ARCA LOGAM INDONESIA KUNO: ANTARA ASLI DAN BARU - lorongarkeologi.id
15865
post-template-default,single,single-post,postid-15865,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

ARCA LOGAM INDONESIA KUNO: ANTARA ASLI DAN BARU

Pagi itu memasuki sebuah rumah di Kedungwulan, Desa Bejijong, terdengar suara kikir berderit pelan tapi pasti. Di dalam sebuah ruangan yang cukup lebar, tuan rumah seorang seniman arca cor logam sedang asyik menyelesaikan sebuah patung emas Dewi Sri setinggi 12,5 cm dan lebar 6 cm. Arca seberat 225 gram itu terdiri dari emas   60% , perak 30%  dan alloy 10 % untuk membuat arca logam itu. Pada beberapa detail dan bagian catra (payung) masih kelihatan kasar dan ada lubang-lubang (burik) yang harus ditambal. Itulah keseharian seniman arca logam menggeluti inspirasinya, mewujudkan imajinasinya, sambil meneruskan tradisi nenek moyang masa Indonesia Kuno.

Arca logam dalam bentuk dewa-dewa Hindu-Budha sekitar abad ke-VII – XIV Masehi banyak ditemukan di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali. Sebagian arca tersebut ada yang disimpan sebagai koleksi museum, pribadi dan di simpan di kuil-kuil atau pura-pura di Bali sebagai media untuk melakukan pemujaan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa arca-arca tersebut didatangkan dari luar Indonesia, namun  ada pula yang berkeyakinan buatan asli Indonesia, baik bahan maupun teknologinya,  sedangkan bentuk dan unsur-unsur kedewaan ikonologi dan ikonemetrinya mendapat pengaruh dari budaya Hindu-Budha. Menurut seorang arkeolog I Wayan Ardika, hal tersebut dibuktikan, bahwa sejak zaman prasejarah benda-benda perunggu di Bali dapat dikatakan cukup maju. Para perajin logam nampaknya telah mahir dalam melebur sekurangnya tiga jenis logam (ternary) yaitu tembaga (Cu), timbal (Pb) dan timah (Sn). Pada masa klasik (Hindu-Budha) juga dikenal arca dari bahan emas (Au) dan perak (Ag) dengan cara melebur emas bahan emas/ perak tersebut.

Cara dan teknik pengarcaan arca-arca dewa, baik Hindu maupun Budha hanya dapat diamati dari hasil akhirnya (Sedyawati 1985: 143 – 159, Ratnaesih Maulana 1977: 11). Secara teknologis hasil karya tersebut merupakan karya seni bernilai tinggi dan indah. Tentu saja proses pembuatan arca pada masa Indonesia Kuno belum diketahui secara rinci.  Oleh karena itu untuk mengetahunya perlu melakukan pengamatan  pada bengkel kerja pembuatan arca cor logam secara tradisional.  yang masih dapat diketahui di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

 

Arca Dewi Sri dari bahan emas buatan seniman Bejijong. (Dok: Balai Arkeologi DIY)

 

Teknik Cetak

Menyiapkan dan memilih alat cetak yang akan digunakan untuk produksi masal menggunakan teknik tangkupan atau dikenal juga teknik bivalve. Sedangkan untuk membuat sebuah arca dengan model yang khusus dan rumit menggunakan teknik cor a cire perdue. Kedua teknik tersebut, pada tahap akhir (finishing) memerlukan penanganan khusus menghaluskan, menambal dan menyempurnakan bagian-bagian detail yang kurang lengkap atau berlubang.

Teknik bivalve/ tangkupan, merupakan alat cetak yang dapat digunakan berulangkali. Terdiri dari dua bagian yang dapat ditangkupkan, sehingga terdapat rongga dengan bentuk arca tertentu. Cetakan ini dibuat dari bahan calsium, tanah liat. Teknik cor a cire perdue,  dengan membuat model arca lebih dahulu dari bahan parafin, kemudian di balut dengan tanah liat. Setelah jadi, dibakar dalam bara api agar parafin  meleleh ke luar, dalam cetakan tanah liat akan terdapat geronggang berbentuk model yang diinginkan. Cetakan ini hanya digunakan sekali pakai.

 

Alat cetak tangkupan (bivalve). (Dok: Balai Arkeologi DIY)

 

Kitab çilpaçastra, sebuah kitab dari India, memuat ketentuan-ketentuan dalam pembuatan arca. Seorang seniman wajib memperhatikan dua hal yaitu ikonografi dan ikonometri.

Ikonografi untuk membedakan dewa yang satu dari yang lain dalam bahasa sanskerta dinamakan laksana, yang berarti “tanda khusus” yang dipunyai seorang dewa, misalnya benda atau senjata yang dipegang atau diletakkan di dekatnya, vahana (=kendaraan, binatang tunggangan), jenis pakaian tertentu yang dikenakan, ciri tubuh tertentu, yang merupakan tanda pengenal arca dewa tertentu (Sedyawati, 1985: 62). Jadi, laksana adalah tanda yang dikaitkan dengan ketentuan keagamaan. Dalam hal ini laksana dilihat sebagai suatu identitas yang dapat menandai dewa tertentu.

Ikonometri memuat ketentuan yang berkaitan dengan ukuran-ukuran arca, karena arca dewa utama (Brahma, Wisnu, Siwa) dengan dewa di bawahnya (Dewi Sri, dan Tara) memiliki ukuran/ ketentuan  yang berbeda. Dari ketentuan tersebut ada 8 urutan ukuran dari uttamadaśatala (dewa utama) sampai astala (manusia biasa).

 

Proses Pembuatan Arca Logam

Seorang seniman sebelum membuat arca, menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, seperti model arca yang dikehendaki seperti tokoh/ dewa tertentu (Brahma, Wisnu, Siwa),  cetakan, dan bahan yang akan digunakan dari emas/ perunggu.

 

Emas, perak dan alloy sebelum dilebur. (Dok: Balai Arkeologi DIY)

 

Kowi (terakota) untuk wadah pelebur bahan logam. (Dok: Balai Arkeologi DIY)

 

Kegiatan pendetailan arca Dewi Sri bahan emas. (Dok: Balai Arkeologi DIY)

 

Semua bahan telah siap, lalu bahan logam kemudian di bakar di atas bara api dengan menggunakan alat yang dinamakan kowi (wadah dari bahan terakota). Setelah lebur, cairan tersebut dituang ke dalam cetakan dengan hati-hati supaya tidak terjadi gelembung udara. Kemudian diangin-angin sampai benar-benar dingin, lalu kemudian dibuka. Berikut, adalah tabel jenis dan bahan  perbandingan yang digunakan untuk membuat arca.

 

NoJenisBahanKeterangan
1Model  arcaParafin, malam hitam, damarDamar dan malam hitam di tumbuk halus
2Cetakan arcaTanah liat dan  pasir halusDicampur  air sedikit
3Cor emasPerak, alloy, dan emasPerak ± 25 % , alloy ± 15 %, emas  ± 60%
4Cor perunggu Tembaga, kuningan  dan timahTembaga ±50 %, Kuningan ±40% dan timah ±10%

 

Arca Asli dan Tiruan

Hasil karya arca cor logam tidak bisa dilepaskan dari seniman pembuatnya. Membuat arca dewa-dewa tidak mudah, diperlukan konsentrasi, kecermatan bentuk dan ukuran berdasarkan ikonometri dan ikonografi. Faktor lainnya adalah, melakukan ritual berdasarkan pada keyakinan masing-masing, misalnya berpuasa dan mohon kepada Yang Maha Kuasa, agar hasil karyanya sempurna. Untuk jenis arca dewa-dewa yang dipesan oleh konsumen, mereka akan melihat benda aslinya di museum-museum, koleksi pribadi, dan melalui gambar/ buku di perpustakaan.

Arca yang dibuat sulit dibedakan mana yang asli dan tiruan, bahkan  arkeolog pun dapat terkecoh untuk menentukan asli tidaknya sebuah arca. Para seniman arca di Bejijong menandai  hasil karya mereka untuk mudah diidentifikasi berdasarkan kesepakatan dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur.

Seniman arca dari Bejijong memberi tips untuk mengetahui apakah arca logam itu asli atau tiruan. Perlu diamati teknologi pembuatan, ikonografi dan ikonometri. Tekstur permukaan logam lebih halus pada arca asli, khususnya pada arca perunggu.  Sang seniman menambahkan bunyi suara yang terdengar ketika arca dipukul juga dapat membedakan mana arca asli dan mana yang tiruan. Pengalaman penulis  arca perlu dijilat. Arca asli terasa asam yang menyengat. Selanjutnya, tentu saja diperlukan  uji laboratoris.

 

T.M. Hari Lelono

 

 

Sumber:

Hari Lelono, T.M., 2007, Penelitian Etnoarkeologi Teknologi Pembuatan Arca Logam Pada Masa Hindu-Budha di Jawa, Bejijong, Trowulan, Jawa Timur, Laporan Penelitian Arkeologi (LPA), Balai Arkeologi Yogyakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Edi Sedyawati, 1994, Pengarcaan  Ganesa Masa Kadiri dan Singasari, Sebuah Tinjauan Kesenian, Disertasi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Ratnaesih Maulana, 1997,  Ikonografi Hindu, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.

 

 

1Comment
  • RML Arry Nugroho
    Posted at 09:53h, 30 April Reply

    Setuju, bahkan seorang pakar pun dapat terkecoh (justru karena hasil uji lab) untuk menentukan asli tidaknya sebuah arca kuno.
    Dari buku berjudul BLINK – The Power of Thinking Without Thinking karya Malcolm Gladwell, saya bacanya sudah cukup lama, tetapi pointnya bahwa suatu lembaga lelang atau seorang kolektor (saya agak lupa) mengundang seorang pakar untuk menilai keaslian sebuah arca kuno. Ketika melihat arca tersebut, selintas pakar tersebut berpikir bahwa arca tersebut baru. Tetapi melihat bentuk dan materialnya yang sangat meyakinkan, maka dilakukanlah uji lab. Hasil uji lab membuktikan bahwa material arca tersebut memang benar-benar kuno, sehingga disimpulkan arca tersebut asli.
    Belakangan diketahui bahwa arca tersebut dibuat dari material kuno tetapi pembuatannya baru.
    Kesimpulannya dari buku tersebut adalah bagaimana “the blink” (kemampuan berpikir tanpa berpikir) atau biasa disebut instink jika diasah dan didengar adalah “benar” walaupun analisis ilmiah (thinking) mungkin mengatakan lain…..
    Just sharing saja ini sih mungkin dari sudut pandang psikologi ya di buku tersebut… karena membaca artikel ini saya jadi teringat buku yg saya baca…
    Bravo dan maju terus Lorongarkeologi!

Post A Comment