Ada Bapa Pastor di Kampung Megalitik dan di Laut - lorongarkeologi.id
15769
post-template-default,single,single-post,postid-15769,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1400,qode-theme-ver-13.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Ada Bapa Pastor di Kampung Megalitik dan di Laut

Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Flores dan Sumba banyak tinggalan budaya tradisi megalitik, tidak hanya berupa bangunan monumen yang dibuat dari batu-batu besar, tetapi juga perilaku masyarakatnya yang diejawantahkan dalam bentuk upacara religi. Dalam menjalankan upacara, masyarakat Ngada tidak segan-segan mengundang Bapa Pastor untuk memberkati hajatan yang sudah diniatinya. Sementara itu di Pulau Sumba, dalam trandisi penguburan raja upacara adat dengan menarik batu secara bergotong-royong selalu diberkati oleh seorang pastor.

Di Laut Flores, pada kala tertentu yang biasanya dilakukan pada bulan Mei sampai Oktober masyarakat nelayan Lembata melakukan tradisi perburuan ikan paus. Dalam perburuan tersebut tidak sembarang paus boleh diburu. Yang tidak boleh diburu antara lain ikan paus yang sedang bunting dan ikan paus yang misih anak.

 

Wela Ka’ba

Upacara Wela Ka’ba di Ngada, Flores (dok. Wahyu Saptomo)

Salah satu tempat di Nusantara yang misih berpegang pada tradisi megalit adalah di daerah Ngada, Flores. Di daerah itu banyak kampung yang meskipun penduduknya sudah beragama Katolik, namun tradisi megalit misih dijalankan. Beberapa upacara adat yang bernuansa tradisi prasejarah, khususnya tradisi megalit selalu melibatkan pastor untuk memimpin doa dalam upacara. Salah satu di antara upacara yang ada di Ngada adalah upacara penggantian (renovasi) tiang dan atap bangunan “ngadu”, sebuah bangunan suci di suatu kampung yang atapnya berbentuk kukusan terbalik.

Upacara Wela ka’ba di Dusun Paukate, Desa Kali Gejo, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, adalah serangkaian upacara yang puncaknya penggantian tiang dan atap ngadu yang ada di dusun ini. Sebelum upacara adat dimulai, terlebih dahulu upacara ini diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh seorang pastor. Dalam kebaktian ini pastor juga memerciki air suci beberapa obyek yang disakralkan oleh masyarakat setempat, termasuk ngadu. Selesai upacara kebaktian dilanjutkan dengan serangkaian upacara adat disertai dengan penyembelihan seekor kerbau yang darahnya kemudian dioles-oleskan pada tiang ngadu.

Bagian terakhir upacara adalah mengganti atap ngadu yang dibuat dari ilalang. Konon ilalang ini diambil dari tempat tertentu di sebuah tanah lapang yang ilalangnya khusus diperuntukkan bagi atap bangunan yang dianggap suci. Tidak boleh peruntukkannya bagi bangunan profane (rumah tinggal) yang memang banyak terdapat di kabupaten Ngada.

 

Tingu Watu

Tarik batu di zaman dulu (dok. Tropenmuseum)

Sumba dikenal sebagai daerah yang memiliki kebudayaan megalitik yang hidup sampai kini. Kira-kira 4500 tahun yang lampau kebudayaan megalitik ini menjadi suatu fakta sejarah bagi masyarakat Sumba. Batu-batu ini terbuat dari batu putih yang keras dan biasanya diperoleh dari pantai Tarimbang, karena itu disebut juga batu terimbang. Oleh masyarakat Sumba batu ini dipakai sebagai penji, tanda upacara penguburan. Batu yang dibuat datar ini ditempatkan di atas empat tiang batu dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Batu kubur mirip sebuah altar yang biasa disebut pandhusa atau dolmen dengan berat kurang lebih 40 – 70 ton.

Ritual Tingu Watu, Pulau Sumba (dok. www.tagar.id)

Untuk mendapatkan potongan batu besar ini, masyarakat Sumba mempunyai upacara Tingu Watu (tarik batu). Sebelum upacara ini dilangsungkan, pertama-tama mesti mendapat izin dari Marapu, arwah pemilik atau penjaga batu tersebut. Ada beberapa upacara yang dilakukan untuk mendapatkan izin dari “pemilik batu”. Pertama Ogo Watu, sebuah upacara pemotongan dari penggalian batu atau dari gunung. Imam Marapu akan memimpin upacara dengan mempersembahkan sesaji yang berupa ayam, beras dan sirih pinang kepada roh pemilik batu. Imam Marapu mohon agar para arwah leluhur merestui upacara penarikan batu supaya dapat berlangsung dengan baik.

Monumen makam raja Sumba di tengah kampung (dok. www.tagar.id)

Upacara kedua Tingu Watu (tarik batu). Ratusan bahkan kadang ribuan orang diperlukan untuk memindahkan batu yang ditarik dengan memberikan semangat lewat syair dan lagu-lagu adat. Upacara penarikan batu ini memerlukan banyak uang; pertama-tama untuk membeli batu dengan harga cukup mahal dan juga membeli binatang yang diperlukan untuk upacara dan lauk untuk orang banyak yang ikut ambil bagian dalam upacara ini. Dalam kegiatan ini tampak semangat gotong-royang dan toleransi di antara penduduk desa, tidak perduli apa agama atau ajaran yang dianutnya.

 

Musim Lefa di Laut Flores

Berada di tepi pantai Laut Flores, masyarakat di Lamalera, Pulau Lembata (dahulu disebut Pulau Lomblen), Provinsi Nusa Tenggara Timur melakukan aktivitas penangkapan ikan paus dan ikan besar lain dengan menggunakan peralatan serba tradisional. Peralatan dimaksud berupa layar, tali (yang dibuat dari benang kapas, daun gebang, dan serat kulit pohon waru), kafe yaitu tempuling atau harpoon, peledang (perahu) dari kayu, sampan, galah tempat menancapkan harpoon untuk menombak, alat untuk menggayung air, gentong air, maupun faye (alat untuk mendayung).

Pemberkatan Laut Flores, Lamalera (dok. www.mediantt.com)

Di tempat itu musim perburuan ikan-ikan besar, seperti ikan paus, pari, dan hiu dari berbagai jenis oleh masyarakat disebut sebagai musim lefa atau yang lebih dikenal dengan nama olanua (mata pencaharian). Proses ritual olanua dimulai sejak 1 Mei hingga 31 Oktober. Dengan masuknya agama Katolik pada tahun 1886 di Lamalera, prosesi ritual tradisi ini mendapat bentuk baru dengan upaya inkulturasi dari Gereja Katolik. Misalnya sebelum musim lefa atau olanua dimaknai dengan upacara misa di pantai, pemberkatan peledang oleh pastor, doa bersama, dan penggunaan air suci untuk kepentingan upacara bersih diri dari salah dan dosa.

Perburuan paus oleh dua peledang (dok. Twocountriesonecistern.blogspot.co.id)

Tradisi ini diawali dengan upacara misa dan ceremoti, upacara tradisional dimana seluruh komponen masyarakat Kampung Lamalera duduk bersama di pantai bermusyawarah untuk membicarakan seluruh persoalan kampung, persoalan perburuan dengan berbagai tahapan yang mesti dilaksanakan dalam perburuan itu. Upacara olanua ini menjadi unik dan demikian menarik karena rentetan upacara dan segala macam ritual adat dan agama Katolik. Perjumpaan kedua aspek ini menjadi begitu kental dan akrab dalam seluruh proses kehidupan masyarakat Lamalera.

Malam sebelum keesokan harinya mereka melaut, semua anggota suku yang memiliki perahu berdoa di rumah adat masing-masing. Mereka berbagi pengalaman dan mendengar petuah dari yang dituakan. Intinya masing-masing individu harus dapat menjaga ketenteraman, menjaga tutur kata, tidak boleh bertengkar dengan sesama, tetangga, dalam rumah tangga suami dan isteri, anak tidak ada perselisihan dan pertengkaran. Melanggar semua hal tersebut berarti kerja keras di laut tak membawa hasil. Masyarakat Lamalera meyakini bahwa hubungan antara yang di darat dan di laut merupakan hubungan sebab akibat. Keduanya saling mendukung dan saling menentukan. Atamole sebagai ahli pembuat peledang di darat memiliki peran sendiri yang berbeda dengan lamafa, juru tikam di laut. Salah, keliru, atau bahkan lalai membagi hasil tangkapan juga akan membawa dampak buruk terhadap proses penangkapan ikan. Karena itu masyarakat Lamalera sangat menjaga hubungan itu jangan sampai ternoda atau tercela.

Rasa toleransi dapat dikatakan sudah menjadi sifat dasar dari penduduk di Nusantara ini. Ketika masa sejarah rasa toleransi tumbuh dan “dipupuk” bersamaan dengan masuknya kehidupan beragama. Bahkan pada institusi kerajaan, rasa toleransi diwujudkan dalam bentuk struktur pemerintahan dan bangunan-bangunan suci. Dalam hal penyebaran agama, penguasa kerajaan turut membantu meskipun ada perbedaan agama. Di beberapa tempat di Nusantara, dimana tradisi Megalitikum misih berlanjut, rasa toleransi di antara kelompok masyarakat tampak jelas. Dalam usaha mencari nafkah di lautpun rasa toleransi tetap dijunjung tinggi. Akhirnya, kalau sejak dahulu kala kita sudah mempunyai modal rasa toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, mengapa sekarang harus “hilang” sejalan dengan lajunya arus modernisasi.

 

Bambang Budi Utomo

Kerani Rendahan

 

 

 

 

 

No Comments

Post A Comment