AWAS MAHAPRALAYA 2030! - lorongarkeologi.id
15943
post-template-default,single,single-post,postid-15943,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

AWAS MAHAPRALAYA 2030!

Ghost Fleetini novel, tapi ditulis dua ahli strategi dari Amerika, menggambarkan sebuah scenario perangantara Cinadan Amerika tahun 2030. Yang menarik dari sini bagi kita hanya satu. Mereka ramalkan tahun 2030, Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Waduh! Ini namanya mahapralaya zaman modern dong. Gambarannya lebih hebat dari mahapralaya zaman Mataram Kuno yang diakibatkan meletusnya Merapi atau meletusnya Tambora tahun 1815 yang dampaknya ke seluruh dunia. Tapi, ayo kita coba liat bagaimana gambaran mahapralaya itu. Mungkin nggak di tahun 2030 Negara Kesatuan Republik Indonesia pecah jadi beberapa negara kecil? Ayo kita liat perjalanan sejarah kebudayaan bangsa ini.

 

Sebuah Bangsa Dua Rumpun

Siapa sebenarnya nenek moyang bangsa bahari yang mendiami Nusantara? Sebagian orang beranggapan bahwa para penutur bahasa Austronesia-lah nenek moyangnya. Austronesia adalah istilah yang dipakai oleh pakar linguistik untuk keluarga bahasa yang berkembang di Taiwan antara 5000-7000 tahun yang lampau.

Di Taiwan orang-orang ini mengembangkan teknik-teknik pertanian dari Tiongkok Selatan, beradaptasi dengan lingkungan pulau, dan “belajar” menyeberangi selat. Sejak sekitar millenium ke-3 Sebelum Masehi, mereka mengembara ke arah selatan menuju Filipina. Di tempat ini mereka membawa dan mengembangkan teknik perladangan berpindah, pembuatan perahu, dan pembuatan barang-barang tembikar. Pada akhirnya mereka membentuk sub-rumpun bahasa Melayu-Polynesia.

Menjelang millenium pertama Sebelum Masehi, para penutur rumpun bahasa Melayu-Polynesia barat sudah mencapai pesisir Indocina (Champa), Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Sumatra. Pada periode berikutnya, secara bersinambungan mereka sudah berlayar jauh hingga ke Madagaskar di pantai timur Afrika. Akibat berhubungan secara bersinambungan, kemudian tumbuh budaya Melayu-Polynesia Barat (Malagasy) dan berkembang secara mandiri.

Kelompok penutur yang menyebar ke arah timur membentuk rumpun bahasa Melayu-Polynesia Timur. Perkembangannya di daerah pantai-pantai kawasan timur Nusantara, seperti Halmahera dan pantai utara Irian. Dari tempat ini kemudian diteruskan sampai ke seluruh penjuru Pasifik, Tonga, Samoa, Hawaii, dan yang terjauh Selandia Baru.

Populasi orang-orang penutur bahasa Austronesiayang sekarang jumlahnya hampir 400 juta menempati wilayah dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di timur, dan dari Taiwan di utara hingga Selandia Baru di selatan. Benang merah yang menyatukan mereka adalah teknik bercocok-tanam, teknik pembuatan perahu, dan teknik pembuatan tembikar. Itulah nenek moyang bangsa bahari. Mereka inilah yang di Nusantara menjadi Suku bangsa atau Puak Melayu dari Ras Mongoloid atau Austronesia.

Kalau ditelusuri persebaran puak Melayu dengan ras Mongoloid dari sisi rumpun bahasa, maka cakupannya seluruh Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Khusus untuk Irian,* cakupan puak Melayu hanya ada di daerah pesisir pantai utara di bekas wilayah Kesultanan Tidore. Sementara itu di kawasan pedalaman Irian dihuni oleh sukubangsa-sukubangsa dari ras Australomelanesid yang cirinya berambut keriting dan berkulit gelap. Dari bahasanya pun berbeda jauh, nyaris tidak ada satupun kosakata yang sama dengan kosakata Austronesia.

Memang, kalau kita memandang Republik Indonesia dari sisi ras, maka Irian tidak termasuk dalam Republik Indonesia. Isu inilah yang dihembuskan Belanda untuk memecah belah. Dalam usahanya mempertahankan Irian, Belanda menyatakan bahwa suku-suku di Irian bukan suku Melayu yang menjadi asal usul orang Indonesia. Secara etnik dan budaya suku-suku di  Irian berasal dari suku Melanesia. Karena itu Irian tidak bisa diserahkan kepada Republik Indonesia.

Alasan tersebut dapat dikatakan mengada-ada karena sejak 1828 Irian yang pada waktu itu bernama Nieuw Guinea sudah menjadi bagian dari Nederlansch Indië dengan nama Residentië Nieuw Guinea. Apalagi sejak tahun 1927 Boven Digoel (kawasan berawa-rawa di Nieuw Guinea) dijadikan tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan. Dengan demikian Belanda tidak perduli siapa atau ras apa yang bermukim di Irian.


*
Kata “irian” untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Frans Kaisiepo, seorang tokoh pejuang pembebasan Irian Barat yang berarti “sinar yang menghalau kabut”. Kata ini diambil dari Bahasa salah satu suku di Irian.

 

Kalau Indonesia terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil yang didasarkan atas sukubangsa, maka bentuk negara-negara tersebut kurang lebih seperti ini (Dok. Wikimedia Commons).

 

Di sebelah timur Jawa atau di barat daya Irian, ada pulau-pulau kecil yang dikenal dengan Kepulauan Maluku (dekat Irian), dan Kepulauan Sunda Kecil (Nusatenggara). Di pulau-pulau ini dihuni oleh sukubangsa yang bentuk fisik dan warna kulitnya berbeda dengan saudaranya di Irian dan di pulau-pulau lain di Nusantara. Mereka ini berasal dari ras campuran antara Ras Australomelanesid dan Ras Mongoloid dengan ciri yang tampak rambut agak keriting dan kulit agak gelap (tidak segelap Ras Papuid). Dengan demikian, penduduk Nusantara ini terdiri dari dua ras besar, yaitu Ras Austronesia (Mongoloid) yang jumlah nya sekitar 57,7%, Ras Australomelanesid (Papuid) yang jumlahnya sekitar 23,9%, dan ras campuran antara Mongoloid dan Papuid yang jumlahnya sekitar 18,4%. Dari ras-ras ini menurunkan sukubangsa-sukubangsa yang jumlahnya lebih dari 400 sukubangsa dengan budaya dan agama yang berbeda-beda.

 

Menyatu dan Memecah

Mungkin banyak orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa pada tanggal 13 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Drs. Moh.Hatta singgah di Taiping (Perak, Malaysia) dalam perjalanannya kembali ke tanah air dari lawatannya ke Saigon (Vietnam). Mereka ke Taiping untuk memenuhi undangan tokoh pemuda Melayu Ibrahim Haji Yaacobdan Dr. Burhanuddin. Pertemuan yang difasilitasi oleh pejabat administrasi militer Jepang untuk daerah jajahannya, dihadirioleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mayor Jenderal Umezu, Dr. Burhanuddin, dan Ibrahim Haji Yaacob.

Apa yang dibicarakan dalam pertemuan itu, adalah mengenai pembentukan sebuah negara di Nusantara dengan nama Indonesia Raya atau Melayu Raya. Ibrahim menganggap penting pertemuannya dengan Soekarno karena sesuai dengan rencana Jepang untuk memerdekakan Tanah Melayu di bawah Indonesia. Dalam pertemuan yang berlangsung selama 45 menit di bandara Taiping, Ibrahim menjelaskan bahwa Soekarno sangat gembira dengan kehendaknya. Dengan menggenggam erat tangan Ibrahim, Soekarno mau supaya mereka “membentuk sebuah negara ibu pertiwi bagi rumpun bangsa Indonesia”. Benarkah?

Kira-kira seperti ini kalau sempat terjadi perang suku seperti layaknya di Afrika (dok. Mytrip).

Angan-angan Ibrahim Haji Yacob dkk kalau sampai terjadi sangat merugikan Indonesia. Di satu pihak memang wilayah Indonesia sampai ke wilayah yang sekarang menjadi Malaysia dan Filipina, tetapi boleh jadi Nusatenggara, sebagian Maluku, dan Irian Jaya tidak termasuk Indonesia. Ketiga wilayah tersebut tidak dimukimi oleh orang-orang Melayu ras Mongoloid. Padahal Irian Jaya merupakan wilayah yang kaya akan sumber­daya alam, baik tambang maupun hutan. Untunglah para pendiri bangsa Indonesia tidak merespon keinginan mereka. Boleh jadi para Bapak Bangsa telah memperhitungkan apa yang akan terjadi apabila Indonesia ini berdiri didasarkan atas sukubangsa atau ras. Karena itulah ketika proklamasi diumumkan bahwa negara yang disebut Indonesia, wilayahnya terdiri dari bekas wilayah Hindia Belanda dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.

Para pendiri bangsa rupanya sudah memikirkan keragaman di Nusantara ini. Belajar dari masa lampau, mereka merumuskan semboyan bangsa ini. Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada pita yang dicengkeramburung garuda. Bhineka Tunggal Ika merupakan rumusan dari suatu konsep ajaran yang digagas oleh Mpu Tantular, seorang sastrawan yang hidup pada zaman Majapahit. Gagasan Mpu Tantular tersebut dimaksudkan untuk menjembatani berbagai aliran ajaran yang muncul pada masa Majapahit. Pada awal berdirinya republic ini, konsep tersebut diadopsi oleh para pendiri republic sebagai semboyan untuk mempersatukan bangsa. Pemerintah Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa berbagai perbedaan akan dapat disatukan dengan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan. Untuk itulah maka semboyan Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa suatu kalimat yang terdapat dalam Kitab Sutasoma diabadikan sebagai semboyan negara kita.

Kalimat “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” dikemukakan oleh Mpu Tantular yang mempunyai arti ‘terbelah tetapi tunggal, tidak ada Dharmma (ajaran agama) yang mendua’. Kalimat tersebut ada kaitannya dengan keadaan kehidupanreligi pada waktu itu, yaitu adanya pembauran konsep Dewa Tertinggi, kenyataan tertinggi (highest reality) yang sebenarnya tunggal tetapi disebut dengan berbagai nama. Ia disebut Bhattara Buddha oleh pemeluk ajaran Buddha, sebagai Paramasiwa oleh pemeluk ajaran Siwa, sebagai Wisnu oleh pemeluk aliran Waisnawa. Dengan kalimat tersebut Mpu Tantular mengemukakan bahwa sebagai kenyataan tertinggi, baik Siwa maupun Buddha tidaklah berbeda karena keduanya adalah tujuan ajaran.

Pembauran konsep Siwa-Buddha ini secara eksplisit terjadi pada masa Singhasari terutama masa pemerintahan Kertanagara. Walaupun ia menganutajaran Buddha Tantrayana, tetapi ia membangun candi yang bersifat Siwa-Buddha yaitu Candi Jawi dan Candi Singosari, dengan maksud agar pemeluk ajaran tersebut melakukan ritual secara bersama-sama dalam satu bangunan candi (Nagarakertagama Pupuh LV: 1c).

Karya-karya sastra yang memuat gagasan toleransi banyak terdapat pada zaman Majapahit yaitu Arjunawijaya, Sutasoma, Kunjarakarna dan Jnanasiddhanta. Kitab Arjunawijaya misalnya, memberikan ilustrasi menarik tentang kisah kunjungan raja (Arjuna Sasrabahu) beserta rombongannya ke suatu gugusan candi yang memiliki dua bangunan induk, yang satu Buddha dan satunya lagi Siwa. Seorang brahmana yang mengantarnya ke Candi Buddha menjelaskan bahwa Wairocana yang berada di pusat tampak seperti Siwasada; Aksobhya yang berada di timur adalah Rudra; Ratnasambhawa di selatan adalah Dhatradewa (Brahma); Amitabha di barat adalah Mahadewa; dan Amogasiddhi di utara adalah Harimurrtidewa (Wisnu). Kemudian dijelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara Buddha dan Siwa, keduanya merupakan tujuan dari ajaran-ajaran.

Copy naskah Sutasoma (dok. Trigangga).

Informasi tersebut, dalam konteks kekinian dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, terutama di daerah yang belum “terkontaminasi” budaya luar yang bermaksud memecah-belah. Maksudnya kehidupan rukun dan penuh toleransi masih berlaku. Di Jawa Timur, tanpa banyak diekspos ada kehidupan toleransi dan gotong-royong di antara penganut agama/ajaran yang berbeda, tolong menolong dalam membangun/merenovasi rumah orang miskin dll. Juga toleransidan gotong-royong di antara sukubangsa bahkan ras yang berbeda.

Bagaimana jadinya kalau Nusantara atau yang disebut Indonesia terpecahbelah? Maka yang terjadi sekurang-kurangnya ada tiga negara yang didasarkan atas ras besar, ratusan negara kecil-kecil yang terdiri dari sukubangsa-sukubangsa, atau puluhan negara yang didasarkan atas pulau-pulau besar dan kecil. Kalau didasarkan atas sukubangsa, yang identitasnya jelas adalah sukubangsa Batak, Manado, Ambon/Maluku dan sukubangsa lain yang identitasnya melekat dalam nama keluarga.

Bibit separatis pernah muncul lewat usaha pemekaran wilayah. Pada sekitar tahun 2009 di wilayah Provinsi Sumatera Utara, ada 10 kabupaten/kota hendak membentuk provinsi tersendiri lepas dari Provinsi Sumatera Utara, yaitu Provinsi Tapanuli. Celakanya, ketentuan yang diajukan antara lain wilayahnya di bekas wilayah Karesidenan Tapanuli bentukan Belanda, dihuni oleh mayoritas suku Batak, dan masyarakatnya menganut agama Kristen. Maksud Belanda menjadikan Karesidenan Tapanulia dalah sebagai Buffer Zone terhadap pengaruh Islam yang datang dari Aceh dan Sumatera Barat. Ide pemekaran ini lengkap sudah dan nyaris sempurna menjadi bibit perpecahan bangsa! Beruntunglah usaha pemekaran wilayah itu untuk sementara tidak jadi terwujud. Namun demikian sekarang keinginan ini masih terus berlanjut, meski tuntutannya Provinsi Tapanuli – O Tano Batak hanya terdiri dari 5 kabupaten dengan ibukotanya Siborong-borong.

Perjalanan sejarah bangsa ini yang diwarnai dengan usaha-usaha separatis dimulai terutama pada sekitar tahun 1950-an. Pemberontakan PRRI-Permesta di Sulawesi merupakan salah satu contoh nya. Mengapa pemberontakan ini terjadi, menurut para tokoh pemberontak mereka melakukan pemberontakan tidak lain karena menginginkan pemerataan dalam pembangunan wilayah. Betul! Kala itu pembangunan hanya dilakukan di Tanah Jawa. Tentu saja kebijakan ini membuat iri daerah lain. Padahal macetnya pembangunan juga disebabkan karena lambannya pemerintah provinsi induknya. Belum lagi usaha separatis didasarkan atas sumberdaya alam yang banyak mengalir ke pemerintah pusat, sementara itu daerah penghasil nyaris tidak mendapat apa-apa. Daerah-daerah yang berpotensi memisah antara lain Aceh, Riau, Kalimantan Timur, dan Irian Barat. Daerah-daerah ini mempunyai sumberdaya alam yang melimpah, tetapi pembangunannya belum merata.

Pada hakekatnya pikiran separatis muncul karena ketimpangan pembangunan, bukan karena perbedaan sukubangsa dan agama. Ini yang dapat diamati dari perjalanan sejarah bangsa ini. Karena itulah, untuk menghindari pikiran separatis pembangunan harus merata. Di darat antara satu tempat dengan tempat lain dihubungkan dengan jalan yang baik. Sebagai negara kepulauan jaringan pelayaran rakyat harus diaktifkan karena interaksi antara satu pulau dengan pulau lain dilakukan melalui laut. Dengan demikian kita harus memandang laut sebagai pemersatu, bukan pemisah.

 

Bambang Budi Utomo

Kerani Rendahan

 

Rujukan:

Adam, Ramlah, 2004. Gerakan Radikalisme di Malaysia (1938-1965). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Bellwood, P., 1985. Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. North Ryde, London: Academic Press.

Blust, R., 1996. “The prehistory of the Austronesian-speaking peoples: a view from  language”, dalam Journal of World Prehistory 9, hlm. 453-510

Encyclopædie van Nederlands Indië Vol. II, 1917, hlm 508-614, 672. Leiden: E.J. Brill

Melalatoa, M. Junus, 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Subandrio, H. Dr. 2001. Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat. Jakarta: Yayasan Kepada Bangsaku

 

 

 

No Comments

Post A Comment