks and Submerged Worlds.England: University of Southampton.

Chijs, J.A. van der. 1886. Nederlandsch-Indisch Plakaatboek (, 1602-1811, jilid II (1642-1677), (Batavia’s Gravenhage, 1886).

Tjiptoatmodjo, Frasiscu Assisi Sutjipto. 1983. Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura (Abad XVII sampai Medio Abad XIX), Disertasi Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Lapian, AB. 2009. Orang laut, Bajak Laut, Raja Laut (Sejarah Kawasan Laut Sulawesi abad XIX). Jakarta : Komunitas Bambu.

Montague, Charlotte. 2009. Pirates and Privateers. Englan: Canary Press.

 

 

 

 

No Comments

Post A Comment